Di sanalah Saidi setia meracik kalikih santan, minuman tradisional yang telah ia jual sejak 1968.
Lampu sederhana menerangi panci besar berisi rebusan gula merah dan santan.
Aroma khas mengepul perlahan, menjadi penanda kehangatan bagi siapa saja yang melintas dan singgah.
Kalikih santan buatan Saidi diracik dari air gula merah yang dimasak perlahan hingga mengental.
Santan kental ditambahkan untuk menghadirkan rasa gurih, dilengkapi potongan pepaya dan susu yang memberi ciri khas tersendiri.
Usaha ini dirintis Saidi dengan peralatan seadanya. Tanpa papan nama besar atau promosi khusus, ia mengandalkan konsistensi rasa dan kesabaran. Dari situlah kepercayaan pelanggan tumbuh dari waktu ke waktu.
Saidi membuka lapaknya hingga pukul 02.00 WIB. Waktu malam dipilih karena banyak warga mencari minuman hangat setelah beraktivitas seharian. “Kalau malam orang lebih butuh yang hangat,” ujar Saidi.
Bangunan tua di sekeliling lapak menjadi saksi perjalanan panjang usahanya.
Di tempat itu, Saidi menghabiskan sebagian besar malamnya selama lebih dari setengah abad. “Di sinilah saya cari hidup,” katanya singkat.
Pelanggan datang dari berbagai kalangan, mulai dari pekerja malam hingga anak muda.
Tak sedikit yang mengenal kalikih santan Saidi dari cerita orang tua mereka. “Banyak yang bilang, dulu ayah atau ibunya sering minum di sini,” tuturnya.
Resep yang digunakan hampir tak berubah sejak awal. Bahan baku dipilih dengan cermat agar cita rasa tetap terjaga. “Kalau rasa berubah, pelanggan pasti tahu,” ujarnya.
Di tengah maraknya minuman modern, kalikih santan tetap memiliki tempat tersendiri.
Kesederhanaan justru menjadi kekuatannya, menghadirkan rasa sekaligus suasana yang sulit tergantikan.
Bagi Saidi, kalikih santan bukan sekadar usaha. Dari lapak kecil itulah ia membesarkan keluarga dan menjalani kehidupan. “Semua dari jualan ini,” katanya lirih.
Kini, Saidi mulai dibantu keluarga untuk menjaga keberlangsungan usaha. Meski ada pembaruan dalam pelayanan, resep dan cara pengolahan tetap dipertahankan.
Di ujung malam Payakumbuh yang dingin, lapak kecil Saidi masih menyala. Asap hangat dari rebusan gula merah dan santan menjadi tanda ketekunan yang tak lekang oleh waktu. (CR8)
Editor : Hendra Efison