Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Hari Kartini 2026, TP-PKK Payakumbuh Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi Keluarga

Hendra Efison • Rabu, 22 April 2026 | 22:28 WIB
Ketua TP-PKK Kota Payakumbuh, Eni Muis Zulmaeta.
Ketua TP-PKK Kota Payakumbuh, Eni Muis Zulmaeta.

PAYAKUMBUH – Peringatan Hari Kartini 2026 di Kota Payakumbuh dimaknai dengan langkah konkret pemberdayaan perempuan.

Ketua TP-PKK Kota Payakumbuh, Eni Muis Zulmaeta, mendorong pemanfaatan sampah sebagai sumber ekonomi baru bagi keluarga.

“Sampah bukan sekadar persoalan lingkungan, tapi peluang. Jika dikelola dengan baik, bisa menghasilkan nilai ekonomi,” ujar Eni saat ditemui di kediamannya, Selasa (21/4/2026).

Menurutnya, pemberdayaan perempuan tidak hanya berbicara soal emansipasi, tetapi juga aksi nyata yang berdampak langsung pada kesejahteraan keluarga.

Di Payakumbuh, konsep tersebut mulai diwujudkan melalui pengolahan sampah menjadi produk bernilai guna dan jual.

Baca Juga: Hari Kartini 2026, GOW Payakumbuh Salurkan Bantuan ke Pesantren, Panti Asuhan hingga Panti Jompo

Perempuan di berbagai kelompok dasawisma kini mulai mengelola limbah rumah tangga menjadi berbagai produk kreatif.

Selain membantu mengurangi beban lingkungan, aktivitas ini juga membuka peluang usaha baru.

“Yang sudah ada kita maksimalkan, baik dari sisi produksi, kualitas, maupun pemasaran,” katanya.

Pengembangan tidak berhenti pada pengolahan sampah anorganik. TP-PKK juga mendorong pemanfaatan sampah organik melalui budidaya maggot di kawasan Mancang Labu, Kelurahan Payobasung, Payakumbuh Timur.

Larva hasil pengolahan tersebut dimanfaatkan sebagai pakan alternatif ternak unggas. Inovasi ini dinilai mampu menekan biaya produksi peternak kecil yang selama ini didominasi oleh biaya pakan.

Baca Juga: Payakumbuh Sabet Penghargaan ITKP 2025, Bukti Tata Kelola Pengadaan Makin Transparan

“Biaya pakan bisa mencapai 60 hingga 70 persen dari total operasional. Dengan maggot, kita punya alternatif yang lebih ekonomis,” jelasnya.

Ketersediaan pakan mandiri ini juga mendorong keluarga untuk mulai beternak ayam secara sederhana, baik untuk kebutuhan telur maupun daging. Dari proses ini, terbentuk rantai ekonomi baru yang melibatkan berbagai sektor.

“Dari satu aktivitas, manfaatnya berlapis. Lingkungan jadi lebih bersih, ekonomi bergerak, dan masyarakat lebih mandiri,” ujarnya.

Selain itu, pengolahan sampah anorganik juga dikembangkan menjadi produk paving blok. Upaya ini tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.

Pemberdayaan perempuan turut diperkuat melalui sektor UMKM, khususnya kerajinan rajut.

Melalui pelatihan di tingkat dasawisma, perempuan menghasilkan berbagai produk seperti tas, dompet, dan pakaian.

Pada 2025, TP-PKK Payakumbuh bahkan menjalin kerja sama dengan The Sak untuk produksi 1.000 pouch setiap bulan.

Produk tersebut menggabungkan kearifan lokal dengan gaya modern, sehingga mampu menembus pasar internasional.

“Alhamdulillah, beberapa pengrajin sudah meraih omzet hingga puluhan juta rupiah, dan produknya sudah dipasarkan ke mancanegara,” ungkapnya.

Baca Juga: Pelatihan Vokasi Didorong Lebih Luas, Menaker Bidik Tenaga Kerja Siap Industri

Eni menilai, semangat Kartini masa kini tercermin dari kemampuan perempuan menciptakan perubahan dari hal sederhana.

Mulai dari pengolahan sampah, budidaya maggot, hingga pengembangan UMKM, semuanya berkontribusi pada penguatan ekonomi keluarga.

Ia juga melihat peluang Payakumbuh menjadi salah satu daerah pemasok kebutuhan ayam bagi wilayah sekitar, jika pengelolaan dilakukan secara berkelanjutan.

Lebih jauh, ia menekankan pentingnya kesadaran kolektif bahwa perubahan dapat dimulai dari lingkungan terdekat.

“Perempuan harus menjadi penggerak. Dari hal sederhana bisa lahir kekuatan besar yang memberi manfaat luas,” katanya.(*)

Editor : Hendra Efison
#TP PKK Payakumbuh #pengolahan sampah ekonomi #UMKM rajut Payakumbuh #budidaya maggot