Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

CEO Lapau Pitih Raih Gelar Doktor Cumlaude di Usia 70 Tahun, Usulkan Model Pendidikan Karakter Berbasis Masjid

Randi Zulfahli • Selasa, 2 Juni 2026 | 20:26 WIB
Herry Zulman raih gelar Doktor Pendidikan Islam di usia 70 tahun dengan predikat cumlaude di UIN Imam Bonjol Padang, Selasa (2/6/2026). (Randi Z/Padeks)
Herry Zulman raih gelar Doktor Pendidikan Islam di usia 70 tahun dengan predikat cumlaude di UIN Imam Bonjol Padang, Selasa (2/6/2026). (Randi Z/Padeks)

PADANG, PADEK.JAWAPOS.COM — Saat banyak orang seusianya memilih menikmati masa pensiun, Herry Zulman justru menuntaskan pendidikan tertinggi. CEO Lapau Pitih Internasional PT Equator Valuta Asing itu resmi meraih gelar Doktor Pendidikan Islam dengan predikat cumlaude pada usia 70 tahun setelah mempertahankan disertasinya di Pascasarjana UIN Imam Bonjol Padang, Selasa (2/6/2026).

Kelulusan tersebut tidak hanya menjadi pencapaian akademik pribadi, tetapi juga melahirkan sebuah gagasan yang menurutnya penting bagi masa depan pendidikan di Sumatera Barat, yakni model pembentukan karakter siswa berbasis masjid sekolah.

Dalam sidang promosi doktor yang dipimpin Ketua Penguji Prof. Ahmad Wira, Herry Zulman dinyatakan lulus dengan IPK 3,83. Disertasinya memperoleh nilai A+ atau setara angka 95.

"Dengan kelulusan tersebut, Herry Zulman berhak menyandang gelar Doktor Pendidikan Islam dan tercatat sebagai doktor ke-426 yang diluluskan Pascasarjana UIN Imam Bonjol Padang," kata Prof. Ahmad Wira.

Baca Juga: PAD Sumbar Naik 11 Persen, Bapenda Sebut Kesadaran Bayar Pajak Kendaraan Makin Tinggi

Berangkat dari Keresahan terhadap Generasi Muda

Berbeda dari banyak penelitian yang berfokus pada aspek akademik, Herry Zulman memilih mengkaji persoalan karakter generasi muda.

Disertasinya berjudul Pola Pembentukan Karakter Berbasis Masjid Sekolah pada SMA Negeri di Kota Padang.

Menurutnya, perubahan sosial yang berlangsung cepat telah memunculkan tantangan baru dalam dunia pendidikan. Ia melihat nilai-nilai budaya dan keagamaan yang selama ini menjadi identitas masyarakat Minangkabau mulai menghadapi tekanan dari perkembangan zaman.

"Saya melihat banyak anak-anak mulai kehilangan identitas dan nilai-nilai yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat Minangkabau," ujarnya.

Kondisi tersebut mendorongnya melakukan penelitian selama tiga tahun untuk mencari pola pendidikan yang dapat memperkuat karakter peserta didik.

Baca Juga: PAD Kota Pariaman Cetak Rekor Baru Tembus Rp57 Miliar, Naik Hampir 13 Persen dalam Setahun

Masjid Sekolah Tidak Hanya untuk Salat

Salah satu temuan utama dalam penelitian itu adalah pentingnya mengoptimalkan fungsi masjid sekolah.

Menurut Herry Zulman, selama ini masjid di lingkungan sekolah lebih banyak digunakan sebagai tempat pelaksanaan ibadah. Padahal, fasilitas tersebut dapat dikembangkan menjadi pusat pembinaan karakter dan budaya belajar siswa.

Ia mengusulkan agar aktivitas pendidikan di sekolah terhubung dengan nilai-nilai yang tumbuh di lingkungan masjid sehingga pembelajaran akademik berjalan seiring dengan pembentukan karakter.

"Masjid tidak hanya menjadi tempat salat, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran dan pembentukan karakter peserta didik," katanya.

Melalui penelitian tersebut, ia juga merumuskan enam pola pembentukan karakter yang melibatkan keteladanan guru, budaya sekolah, pendampingan siswa, dan keterlibatan seluruh warga sekolah.

Baca Juga: Kintani Putri Meriahkan Pembukaan DCL 2026, Dharmasraya Padukan Olahraga dan Hiburan dalam Satu Panggung

Ingin Hasil Penelitian Diterapkan di Sekolah

Bagi Herry Zulman, keberhasilan meraih gelar doktor bukan tujuan akhir.

Ia berharap hasil penelitian yang telah disusunnya dapat diterapkan dalam sistem pendidikan, khususnya di Sumatera Barat. Karena itu, ia berencana menjalin komunikasi dengan Pemerintah Kota Padang dan Pemerintah Provinsi Sumbar agar konsep tersebut dapat diuji dan dikembangkan di sekolah-sekolah.

Menurutnya, pendidikan karakter tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah. Peran keluarga, masyarakat, dan pemerintah juga diperlukan untuk membentuk generasi yang memiliki integritas dan akhlak yang baik.

"Jangan sampai hasil penelitian ini hanya tersimpan di perpustakaan. Saya berharap konsep ini dapat diterapkan sehingga memberi manfaat nyata bagi dunia pendidikan," ujarnya.

Kelulusan Herry Zulman sebagai doktor pada usia 70 tahun menjadi catatan tersendiri di lingkungan Pascasarjana UIN Imam Bonjol Padang. Di balik capaian akademik tersebut, ia membawa sebuah pesan bahwa proses belajar tidak mengenal batas usia, sekaligus menawarkan gagasan tentang penguatan karakter generasi muda melalui peran masjid yang lebih aktif di lingkungan sekolah.(*)

Editor : Hendra Efison
#Herry Zulman #doktor usia 70 tahun #masjid sekolah #pendidikan karakter #UIN Imam Bonjol Padang