Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Diduga Illegal Logging: Pasca Banjir Rendam Palangai Gadang, 50 Jiwa Masih Mengungsi

Yoni Syafrizal • Jumat, 14 Maret 2025 | 14:15 WIB
Wakil Bupati Pessel, Risnaldi Ibrahim turun melihat pemukiman warga yang terdampak banjir. (dok.Yuskardi)
Wakil Bupati Pessel, Risnaldi Ibrahim turun melihat pemukiman warga yang terdampak banjir. (dok.Yuskardi)

PADEK.JAWAPOS.COM-Banjir yang diakibatkan oleh hujan deras yang terjadi Rabu (12/3) di Nagari Palangai Gadang, Kecamatan Ranah Pesisir, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), menyisakan banyak tumpukan kayu yang terbawa arus sungai Batang Pelangai di daerah itu.

Bahkan banjir tersebut membuat sekitar 60 unit rumah terdampak, yang diantaranya juga dipenuhi tumpukan kayu akibat ketinggian air mencapai 50 hingga 150 cm di pemukiman warga.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pessel, Novermal, mendesak pemerintah daerah dan aparat penegak hukum untuk menindak tegas praktik illegal logging tanpa pandang bulu di daerah itu.

Pernyataan tersebut disampaikan Novermal, sebab setelah banjir yang terjadi pada Rabu, 12 Maret 2025 itu, ditemukan banyak potongan kayu yang terbawa arus sungai, diduga berasal dari aktivitas penebangan liar di daerah hulu.

Menurutnya, maraknya illegal logging di wilayah tersebut telah menjadi salah satu penyebab banjir yang terus berulang. Selain merusak lingkungan, dampaknya juga berisiko terhadap keselamatan masyarakat.

"Hampir setiap terjadi banjir bandang, kita melihat potongan kayu bekas penebangan liar terbawa arus. Hampir seluruh daerah terdampak mengalami kondisi serupa," katanya.

Dia menegaskan pemerintah daerah dan aparat penegak hukum harus hadir secara nyata dalam menangani permasalahan itu. Menurutnya, pengawasan dan tindakan hukum harus dilakukan secara berkelanjutan dan tidak hanya sekedar wacana.

"Kami mendorong pemerintah daerah dan Polres Pessel untuk serius menindak pelaku illegal logging. Tidak boleh ada toleransi. Jika ini dibiarkan terus menerus, dampak bencana akan semakin parah di masa mendatang," kata Novermal lagi.

Eri Nofriandi 51, salah seorang warga yang terdampak banjir di Nagari Palangai Gadang menyampaikan kemarin (14/3) bahwa banjir yang terjadi pada Rabu 12 Maret 2025 itu lebih parah dari sebelumnya.

"Saat kejadian air begitu cepat datangnya. Ketika itu banyak rumah warga yang terdampak banjir, termasuk rumah orang tua saya sendiri," jelasnya.

Dia berharap terkait peristiwa itu pihak berwenang segera bertindak tegas terhadap para pelaku illegal logging.

"Ini kami sampaikan, karena sudah sering mengalami banjir seperti ini. Kalau setiap kali banjir ada potongan kayu yang hanyut, ini bukan lagi sekadar bencana alam, ini adalah ulah campur tangan manusia yang merusak hutan. Tolong, pemerintah dan penegak hukum jangan hanya diam," harpanya.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pessel, Yuskardi, ketika dihubungi Padang Ekspres kemarin (14/3) menjelaskan bahwa dia bersama pihak terkait lainnya sudah turun ke lokasi untuk melakukan upaya evakuasi terhadap warga yang terdampak.

"Kita sudah turun ke lokasi bersama Wakil Bupati Bapak Risnaldi Ibrahim, melihat kondisi warga yang terdampak. Setelah di lihat ke lapangan, banjir ini berasal dari saluran anak air Namo yang mengarah ke sungai Batang Palangai yang tersumbat karena banyaknya potongan-potongan kayu yang terbawa arus," jelasnya.

Karena tersumbat, sehingga luapannya mengarah ke pemukiman rumah warga dan mengakibatkan banjir yang disertai oleh potongan-potongan kayu berbagai ukuran.

"Ada sebanyak 102 kepala keluarga (KK) yang terendam banjir ketika itu. Namun dari 102 KK itu, sebanyak 50 orang atau 20 KK terpaksa mengungsi ke rumah keluarga karena rumahnya masih dipenuhi lumpur dan potongan kayu, yang saat ini sudah mulai dilakukan pembersihan," jelasnya.

Ditambahkan lagi untuk kebutuhan konsumsi 50 jiwa yang mengungsi itu, Dinas Sosial akan mendirikan dapur umum yang direncanakan besok, sebab saat ini pasokan kebutuhan makan dilakukan melalui penyediaan nasi bungkus oleh Dinas Sosial.

Dijelaskan lagi bahwa pihaknya melalui koordinasi Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUTR), akan menurunkan dua unit eskavator untuk melakukan pembersihan pemukiman warga dan saluran anak air Namo yang dipenuhi potongan kayu tersebut.

"Karena banyak potongan kayu yang menimbun jaringan anak air Namo ini, maka kita akan menurunkan eskavator sebanyak 2 unit. Sebab pembersihan secara manual sangat sulit dilakukan karena kayu-kayu kiriman banjir ini juga banyak yang besar, termasuk yang di pemukiman warga ini," jelasnya.

Terkait apakah itu sisa penebangan akibat illegal logging, Yuskardi, tidak bisa menyimpulkan.

"Yang kita lihat di lokasi, kayu yang terbawa oleh banjir ini merupakan kayu-kayu yang sudah lama rebah dan menumpuk di hulu sungai anak air Namo. Sehingga di saat hujan deras pada Rabu (12/3) itu hanyut terbawah arus. Apakah ini akibat illegal logging, saya tidak bisa mengatakan karena bukan ahlinya," jelas Yuskardi lagi. (yon)


Editor : Novitri Selvia
#Novermal #Yuskardi #Nagari Palangai Gadang #BPBD Pessel #illegal logging #banjir