Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Dewi Novita, Camat Yang Dicopot Usai Bikin Konten "Citayam Fashion Week"

Novitri Selvia • Kamis, 11 Agustus 2022 | 14:22 WIB
AMANAH: Serah terima jabatan Camat Akabiluru disaksikan Bupati Limapuluh Kota, Safaruddin Datuak Bandaro Rajo, kemarin.(DISKOMINFO LIMAPULUH KOTA UNTUK PADEK)
AMANAH: Serah terima jabatan Camat Akabiluru disaksikan Bupati Limapuluh Kota, Safaruddin Datuak Bandaro Rajo, kemarin.(DISKOMINFO LIMAPULUH KOTA UNTUK PADEK)
Baru sebulan ditetapkan sebagai Camat Terbaik Payakumbuh tahun 2022, Dewi “Centong” Novita justru dimutasi sebagai Sekretaris Satpol PP Damkar.

Diduga erat kaitannya dengan permintaan MUI Payakumbuh kepada wali kota agar menegur Dewi Novita yang membuat konten Tiktok ala-ala Citayam Fashion Week. Seperti apa sosok Dewi?

”TIDAK agak viral lagi. Tapi memang sudah viral. Galak kamu yo (kamu ketawa ya),” kata Dewi Novita yang akrab disapa Dewi Centong saat membalas pesan WhatsApp wartawan Padang Ekspres, Senin malam (8/8).

Perempuan kelahiran Payakumbuh, 14 Desember 1979 ini memang sedang viral di jagat media sosial. Ini terjadi setelah Dewi Centong lewat akun TikTok-nya, “curhat” soal pemberhentian dirinya sebagai Camat Payakumbuh Timur.

Dewi meyakini, dia diberhentikan sebagai camat, lalu dirotasi menjadi Sekretaris Satpol PP Damkar, karena komentar MUI Payakumbuh kepada Wali Kota Riza Falepi. MUI mengomentari Dewi yang membuat konten ala-ala Citayam Fashion Week.

Padahal, menurut Dewi, konten itu dibikinnya, bukan buat hiburan semata. Tapi juga untuk mempromosikan tenun balaipanjang yang diproduksi perajin Payakumbuh dan sudah digunakan desainer untuk ajang London Fashion Week.

”Saya bikin dua konten di Tiktok. Pertama, seragam PNS dengan jilbab sesuai PP Nomor 18 Tahun 2020. Kedua, pakai tenun balaipanjang. Tujuannya untuk memperkenalkan tenun balaipanjang yang sudah sampai ke London Fashion Week,” kata Dewi.

Dewi tidak habis pikir, kenapa kedua konten yang dibikinnya, dianggap melanggar norma. “Norma agama mana yang saya langgar? Kalau cara saya berpakaian dianggap salah, mungkin itu tergantung dari cara memandang ya,” kata Dewi yang fashionable itu.

Dewi masih bertanya dalam hatinya, mengapa ia dirotasi dari camat ke Sekretaris Satpol PP Damkar. Sementara baru sebulan sebelumnya, ia ditetapkan sebagai Camat terbaik Payakumbuh dan akan mengikuti lomba yang sama di tingkat provinsi.

”Pada dasarnya ya, rotasi dan mutasi di mana saja di Indonesia adalah biasa. Cuma, saya merasa kecewa, kenapa saya yang baru ditetapkan sebagai camat terbaik Payakumbuh 2022, justru diberhentikan saat hendak mewakili Payakumbuh ke tingkat Sumbar,” kata Dewi Novita.

Bagi Dewi yang alumni STPDN, dinobatkan sebagai camat terbaik adalah prestasi. Sebab tidak semua camat bisa dapat kesempatan ini. “Mungkin hadiahnya cuma sertifikat ya, tapi itu prestasi yang akan dikenang. Saya merasa kecewa saja diberhentikan saat saya sedang mewakili Payakumbuh ke Sumbar,” kata Dewi.

Mantan Camat Lamposi Tiga Nagari ini juga bertanya-tanya dalam hatinya, kenapa karena video atau komentar MUI kepada pimpinan daerah, dia langsung diberhentikan sebagai camat. Padahal, Dewi meyakini, tidak melanggar norma dan aturan apapun, terkait konten ala-ala Citayam Fashion Week yang dibuatnya di Jalan Soedirman, Simpang Benteng, Payakumbuh.

”Saya tidak melanggar apapun. Soal aturan berpakaian dinas, yang saya pakai dalam konten itu seusai dengan PP Nomor 18 Tahun 2020 tentang anjuran berjilbab ASN. Kalau jilbab menutup dada, memang persis seperti yang saya pakai itu dalam aturan,” tegas Dewi Novita.

