PADEK.JAWAPOS.COM — Guru dan institusi pendidikan mesti mengajarkan penggunaan kecerdasan buatan (AI) kepada siswa secara bijak. Pembelajaran harus memberikan penekanan kuat pada aspek etika, dampak sosial, dan potensi bias yang dibawa oleh teknologi tersebut.
Dalam sebuah diskusi panel yang diselenggarakan oleh Harvard Education Press pada Mei lalu, para pakar pendidikan memperingatkan bahwa ketergantungan berlebih pada AI dapat memicu fenomena berbahaya yang disebut never-skilling, yakni kondisi siswa sama sekali tidak pernah menguasai kemampuan dasar.
Associate Professor Teknologi Pendidikan di University of Delaware, Stephanie Smith Budhai, bersama Associate Professor Desain Pembelajaran dan Teknologi di Loyola University Maryland, Marie Heath, menjelaskan bahwa ancaman AI berdampak langsung pada kemampuan berpikir kritis siswa.
Penggunaan AI yang bertanggung jawab membutuhkan sikap skeptis yang sehat. Pendidik harus melawan euforia dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sulit.
“Apakah ini benar-benar sejalan dengan visi kita tentang pendidikan?” kata Heath. “Apakah ini bermanfaat bagi masyarakat, bukan hanya bagi orang-orang yang mengembangkan teknologi ini dan mengatakan kepada kita bahwa teknologi ini akan membawa perubahan besar?”
Budhai mengatakan bahwa program pendidikan guru harus mencakup pelatihan tentang bagaimana membantu siswa memeriksa dampak AI di dalam dan di luar kelas, termasuk dampaknya terhadap lingkungan. Ia menegaskan perlunya literasi AI yang kritis.
Namun, kata dia, pandangan ini bukan berarti anti-teknologi. Pendidik didorong untuk memikirkan pertanyaan yang lebih besar agar siswa dapat membangun kesadaran kritis tentang cara berinteraksi dengan AI, memahami cara kerjanya, serta benar-benar memahami bahaya di dalamnya.
Perbedaan Deskilling dan Never-Skilling pada Kemampuan Siswa
Para pendidik khawatir tentang ketergantungan siswa yang berlebihan pada AI dan kemungkinan dampaknya terhadap pemikiran kritis, pemecahan masalah, dan hubungan antarmanusia.
Ancaman tersebut bukan hanya pada keterampilan yang mungkin hilang dari siswa karena mereka menyerahkan penulisan esai dan tugas lainnya kepada mesin, melainkan berdampak lebih dalam.
Budhai menegaskan bahwa never-skilling jauh lebih menakutkan daripada deskilling. Dua kondisi penurunan kemampuan tersebut dibedakan menjadi:
-
Deskilling (Kehilangan Keterampilan): Kondisi di mana siswa kehilangan keterampilan yang sebenarnya sudah mereka miliki akibat terlalu mengandalkan AI.
-
Never-Skilling (Tidak Pernah Mengembangkan Keterampilan): Kondisi di mana siswa sama sekali belum pernah mempelajari atau menguasai keterampilan dasar tersebut sejak awal karena menyerahkan semua tugas ke mesin.
“Para siswa tidak tahu cara menulis ide pokok kalimat karena mereka meminta AI untuk membuat ide pokok kalimat,” kata Budhai, salah satu penulis buku “Critical AI in K–12 Classrooms”.
“Never-skilling berarti mereka tidak pernah mempelajari keterampilan tersebut karena mereka menggunakan AI untuk segalanya, sehingga mereka bahkan tidak memiliki keterampilan dasar.”
Temuan Eksperimen Bias Rasial dan Sosio-Ekonomi dalam Algoritma AI
Para penulis memfokuskan perhatian pada masalah bias, baik eksplisit maupun implisit, di dalam alat AI.
Dalam penelitian untuk buku “Critical AI in K–12 Classrooms”, mereka meminta rekomendasi buku dari AI untuk siswa SMA kulit hitam dan kulit putih.
Hasilnya menunjukkan adanya bias implisit, di mana daftar buku dan umpan balik (feedback) untuk siswa kulit hitam secara tidak proporsional lebih banyak membahas tentang kejahatan dan kemiskinan.
Dalam proyek penelitian terpisah, Heath juga mendeteksi bias ketika AI memberikan umpan balik pada karya tulis siswa. Melalui analisis komparatif, ditemukan bahwa perbedaan respons AI sangat dipengaruhi oleh persepsi kelas sosial ekonomi serta ras siswa.
“AI sarat dengan semua bias di masyarakat,” tegas Heath.
Mantan guru studi sosial sekolah menengah ini mengkhawatirkan dampak AI generatif yang memungkinkan manusia melakukan aktivitas tanpa hambatan (frictionless), sehingga mengurangi kebutuhan akan interaksi manusia dalam kehidupan sosial.
Menurut Heath, fenomena ini dapat memengaruhi fungsi demokrasi. Keberlangsungan demokrasi membutuhkan kemampuan masyarakat untuk bertahan dalam situasi yang tidak nyaman, serta memahami bagaimana rasanya berbeda pendapat dan tidak disetujui.
Salah satu hal yang dikorbankan ketika manusia beralih ke teknologi AI adalah hilangnya kemampuan untuk menghadapi dan berlatih mengelola ketidaknyamanan tersebut.
Solusi Penggunaan Teknologi yang Bertujuan
Sembari membagikan kesimpulan dari temuan riset mereka, Budhai dan Heath mengingatkan para pendidik untuk berhenti sejenak dan mempertimbangkan pertanyaan sederhana — mengapa? — sebelum menerapkan AI di ruang kelas.
Budhai memperkenalkan kerangka berpikir bernama purposeful technology use atau penggunaan teknologi yang bertujuan.
“Bagi orang-orang yang melatih guru untuk menggunakan teknologi, sangat penting untuk memiliki kerangka berpikir di mana setiap kali Anda menggunakan teknologi, itu harus memiliki tujuan,” kata Budhai.
Budhai selalu menekankan kepada para siswa untuk mempertimbangkan bagaimana teknologi tersebut membantu memenuhi tujuan pembelajaran.
Jika alat AI yang digunakan tidak membantu secara nyata untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, maka urgensi penggunaannya di dalam kelas patut dipertanyakan kembali.(*)