Kawasan yang kini menjadi taman kota, sport center, dan sentra UMKM tersebut ramai dikunjungi warga setiap sore.
Anton (40), pedagang tebu yang berjualan di kawasan Taman Batang Agam, mengatakan mulai membuka usaha sejak kawasan itu diresmikan Wali Kota Payakumbuh saat itu, Riza Falepi.
Sebelumnya, ia bekerja serabutan dengan pendapatan tidak menentu. “Dulu saya kerja apa saja. Tapi sejak Batang Agam dibuka dan mulai ramai, saya melihat ada peluang,” ujar Anton, Minggu (18/1/2026).
Ia mulai berjualan setiap pukul 12.00 WIB hingga dagangannya habis menjelang Magrib.
Anton menjual potongan tebu dalam kemasan plastik seharga Rp3.000 per bungkus. “Alhamdulillah, dalam sehari bisa habis sekitar 100 bungkus,” katanya.
Menurut Anton, ramainya pengunjung pada sore hari menjadi pendorong utama penjualan.
Warga yang selesai jogging atau bersepeda banyak membeli tebu sebagai minuman segar.
Hal itu dibenarkan Dini (25), warga Payakumbuh yang rutin berolahraga di Batang Agam. “Setiap selesai jogging saya beli tebu. Murah dan segar,” ujarnya.
Pengunjung lain, Wawa (20), menilai keberadaan pedagang justru membuat kawasan Batang Agam semakin hidup.
“Sekarang bukan hanya tempat olahraga, tapi juga ada UMKM. Kita jadi betah,” katanya.
Anton berharap kawasan Batang Agam tetap dijaga kebersihan dan keamanannya agar pengunjung terus berdatangan.
“Kalau tempatnya bagus dan nyaman, orang pasti datang. Kami pedagang kecil ikut merasakan manfaatnya,” ujarnya.
Kawasan Batang Agam yang telah dinormalisasi menjadi ruang publik baru yang tidak hanya memperbaiki tata kota, tetapi juga menggerakkan perekonomian warga.(CR7)
Editor : Hendra Efison