Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Sumbar Didorong Bangun Arena Pacuan Kuda Bertaraf Internasional

Syamsu Ridwan • Senin, 29 September 2025 | 12:15 WIB

POTENSI: Gelaran Indonesia’s Horse Racing Cup II di Payakumbuh, Minggu (28/9) berlangsung semarak. Para peserta dan penonton terlihat antusias menyaksikan gelaran tersebut.
POTENSI: Gelaran Indonesia’s Horse Racing Cup II di Payakumbuh, Minggu (28/9) berlangsung semarak. Para peserta dan penonton terlihat antusias menyaksikan gelaran tersebut.

PADEK.JAWAPOS.COM-Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi tuan rumah ajang pacuan kuda kelas dunia.

Namun, guna mewujudkan hal tersebut, Sumbar didorong untuk segera membangun arena pacuan kuda baru yang memenuhi standar internasional.

Dorongan ini disampaikan langsung oleh Ketua Pimpinan Pusat Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PP Pordasi), Aryo Purnomo Santoso, saat menghadiri konferensi pers Indonesia’s Horse Racing Cup II (IHRC) di Lapangan Tenis Kubu Gadang, Payakumbuh, Minggu (28/9).

Menurut Aryo, yang merupakan keponakan Presiden Prabowo Subianto, saat ini belum ada satu pun lintasan pacuan kuda di Sumbar yang memenuhi syarat untuk menggelar kejuaraan berskala internasional.

“Untuk bertaraf internasional, ada jarak dan lebar sirkuit yang harus dipenuhi, termasuk spesifikasi khusus pada starting gate,” jelas Aryo. “Oleh karena itu, Sumatera Barat membutuhkan lapangan pacuan kuda yang baru.”

Aryo merinci bahwa arena pacuan bertaraf internasional harus memiliki lintasan minimal sepanjang 1.400 meter, dengan starting gate yang mampu menampung 12 hingga 20 ekor kuda. Selain itu, terdapat standar khusus terkait komposisi pasir dan tanah pada lintasan.

Dari delapan arena pacuan kuda yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota di Sumbar, Lapangan Pacuan Kuda Sawahlunto dinilai paling mendekati spesifikasi yang dibutuhkan.

Namun, fasilitas penunjang seperti akomodasi penginapan masih menjadi kendala utama untuk menyambut peserta dan pengunjung dari mancanegara.

Sementara itu, Lapangan Pacuan Kuda Kubu Gadang di Payakumbuh, yang menjadi lokasi perdana IHRC di luar Pulau Jawa, dinilai layak untuk menggelar event tingkat nasional.

Arena ini memiliki lintasan sepanjang 900 meter, namun masih belum memenuhi standar internasional. Melihat potensi tersebut, Pordasi Pusat terus mendorong pembangunan arena baru yang memenuhi kriteria internasional di Sumbar.

Aryo, yang juga merupakan putra dari Hashim Djojohadikusumo, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan komunikasi intensif dengan Pemerintah Provinsi Sumbar.

“Saya tadi pagi juga berbicara serius dengan Wakil Gubernur. Insyaallah, dalam waktu dekat akan kita umumkan di mana lokasi pembangunan. Untuk kejuaraan bertaraf internasional, dibutuhkan lintasan atau lapangan yang benar-benar baru,” ungkap Aryo.

Ia juga menyebutkan bahwa Kota Padang menjadi kandidat kuat karena memiliki akses transportasi udara yang mudah dari Jakarta maupun dari luar negeri.

Selain itu, komunikasi juga dilakukan dengan Kementerian Pertahanan dan TNI terkait pemanfaatan lahan untuk pembangunan lintasan baru.

Catat Sejarah di Payakumbuh

Meskipun belum memiliki arena berstandar dunia, penyelenggaraan IHRC II di Payakumbuh dinilai mencatat sejarah baru dalam dunia olahraga berkuda di Sumbar.

Ketua Pordasi Sumbar, Deri Asta, yang juga menjabat sebagai Wali Kota Sawahlunto, menyampaikan apresiasinya atas kehadiran Ketua Umum Pordasi Pusat.

“IHRC yang digelar di sini menjadikan pacuan kuda di Sumatera Barat naik kelas,” ujar Deri Asta.

Event nasional ini juga berhasil menarik perhatian dari daerah lain. Deri menyebutkan bahwa setelah IHRC digelar di Payakumbuh, tujuh arena pacuan lainnya di Sumbar kini mengantre untuk menjadi tuan rumah pada tahun berikutnya.

Hal ini menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat terhadap olahraga pacuan kuda di Ranah Minang.

Wali Kota Payakumbuh, Zulmaeta, menyatakan kebanggaannya atas terpilihnya kota yang dipimpinnya sebagai lokasi event nasional. Ia menekankan bahwa pacuan kuda membawa dampak ekonomi yang luas.

“Pacu kuda bukan hanya soal adu cepat. Event ini membawa multi-efek yang menggerakkan ekonomi lokal. Banyak yang merasakan manfaatnya,” kata Zulmaeta.

Sementara itu, Aseanto Oudang, Co-Founder & CEO Sarga.co selaku promotor acara, mencatat keberhasilan IHRC II. Dalam dua hari penyelenggaraan, acara ini dikunjungi hampir 50.000 orang.

Indonesia’s Horse Racing Cup II diikuti oleh 67 ekor kuda dari berbagai provinsi di Indonesia. Mereka bertanding dalam 13 kelas, dengan total hadiah mencapai ratusan juta rupiah. (rid)

Editor : Novitri Selvia
#Kubu Gadang #Aryo Purnomo Santoso #arena pacuan kuda #pp pordasi