Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Wabah Penyakit Ngorok Serang Kerbau Warga di Rahul Tapan

Yoni Syafrizal • Kamis, 19 Juni 2025 | 12:45 WIB

ANTISIPASI: Petugas Kesehatan Hewan (Keswan) dari Inderapura saat melakukan vaksinasi pada ternak kerbau milik warga di Kecamatan Ranah Ampek Hulu Tapan (Rahul Tapan).(DOK. DINAS PERTANIAN PESSEL)
ANTISIPASI: Petugas Kesehatan Hewan (Keswan) dari Inderapura saat melakukan vaksinasi pada ternak kerbau milik warga di Kecamatan Ranah Ampek Hulu Tapan (Rahul Tapan).(DOK. DINAS PERTANIAN PESSEL)

PADEK.JAWAPOS.COM-Dinas Pertanian Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) melalui Tim Kesehatan Hewan (Keswan) melakukan vaksinasi massal terhadap kerbau dan sapi milik warga di Kecamatan Ranah Ampek Hulu Tapan (Rahul Tapan).

Langkah cepat ini diambil menyusul merebaknya penyakit ngorok yang menyerang sejumlah hewan ternak.

Kepala Dinas Pertanian Pessel, Madrianto, Senin (17/6), mengungkapkan bahwa temuan kasus penyakit ngorok pada hewan ternak sudah terjadi sejak beberapa pekan terakhir.

Hingga saat ini, sedikitnya lima ekor kerbau milik warga di Kampung Kajai, Nagari Kampung Tengah, dan Kampung Sungai Gambir, Nagari Limau Purut, dilaporkan terinfeksi.

“Untuk penanganan awal, kami menurunkan petugas Keswan dari Inderapura. Penyakit ngorok atau secara medis disebut septicaemia epizootica ini sangat berbahaya dan menular, karena disebabkan oleh bakteri yang sudah masuk ke aliran darah hewan,” jelas Madrianto.

Ia menyebutkan, gejala yang muncul pada hewan ternak yang terinfeksi biasanya berupa suara dengkuran keras (ngorok), pembengkakan di bagian rahang bawah (mandibula), leher, hingga bawah dada. Dalam kasus yang parah, penyakit ini bisa menyebabkan kematian mendadak.

“Kerugian bagi peternak sangat besar. Ternak yang sakit biasanya tidak bisa diselamatkan, dan terpaksa dijual murah untuk dipotong. Karena itu, sebelum penyebaran makin luas, vaksinasi langsung kami lakukan, baik terhadap hewan yang terjangkit maupun hewan di sekitarnya yang masih sehat,” tambahnya.

Fungsional Medik Veteriner Dinas Pertanian Pessel, drh Indosrizal, menjelaskan bahwa penyakit ngorok disebabkan oleh bakteri Pasteurella multocida. Bakteri ini menyebabkan infeksi akut maupun kronis, dengan gejala dan dampak yang sangat berat.

“Penanganannya harus cepat dan sesuai SOP. Untuk kasus kali ini, vaksinasi dilakukan pada ternak yang masih sehat agar penyebaran bisa ditekan. Kami juga memberikan pengobatan simptomatik pada hewan yang sudah terpapar,” jelas drh Indosrizal saat dihubungi.

Menurutnya, penyakit ngorok memiliki tiga bentuk gejala, yakni bentuk busung, pektoral, dan intestinal (pencernaan). Bentuk busung ditandai dengan pembengkakan pada bagian kepala, leher, gelambir, dan kaki depan.

Bentuk pektoral melibatkan peradangan pada tenggorokan dan paru-paru (bronkopneumonia), dengan gejala awal batuk kering dan nyeri, biasanya berlangsung selama 1 hingga 3 minggu. Bentuk intestinal merupakan kombinasi dari bentuk busung dan pektoral, yang umumnya bersifat lebih parah.

“Tingkat kematian akibat penyakit ini sangat tinggi, bisa mencapai 90 persen. Prosesnya berlangsung cepat, rata-rata hanya dalam tiga hari. Sebelum mati, hewan biasanya mengalami gangguan pernapasan, sesak napas, suara ngorok merintih, dan gigi gemeretak,” ujarnya.(yon)

Editor : Novitri Selvia
#penyakit ngorok pada ternak #Dinas Pertanian Pessel #Rahul Tapan #Madrianto