Pembelajaran Pendidikan Pancasila yang selama ini cenderung bersifat tekstual dan konvensional dinilai perlu direkonstruksi agar lebih kontekstual, partisipatif, dan bermakna bagi peserta didik. Salah satu pendekatan yang dinilai strategis adalah pemanfaatan teknologi imersif untuk memperkuat pemahaman dan internalisasi nilai-nilai Pancasila.
Menjawab tantangan tersebut, dosen Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Universitas Negeri Padang (UNP) bersama tim lintas bidang ilmu melaksanakan penelitian bertajuk “Pengembangan Aplikasi NURA (Nusantara Reality Adventure) Terintegrasi Augmented Reality dan Virtual Reality dalam Merekonstruksi Pembelajaran Pancasila melalui Cultural Responsive Teaching.”
Penelitian ini bertujuan mengembangkan aplikasi pembelajaran inovatif berbasis Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR) yang memadukan teknologi digital dengan pendekatan Cultural Responsive Teaching.
Melalui aplikasi NURA, pembelajaran Pancasila tidak hanya berfokus pada penyampaian konsep, tetapi juga dirancang untuk menghadirkan pengalaman belajar yang kontekstual, interaktif, dan berakar pada keberagaman budaya Nusantara.
Aplikasi ini memungkinkan peserta didik untuk memahami nilai-nilai Pancasila melalui pengalaman visual dan interaksi digital yang dekat dengan realitas kehidupan mereka sehari-hari.
Kegiatan penelitian dilaksanakan pada periode September hingga November 2025 di tiga sekolah, yakni SMA Nurul Ikhlas Tanah Datar, SMA Negeri 1 Padang, dan SMA Pembangunan Laboratorium UNP. Ketiga sekolah tersebut menjadi sekolah perdana yang menerapkan pembelajaran Pancasila berbasis integrasi teknologi AR dan VR melalui aplikasi NURA.
Ketua tim peneliti, Prof. Dr. Maria Montessori, M.Ed., M.Si. dari PPKn UNP, menyampaikan bahwa pengembangan aplikasi NURA merupakan upaya strategis untuk merekonstruksi pembelajaran Pancasila agar selaras dengan tantangan zaman.
Menurutnya, pembelajaran Pancasila perlu menghadirkan nilai-nilai kebangsaan secara kontekstual dan relevan dengan dunia peserta didik, tanpa meninggalkan akar budaya bangsa.
Respons positif ditunjukkan oleh pihak sekolah mitra, khususnya SMA Nurul Ikhlas Tanahdatar. Kepala sekolah, Riko Deris, menilai penerapan aplikasi NURA memberikan pengalaman baru dalam pembelajaran Pancasila, terutama di lingkungan sekolah berbasis pesantren.
Ia menyebutkan bahwa peserta didik menunjukkan antusiasme tinggi, lebih aktif mengikuti pembelajaran, serta memiliki motivasi belajar yang meningkat.
“Ini merupakan pertama kalinya pembelajaran Pancasila di sekolah kami menggunakan pendekatan teknologi AR dan VR. Ketertarikan siswa terlihat jelas selama proses pembelajaran berlangsung,” ujar Riko Deris.
Selama pembelajaran, siswa tampak aktif mengeksplorasi fitur-fitur dalam aplikasi NURA, terlibat dalam diskusi, mengajukan pertanyaan, serta mampu mengaitkan nilai-nilai Pancasila dengan konteks budaya dan kehidupan sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran berbasis teknologi imersif mampu mendorong partisipasi aktif peserta didik.
Hal serupa juga disampaikan oleh Kepala Sekolah SMA Pembangunan Laboratorium UNP. Ia menilai pembelajaran Pancasila berbasis AR dan VR melalui aplikasi NURA efektif dalam meningkatkan partisipasi dan minat belajar siswa.
Inovasi tersebut dinilai relevan dengan karakter peserta didik di era digital sekaligus mampu memperkuat pemahaman nilai-nilai Pancasila secara kontekstual.
Penelitian ini dilaksanakan oleh tim yang diketuai Prof. Dr. Maria Montessori, M.Ed., M.Si. (PPKn UNP), dengan anggota Dr. Hansi Effendi, S.T., M.Kom. dari bidang Teknik Elektro, Prof. Dr. Azwar Ananda, M.A. (PPKn UNP), serta asisten dosen Dita Permatasari Sitohang, S.Pd. (PPKn UNP).
Penelitian ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, berdasarkan Kontrak Pelaksanaan Penelitian Nomor: 088/C3/DT.05.00/PL/2025.
Melalui pengembangan aplikasi NURA, diharapkan pembelajaran Pancasila di tingkat sekolah menengah dapat direkonstruksi menjadi lebih inovatif, adaptif, dan bermakna, serta mampu menumbuhkan kesadaran kebangsaan, penguatan karakter, dan penghargaan terhadap keberagaman budaya Indonesia di kalangan generasi muda. (*)
Editor : Adetio Purtama