Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

200 Hektare Lahan Rusak masih Penanganan

Putra Susanto • Sabtu, 2 Mei 2026 | 09:15 WIB
Sejumlah pejabat pusat bersama Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah dan Bupati Agam Benni Warlis meninjau lahan sawah rehabilitasi yang telah kembali ditanami usai gerakan tanam serentak nasional seluas 50 hektare di Nagari Kotokaciak, Kamis (30/4). (PUTRA/PADEK)
Sejumlah pejabat pusat bersama Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah dan Bupati Agam Benni Warlis meninjau lahan sawah rehabilitasi yang telah kembali ditanami usai gerakan tanam serentak nasional seluas 50 hektare di Nagari Kotokaciak, Kamis (30/4). (PUTRA/PADEK)

PADEK.JAWAPOS.COM - Pemulihan sektor pertanian pascabanjir bandang di Kabupaten Agam masih berpacu dengan waktu. Di tengah ribuan hektare sawah yang tertimbun material, pemerintah daerah mengajukan kebutuhan mendesak berupa 20 unit ekskavator agar lahan petani bisa segera diselamatkan.

Bupati Agam, Benni Warlis, menegaskan alat berat menjadi kunci utama percepatan pemulihan. Tanpa itu, material longsor yang menimbun sawah tidak mungkin dibersihkan secara manual.

“Kita butuh minimal 20 unit alat berat, selain dimanfaatkan untuk membersihkan material banjir bandang yang masih banyak menumpuk, juga untuk siaga di titik rawan. Jika terjadi longsor, bisa langsung ditangani agar lahan tidak kembali rusak,” ujarnya, Kamis, (30/4).

Saat ini, sekitar 1.700 hektare lahan pertanian di Agam terdampak bencana. Dari jumlah itu, 311 hektare sudah berhasil dipulihkan dalam satu bulan terakhir dan kembali siap ditanami. Namun, pekerjaan besar masih tersisa.

Sekitar 200 hektare lahan rusak sedang masih dalam proses penanganan, sementara 1.000 hektare lainnya masuk program optimalisasi lahan. Di sisi lain, 200 hektare lahan rusak berat bahkan dinyatakan hilang dan membutuhkan solusi jangka panjang.

“Yang rusak berat tidak akan kita biarkan. Kita carikan solusi, termasuk kemungkinan penggantian atau penataan ulang lahan,” tegasnya.

Usulan ekskavator tersebut disampaikan langsung ke Kementerian Pertanian sebagai bagian dari strategi percepatan pemulihan. Rencananya, alat berat akan disebar ke 16 kecamatan, dengan prioritas tambahan di kawasan rawan seperti Tanjungraya.

Selain alat berat, Agam juga mengajukan berbagai kebutuhan pendukung, mulai dari rehabilitasi sawah, perbaikan irigasi, hingga bantuan alat mesin pertanian seperti hand traktor, cultivator, hingga sprayer.

Sebelumnya, pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian telah menggelontorkan Rp 29,08 miliar untuk perbaikan infrastruktur pertanian di Agam pada 2026. Dana itu digunakan untuk rehabilitasi ratusan hektare lahan, pembangunan irigasi, hingga penguatan sarana pendukung lainnya.

Meski progres awal dinilai cukup menggembirakan, tantangan di lapangan masih besar. Material banjir bandang yang menumpuk tebal di areal persawahan menjadi hambatan utama

Tanpa intervensi alat berat dalam jumlah cukup, pemulihan dikhawatirkan berjalan lambat dan berisiko mengganggu musim tanam berikutnya.

“Kami berharap dukungan pusat bisa mempercepat pemulihan. Ini bukan hanya soal lahan, tapi juga menyangkut ekonomi dan harapan hidup petani,” tutup Benni. (ptr)

Editor : Adriyanto Syafril
#Kementan percepatan tanam #lahan sawah #kementan