PADEK.JAWAPOS.COM-Upaya menurunkan angka stunting di Kota Padang terus digencarkan. Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat (Pengabmas), Dosen Poltekkes Kemenkes Padang bersama Puskesmas Andalas melakukan pemberdayaan kader posyandu dan ibu balita dengan mengenalkan pemanfaatan tepung lele dan labu kuning sebagai sumber gizi lokal.
Kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam meningkatkan pengetahuan gizi keluarga serta mendukung pencegahan stunting di wilayah kerja Puskesmas Andalas.
“Stunting masih menjadi masalah kesehatan serius. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, prevalensi stunting di Kota Padang mencapai 24,2 persen. Melalui kegiatan ini, kami ingin meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya asupan gizi seimbang dari bahan pangan lokal seperti lele dan labu kuning,” ujar Ketua Tim Pengabmas Poltekkes Kemenkes Padang, Dr. Elsyie Yuniarti, SKM, MM, saat diwawancarai di sela kegiatan.
Tim Pengabmas dipimpin ketua, Dr. Elsyie Yuniarti, SKM,MM dengan anggota Sri Darningsih, S. Pd, M. Si Dan Ismanilda, S. Pd, M. Pd
Elsyie menjelaskan, tepung lele mengandung protein tinggi, asam lemak omega-3, vitamin D, B12, serta mineral penting seperti fosfor dan selenium yang berperan bagi pertumbuhan dan daya tahan tubuh anak.
Sementara itu, tepung labu kuning kaya beta-karoten sebagai sumber vitamin A dan serat yang membantu pencernaan serta menjaga kesehatan mata dan imunitas. Kombinasi kedua bahan tersebut dapat menjadi alternatif pangan bergizi tinggi dengan biaya terjangkau bagi keluarga.
Kegiatan Pengabmas ini dilaksanakan selama September hingga Oktober 2025 di empat kelurahan wilayah kerja Puskesmas Andalas, yaitu Kelurahan Jati, Andalas, Ganting Parak Gadang, dan Sawahan.
Kegiatan diikuti 120 peserta terdiri dari dosen, mahasiswa, tenaga pelaksana gizi Puskesmas Andalas, tenaga kesehatan pembina wilayah, kader posyandu, serta ibu balita.
Mereka mendapatkan pelatihan mengenai pengolahan pangan bergizi, sosialisasi pencegahan stunting, serta praktik pembuatan produk berbahan tepung lele dan labu kuning.
Menurut Elsyie, program ini diharapkan tidak berhenti pada pelatihan saja, tetapi dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh kader dan masyarakat.
“Kami berharap kader posyandu bisa menjadi penggerak di lingkungannya agar ibu-ibu balita mampu memanfaatkan bahan lokal bergizi dalam menu sehari-hari. Dengan begitu, kita dapat bersama-sama menekan angka stunting di Kota Padang,” pungkasnya.(tep)
Editor : Novitri Selvia