Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Tujuh Dekade Lontong Pical Upiak Karuik: Rasa yang Bertahan di Tengah Kota yang Terus Berubah

Irfan R Rusli • Rabu, 7 Januari 2026 | 18:01 WIB

Usaha Lontong Pical Legendaris Upiak Karuik di Payakumbuh. (Foto : Irfan/Padeks)
Usaha Lontong Pical Legendaris Upiak Karuik di Payakumbuh. (Foto : Irfan/Padeks)
PADEK.JAWAPOS.COM—Kota boleh berubah. Pasar bisa berpindah, bangunan dapat terbakar, dan zaman bergerak tanpa jeda.

Namun di Payakumbuh, ada satu rasa yang tetap bertahan: lontong pical Upiak Karuik.

Selama lebih dari tujuh dekade, kuliner ini menjadi penanda bahwa tidak semua hal harus berubah untuk terus hidup.

Usaha ini bermula pada 1950 dari tangan Jawanis Karuik, perempuan tangguh yang memilih berdagang sebagai jalan hidup.

Kala itu, tak ada kedai permanen dan tak ada papan nama. Jawanis berjalan kaki membawa dagangan, menyambangi sekolah, rumah sakit, dan setiap keramaian yang bisa ia jangkau. Dari dapur kecil yang sederhana, ia menopang penghidupan keluarga.

Awal 1980-an, Jawanis akhirnya memiliki kedai kecil di Pasar Payakumbuh. Namun harapan itu pupus ketika kebakaran besar melanda pasar dan menghanguskan seluruh lapak. Modal hilang seketika, usaha kembali ke titik nol.

Jawanis tidak berhenti. Ia memindahkan aktivitas jualan ke Pasar Ibuh, lalu menghadapi kenyataan baru: pembeli tak seramai di lokasi lama.

Dalam situasi itu, ia mengambil keputusan yang berani—mengikuti ritme ekonomi nagari dengan berdagang ke pasar-pasar (pokan) mingguan.

Setiap pekan, ia menumpang bus umum membawa lontong dan bumbu pical dalam jumlah besar menuju Pangkalan, Taram, Limbanang, Gaduik, dan pokan lain di Limapuluh Kota.

Perjalanan panjang, ongkos pas-pasan, dan dagangan yang harus ditenteng menjadi rutinitasnya.

“Selama ada orang makan, saya yakin lontong ini laku,” begitu keyakinan yang selalu ia pegang.

Pelan-pelan, keyakinan itu berbuah. Memasuki 1990-an, nama Jawanis Karuik makin dikenal.

Pembeli menanti kedatangannya setiap pekan, dan rasa yang konsisten membuat lontong pical itu melekat di ingatan banyak orang.

Pada 1994, usaha diwariskan kepada putrinya, Asnimar (62), yang kemudian akrab dipanggil Upiak Karuik.

Ia membuka kedai dan menjadikan lontong pical ini sebagai usaha tetap. Padahal saat itu, Asnimar tengah bekerja di lingkungan Pemko Payakumbuh dan berpeluang menjadi aparatur sipil negara.

Ia memilih jalan berbeda demi menjaga amanah keluarga. “Kalau rasa sudah dipercaya orang, itu amanah,” ujarnya suatu ketika.

Karena itu, baginya berdagang bukan sekadar mencari nafkah, tetapi menjaga warisan dan konsistensi rasa yang telah hidup puluhan tahun.

Perubahan kota kembali terjadi. Upiak Karuik membuka kedai di Jalan Sutan Usman No 18 kawasan belakang Asia Baru.

Kedai lama tetap bertahan dan kini dikelola adiknya. Dua lokasi berbeda, dua generasi, namun satu rasa yang sama—sebuah simbol keberlanjutan usaha keluarga di tengah dinamisnya kota.

Bagi pelanggan setia seperti Risna (64), rasa menjadi alasan utama untuk kembali.

“Rasanya tidak pernah berubah. Itu yang membuat saya selalu mencari lontong ini setiap pulang ke Payakumbuh,” katanya.

Sementara bagi generasi muda seperti Pan (29), lontong pical ini menjadi penghubung cerita keluarga.

“Ini bukan sekadar makanan, tapi cerita yang diturunkan,” ujarnya.

Menurutnya, kejujuran rasa membuat lontong pical Upiak Karuik tetap relevan di tengah maraknya kuliner modern.

“Rasanya tidak dibuat-buat, itu yang bikin orang kembali,” tambahnya.

Lebih dari tujuh dekade, lontong pical Upiak Karuik bertahan bukan karena mengejar tren, melainkan karena setia pada satu hal: rasa.

Di tengah kota yang terus berubah, kesetiaan itu membuat usaha kecil ini tetap menemukan tempatnya.(CR7)

 

Editor : Hendra Efison
#Lontong pical Upiak Karuik #Usaha kuliner legendaris #Kuliner Payakumbuh #Jawanis Karuik