Mulai bulan Oktober 2025 ini, pemerintah kota menaikkan pajak wisata hingga dua kali lipat bagi wisatawan asing, sebagai langkah menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian budaya lokal.
Langkah ini diambil setelah data Kementerian Pariwisata Jepang menunjukkan peningkatan kunjungan wisatawan asing ke Kyoto hampir 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya, mendekati rekor tertinggi sebelum pandemi.
Pemerintah menilai, lonjakan wisatawan tersebut telah melewati kapasitas sosial dan lingkungan kota.
“Kyoto bukan museum yang bisa dibuka tanpa batas. Ini kota hidup dengan warga yang memiliki hak atas kenyamanan,” kata Wali Kota Kyoto, Daisaku Kadokawa, dikutip dari The Japan Times.
Ia menegaskan bahwa kebijakan pajak baru bukan bentuk pembatasan, melainkan alat pengendalian agar turisme berjalan berkelanjutan.
Kini, pajak wisata di Kyoto ditetapkan sebesar 2.000 yen per malam untuk setiap pengunjung asing yang menginap di hotel maupun penginapan lokal, naik dua kali lipat dari tarif sebelumnya.
Dana dari pajak ini akan dialokasikan untuk pengelolaan sampah, pelestarian situs warisan budaya, serta peningkatan fasilitas publik di kawasan wisata utama.
Kenaikan pajak ini justru mendapat dukungan luas dari warga lokal yang selama ini merasa terbebani oleh wisata massal.
Banyak di antara mereka mengeluhkan perilaku wisatawan yang tidak menghormati norma budaya, seperti berbicara keras di area kuil, mengambil foto tanpa izin, atau makan sambil berjalan di kawasan bersejarah.
Sebagai bekas ibu kota kekaisaran Jepang dengan lebih dari 1.600 kuil dan ratusan situs warisan dunia, Kyoto menjadi salah satu destinasi paling populer di dunia.
Namun, daya tarik ini juga membawa masalah: kemacetan parah, peningkatan sampah, dan tekanan terhadap infrastruktur lama yang belum sepenuhnya mampu menampung lonjakan wisatawan.
Baca Juga: Lembah Harau, Surga Tersembunyi di Limapuluh Kota yang Menyatukan Alam dan Kehidupan
Pemerintah kota menyebut kebijakan ini sebagai bagian dari rencana manajemen pengunjung terpadu.
Selain pajak, Kyoto juga akan membatasi jumlah pengunjung harian di kuil-kuil terkenal seperti Kiyomizu-dera dan Fushimi Inari Taisha, serta menerapkan sistem reservasi daring untuk mencegah penumpukan wisatawan.
Langkah Kyoto ini sejalan dengan kebijakan nasional Jepang yang menekankan pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism).
Pemerintah pusat mendorong setiap daerah untuk memperkuat pengelolaan wisata berbasis masyarakat, bukan sekadar mengejar jumlah kunjungan.
Meski beberapa pelaku industri pariwisata khawatir jumlah tamu akan menurun, data menunjukkan bahwa wisatawan berkualitas tinggi—yang tinggal lebih lama dan berbelanja lebih banyak—tidak terpengaruh signifikan oleh pajak tambahan.
Sejumlah pakar menilai langkah Kyoto sebagai model kebijakan baru di Asia. Profesor ekonomi pariwisata dari Waseda University menyebut kebijakan ini menandai perubahan paradigma, di mana Jepang tak lagi hanya mengejar angka, tetapi keseimbangan antara budaya dan ekonomi lokal.
Namun, pemerintah kota dihadapkan pada tantangan transparansi dan akuntabilitas. Dana pajak yang terkumpul harus digunakan dengan tepat agar benar-benar berdampak pada pelestarian budaya dan peningkatan kualitas hidup warga.
Selain itu, Kyoto juga meluncurkan kampanye edukasi “Respect Kyoto”, yang berisi panduan etika berwisata di kawasan tradisional.
Brosur multibahasa dibagikan di bandara, hotel, dan stasiun untuk meningkatkan kesadaran wisatawan agar menghormati nilai-nilai lokal.
Kini, banyak komunitas muda di Kyoto ikut terlibat menjaga kelestarian kotanya. Mereka mengadakan kegiatan sukarela seperti pembersihan area wisata dan pendampingan pengunjung untuk memastikan perilaku wisatawan tetap sesuai budaya Jepang.
Kebijakan ini menjadi simbol komitmen Kyoto untuk menegaskan identitasnya sebagai kota yang indah sekaligus bijak. Di tengah dunia yang semakin haus akan konten visual, Kyoto mengingatkan bahwa keindahan sejati tidak diukur dari banyaknya wisatawan, tetapi dari kemampuan menjaga maknanya tetap hidup di hati mereka yang datang.(cc5)
Editor : Hendra Efison