PADEK.JAWAPOS.COM-Aroma minyak panas dan ubi kayu yang digoreng menyambut aktivitas pagi di sebuah pabrik garumbuak sederhana di Payakumbuh.
Di tempat inilah ADR Bersaudara, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang telah berdiri lebih dari 25 tahun, terus memproduksi garumbuak, makanan khas daerah yang hingga kini masih diminati pasar.
PRODUKSI garumbuak di ADR Bersaudara dilakukan dengan cara yang masih sederhana. Ubi kayu diolah, digoreng hingga kering, dicetak, kemudian dikemas secara manual.
Proses tersebut dikerjakan setiap hari dengan pola kerja yang relatif sama sejak usaha ini dirintis. Konsisten rasa dan kualitas menjadi alasan produk ini tetap bertahan dan memiliki pelanggan tetap.
Pabrik kecil ini melibatkan warga sekitar dalam aktivitas produksinya. Mayoritas pekerja merupakan ibu rumah tangga yang sehari-hari bertugas menggoreng, mencetak, hingga mengepak garumbuak.
Bagi mereka, pekerjaan ini menjadi alternatif penghasilan yang dapat dijalani tanpa harus meninggalkan rumah terlalu lama.
Ruli, 26, pemilik ADR Bersaudara, menuturkan bahwa usaha ini dirintis oleh orang tuanya dari skala kecil.
Pada awal berdiri, produksi hanya dilakukan untuk memenuhi pesanan di sekitar Payakumbuh. Seiring waktu, permintaan mulai datang dari berbagai daerah lain di Sumatera Barat.
“Dulu orang tua mulai dari kecil, produksi seadanya. Sekarang, alhamdulillah, permintaan datang dari Pasaman, Padang, Pesisir Selatan, dan terutama Bukittinggi,” kata Ruli kepada Padang Ekspres, Rabu (17/12).
Saat ini, ADR Bersaudara mampu menghasilkan omzet belasan juta rupiah per bulan. Pada masa tertentu, seperti menjelang hari besar atau saat permintaan toko meningkat, omzet dapat mencapai sekitar Rp20 juta per bulan.
Produksi harian rata-rata mencapai satu tim garumbuak, dengan satu tim berisi 10 pak atau sekitar 120 biji garumbuak. Jumlah tersebut dapat bertambah apabila terdapat pesanan khusus dari toko-toko langganan.
“Kalau pesanan banyak, produksi juga kami tambah. Kami menyesuaikan dengan permintaan,” ujar Ruli.
Perkembangan usaha ini turut diikuti dengan penambahan tenaga kerja. Lebih dari 10 orang saat ini bekerja di pabrik garumbuak tersebut.
Seluruhnya berasal dari lingkungan sekitar pabrik, sehingga keberadaan ADR Bersaudara ikut membuka lapangan pekerjaan di tingkat lokal.
Salah seorang karyawan, Jumiarti,50, yang bertugas sebagai penggoreng garumbuak, mengaku terbantu dengan adanya pekerjaan tersebut. Selain dapat mengisi waktu luang, ia memperoleh penghasilan tambahan untuk kebutuhan keluarga.
“Saya bekerja di sini bisa mengisi waktu luang dan dapat uang tambahan. Alhamdulillah ada tambahan,” katanya.
Menurut Jumiarti, suasana kerja yang kekeluargaan serta lokasi pabrik yang dekat dari rumah membuatnya merasa nyaman. Hal itu memungkinkan dirinya tetap menjalankan aktivitas rumah tangga sambil bekerja.
Keberlanjutan ADR Bersaudara hingga kini juga ditopang oleh proses regenerasi pengelolaan. Usaha yang dirintis oleh orang tua kini dikelola oleh generasi berikutnya dengan tetap mempertahankan resep dan pola produksi yang telah dikenal pasar.
Di tengah berkembangnya produk makanan olahan modern, pabrik garumbuak ADR Bersaudara masih menjalankan proses produksi tradisional dengan melibatkan masyarakat sekitar.
Aktivitas tersebut berlangsung setiap hari, menjaga roda usaha tetap berputar dan garumbuak khas Payakumbuh terus hadir di berbagai daerah di Sumatera Barat. (Irfan R Rusli)
Editor : Novitri Selvia