Bupati Tanahdatar Eka Putra yang hadir dalam acara ke-124 tersebut menyampaikan apresiasi serta rasa syukur atas kelestarian tradisi turun-temurun ini.
“Alek Kapalo Banda merupakan tradisi yang sudah ratusan tahun dan hingga saat ini terus dilakukan. Ini menunjukkan kekompakan, keharmonisan, dan semangat gotong-royong masyarakat yang tidak pudar tergilas zaman,” ujar Bupati Eka Putra saat acara yang digelar di halaman SDN 09 Batipuah Baruah.
Lebih lanjut, Eka Putra mengingatkan pentingnya tradisi lokal dalam memperkuat nilai kebersamaan dan menjaga moral generasi muda di tengah derasnya arus digitalisasi.
“Kemajuan era digital banyak tantangan bagi kita, karena sangat mudah mempengaruhi generasi muda. Melalui tradisi seperti ini, kita mengajak anak kemenakan untuk peduli dan mencintai warisan budaya,” tuturnya.
Bupati juga menyampaikan peran penting Niniak Mamak dalam mendampingi generasi muda agar tidak tergerus pengaruh negatif era digital.
Eka juga menyinggung program unggulan lemerintah daerah, yakni Satu Rumah Satu Hafiz/Hafizah yang bertujuan membentengi anak-anak dari pengaruh buruk serta menjadikan Tanahdatar sebagai kabupaten tahfiz yang melahirkan generasi cerdas, berkarakter, dan tangguh.
Sementara itu, Wali Nagari Batipuah Baruah, Mulyadi Bj, mewakili masyarakat menyampaikan terima kasih atas kehadiran bupati dan dukungan pembangunan jalan dari Pincuran Tujuh ke Gunung Bungsu, yang telah mempermudah akses masyarakat.
Ia mengusulkan pelebaran jalan dari Gunung Rajo menuju Pincuran Tujuh yang dinilai sempit dan menyulitkan kendaraan roda empat jika berpapasan.
Tokoh masyarakat setempat, A. Dt. Jo Labiah, menambahkan bahwa Alek Kapalo Banda merupakan bentuk ungkapan syukur atas sumber mata air di Pincuran Tujuh yang menjadi penopang kebutuhan air bersih dan pengairan lahan pertanian warga.
“Alek Kapalo Banda adalah warisan nenek moyang yang terus kami jaga. Tahun ini adalah yang ke-124 kali pelaksanaan,” ujarnya.
Ia juga berharap pemerintah dapat membantu pembangunan gedung serba guna dan menyediakan jaringan internet, karena wilayah Jorong Pincuran Tujuh hingga kini masih termasuk daerah blank spot.(*)
Editor : Heri Sugiarto