Menurut Dewi, pengurus MUI tak bisa memaksa dirinya untuk memakai pakaian sesuai syariat islam. “MUI tak bisa memaksakan syariat Islam. Saya memakai jilbab sesuai aturan bernegara. Ini hak asasi Manusia loh,” katanya.

Dewi pun bertanya balik, norma agama mana yang dilanggarnya, sehingga konten yang dibuatnya dipersoalkan. “Di konten itu saya juga tidak melanggar aturan alu-lintas. Di video terlihat, arus lalin sedang tidak padat,” kata Dewi.

Kemudian, menurut Dewi, jika konten yang dibuatnya dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai Adat Basandi Syarak-Syarak Basandi Kitabullah. Menurut Dewi, hal itu tidak bisa dicampur adukkan.

“Saya juga heran, kenapa pimpinan tidak memanggil dulu atau memberi teguran? Tapi kalau ada teguran, tentu ada pelanggaran. Sementara, saya tidak melanggar aturan apapun. Kenapa pimpinan tidak arif. Saya tidak melakukan asusila. Tidak vulgar. Tapi tidak ada pimpinan yang menanyakan itu kepada saya,” kata Dewi Novita.

Mantan Kabid Tenaga Kerja dan Sekretaris Dinas Arsip ini juga heran, membaca komentar pimpinan daerah di media online yang seolah menyebutnya minim prestasi. Padahal, jelas-jelas Dewi meyakini, punya prestasi.

“Waktu saya jadi Kabid Tenaker, pemuda Payakumbuh untuk pertama kalinya bisa dikirim ke Jepang untuk magang kerja. Waktu ini pula, Payakumbuh menjalin kerja sama dengan PT Dekso di zaman Covid-19. Rasanya tidak fair juga kalau saya tidak punya prestasi. Toh pimpinan sendiri yang tandatanani SK saya sebagai camat terbaik,” kata Dewi Novita.

Dalam obrolan dengan Padang Ekspres, Dewi pun berharap kepada pemerintah daerah dan semua stakeholders agar tidak alergi dengan pegawai yang fashionable. “Pegawai yang fashionable sepanjang tidak norak dan masih dalam kaitan tidak vulgar mesti didukung. Baju yang saya pakai di konten itu baju longgar loh. Cuma saat dipakai pas di badan. Jangan semua dijadikan masalah,” kata Dewi.

Terkait anggapan tentang konten yang dibuatnya akan seperti Citayam Fashion Week yang awalnya menjadi tempat pertemuan anak-anak muda kalangan bawah, kemudian datang sekelompok LGBT. Menurut Dewi, itu nantinya menjadi tugas pemerintah dan ulama mengawasi.

“Jangan berpikiran sempit, kalau yang saya lakukan akan menimbulkan LGBT. Justru yang saya lakukan, untuk menumbuhkan kreativitas. Emang gak boleh berekspresi dan berkreasi,” kata Dewi.

Menyetujui Dewi, dalam konten yang dibuatnya, dia tidak sekadar menonjolkan busana. Tapi ada caption yang ditulisnya, bahwa Simpang Benteng adalah tempat bersejarah di Payakumbuh. Ada perlawanan terhadap penjajah Belanda di kawasan itu dulunya.

“Jadi saya mohon, konten itu dilihat secara utuh. Jangan dilihat dari sudut pandang yang sempit. Kota ini tidak akan pernah maju, jika tidak mau menerima perubahan,” kata Dewi Novita.

Dewi sendiri mengawali karirnya sebagai pejabat dengan menjadi Lurah Balaibaru, Payakumbuh Utara. Kemudian, Kasi Bina Usaha Investasi, Kasi Kepemudaaan, Kasi Promosi Pariwisata, Kabid Tenaga Kerja, Sekretaris Dinas Pustaka dan Arsip, Kabag Umum Sekretariat DPRD, Camat Lamposi Tigo Nagori dan Camat Payakumbuh Timur.

Dewi Novita mulai dijuluki Dewi Centong oleh teman-temannya sejak awal tahun 2010. “Centong itu katanya bahasa gaul. Artinya rancak dan cantik. Julukan teman-teman ini sempat saya jadikan nama butik saya,” kata Dewi Novita mengakhiri obrolan dengan Padang Ekspres. (*) Editor : Novitri Selvia
#Camat Terbaik Payakumbuh #MUI Payakumbuh #london fashion week #Camat Yang Dicopot #citayam fashion week #Dewi Novita #Dewi “Centong”