Laporan IRFAN R RUSLI, Limapuluh Kota—
Menurut cerita yang berkembang di tengah masyarakat, sumber air Batang Tabik diyakini berasal dari Danau Singkarak. Kepercayaan ini semakin menguatkan posisi Batang Tabik bukan sekadar pemandian biasa, melainkan bagian dari lanskap alam dan sejarah Minangkabau.
Hingga kini, pengelolaan kawasan pemandian Batang Tabik berada di bawah Kerpatan Adat Nagari (KAN) Sungai Kamuyang, yang menjaga keberlangsungan fungsi sosial dan adatnya.
Jejak sejarah Batang Tabik dapat ditelusuri hingga masa penjajahan Belanda. Pada masa itu, tempat ini dikenal sebagai satu-satunya pemandian umum di wilayah Luhak Limapuluh.
Tentara Belanda memanfaatkan mata air Batang Tabik sebagai sumber air minum sekaligus lokasi pemandian, karena kualitas airnya yang jernih dan sejuk. Sejak saat itu, Batang Tabik telah menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas masyarakat di sekitarnya.
Seiring waktu, fungsi Batang Tabik terus berkembang. Kini, selain menjadi destinasi rekreasi masyarakat Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota, Batang Tabik juga berperan sebagai salah satu sumber air utama Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Payakumbuh.
Dalam pengelolaannya, PDAM bekerja sama dengan pihak nagari untuk memastikan keberlanjutan sumber air sekaligus menjaga kepentingan masyarakat.
Keistimewaan Batang Tabik terletak pada debit airnya yang tidak pernah surut. Mata air ini mengalir terus-menerus tanpa terpengaruh musim, baik saat kemarau panjang maupun di tengah musim hujan.
Jumlah airnya tetap melimpah, mengalir deras dari sumber alami perbukitan, menjadi daya tarik utama pemandian ini sejak dahulu hingga sekarang.
Di kawasan Batang Tabik terdapat tiga kolam pemandian. Dua di antaranya telah dilapisi keramik untuk kenyamanan pengunjung, sementara satu kolam lainnya masih dibiarkan dalam kondisi alami.
Kolam alami ini dikenal oleh masyarakat sebagai “kolam ibu”. Di dalamnya, pengunjung dapat melihat ikan-ikan yang berenang bebas, menambah kesan alami dan menenangkan.
Pantauan Padang Ekspres di lokasi, kawasan pemandian tampak ramai dipadati pengunjung. Anak-anak bermain air dengan riang, sementara orang dewasa berenang atau duduk bersantai di tepi kolam. Meski ramai, suasana tetap terasa nyaman dengan nuansa alam yang masih kental dan udara yang sejuk.
Salah seorang pengunjung, Andi, 34, mengaku sengaja datang bersama keluarganya untuk menikmati suasana Pemandian Batang Tabik. Menurutnya, tempat ini memiliki kelebihan yang tidak dimiliki kolam renang buatan.
“Airnya dingin dan segar. Dari dulu tempat ini sudah terkenal. Kita berenang sambil menikmati suasana alam dan sejarahnya,” ujar Andi.
Hal senada disampaikan Rina, 27, yang datang bersama teman-temannya. Ia menilai Batang Tabik sebagai tempat rekreasi yang murah, sehat, dan sarat nilai budaya.
“Kalau ke sini rasanya beda. Airnya alami, tidak bau kaporit. Selain itu, tempatnya punya cerita sejarah dari zaman Belanda,” katanya.
Keberadaan Pemandian Batang Tabik tidak hanya berfungsi sebagai objek wisata, tetapi juga menjadi ruang sosial bagi masyarakat. Banyak warga memanfaatkannya sebagai tempat berolahraga, melepas penat setelah bekerja, hingga mempererat kebersamaan keluarga. Di sinilah interaksi sosial terjalin, dari generasi tua hingga anak-anak.
Meski telah berusia ratusan tahun, Batang Tabik tetap bertahan dan terus digunakan oleh masyarakat. Warga berharap pemandian ini tetap dijaga kelestariannya dan mendapatkan perhatian lebih dalam hal perawatan, agar nilai sejarah, fungsi sosial, dan kenyamanannya tetap terpelihara.
Sebagai salah satu situs bersejarah yang masih aktif dimanfaatkan hingga kini, Pemandian Batang Tabik menjadi bukti bahwa warisan masa lalu tidak harus menjadi kenangan semata. Ia dapat terus hidup, mengalir, dan memberi manfaat nyata bagi generasi masa kini dan yang akan datang. (*)
Editor : Adetio Purtama