PADEK.JAWAPOS.COM - Cuaca ekstrem yang melanda Kabupaten Limapuluh Kota sejak 12 Mei 2026 memicu bencana hidrometeorologi di sejumlah wilayah.
Intensitas hujan tinggi menyebabkan banjir, tanah longsor, jalan amblas, pohon tumbang, hingga meluapnya sejumlah sungai, termasuk Batang Sandir yang merusak areal pertanian warga, lubuk ikan larangan, serta jaringan air bersih masyarakat.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Limapuluh Kota, Zaimar Hakim, mengatakan bencana terjadi pada Rabu (13/5) sekitar pukul 07.30 dan berdampak pada sedikitnya tujuh kecamatan, yakni Harau, Situjuah Limo Nagari, Lareh Sago Halaban, Luak, Akabiluru, Payakumbuh, serta Bukit Barisan.
“Akibat cuaca ekstrem yang terjadi sejak 12 Mei, terjadi banjir dan longsor serta gerakan tanah di beberapa wilayah di Kabupaten Limapuluh Kota,” kata Zaimar Hakim. BPBD mencatat sejumlah nagari terdampak, di antaranya Nagari Sarilamak, Taram, Tungka, Situjuah Ladang Laweh, Halaban, Tanjuang Haro Sikabu-kabu Padang Panjang, Sariak Laweh, Koto Baru Simalanggang, hingga Banja Loweh.
Di Nagari Sarilamak, pohon tumbang serta meluapnya Batang Bulua Kasok menyebabkan air naik hingga ke badan jalan di Jorong Bulua Kasok. Sementara di Nagari Taram, meluapnya Batang Sinama merendam lahan pertanian warga di Jorong Tanjuang Kubang dan rumah masyarakat di Jorong Subarang
Longsor juga terjadi di Nagari Tungka. Material longsor menyebabkan badan jalan terban di Jorong Taratak dan Jorong Sialang. Selain itu, longsor turut mengakibatkan lahan pertanian rusak dan halaman rumah warga amblas di Jorong Dalam Nagari.
Di Nagari Situjuah Ladang Laweh, longsor menimbun badan jalan serta menyebabkan amblasnya ruas jalan di Jorong Ateh dan Jorong Bawah. Kondisi tersebut sempat mengganggu akses masyarakat.
Bencana banjir juga melanda Nagari Halaban. Air merendam rumah warga dan merusak jaringan irigasi pertanian di Jorong Lompek. Sedangkan di Nagari Tanjuang Haro Sikabu-kabu Padang Panjang, banjir merendam rumah warga dan menghambat akses jalan di Jorong Tanjung Haro.
Tidak hanya itu, meluapnya Batang Pilola turut merendam lahan pertanian warga di Jorong Parumpuang, Nagari Koto Baru Simalanggang. Sementara longsor di Nagari Banja Loweh menyebabkan badan jalan tertimbun material dan jalan terban di Jorong Jambak.
Bencana hidrometeorologi juga diperparah dengan meluapnya Sungai Batang Sandir di Jorong Sawahlaweh, Nagari Tungkar, Kecamatan Situjuah Limo Nagari.
Sungai yang berhulu di Kabupaten Tanahdatar dan bermuara ke Batang Agam Payakumbuh itu meluap sejak Rabu (13/5/2026), bersamaan dengan hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut. Hingga Jumat (15/5), debit air sungai yang dikenal warga sebagai Batang Aia Pondam itu masih tinggi, deras, dan berwarna cokelat.
Penjabat Wali Nagari Tungkar, Syafriwan, menyebut luapan Batang Sandir memutus jaringan pipa Pamsimas yang mengaliri ratusan rumah penduduk. Selain itu, banjir juga merusak lubuk ikan larangan Pokmawas Pondam serta merendam areal persawahan masyarakat, termasuk padi yang siap dipanen.
Dua petani terdampak, Efa dan Yusni Ancok, berharap adanya bantuan dari pemerintah setelah sawah garapan mereka rusak diterjang banjir. “Seminggu lagi, padi di sawah kami mau dipanen. Tapi mau bilang apa. Datang banjir. Habis semua,” ujar Efa dan Yusni Ancok.
Selain luapan Batang Sandir, hujan deras pada Rabu malam juga memicu bencana di tiga jorong di Nagari Tungkar, yakni Jorong Taratak, Jorong Sialang, dan Jorong Dalam Nagari. Akibatnya, jalan kabupaten mengalami kerusakan, jalan pertanian tertimbun longsor, dan halaman rumah warga amblas.
Anggota DPRD Limapuluh Kota, M. Fajar Rillah Vesky, yang meninjau langsung lokasi kejadian meminta pemerintah daerah segera menetapkan status tanggap darurat. Menurutnya, bencana yang meluas di berbagai kecamatan telah mengganggu kehidupan dan mata pencaharian masyarakat serta membutuhkan penanganan cepat dan memadai.
“Pemkab Limapuluh Kota harus segera menetapkan status tanggap darurat, untuk melegalisasi penggunaan Biaya Tak Terduga (BTT) sebesar Rp2,5 miliar yang terdapat dalam pos belanja APBD 2026. Sekaligus untuk memobilisasi bantuan dari berbagai pihak, seperti BNPB, Pemprov Sumbar dan BWS Sumatera V,” kata Fajar Vesky.
Terkait luapan Batang Sandir yang merusak areal pertanian dan sarana air bersih masyarakat, Fajar mengaku telah berkoordinasi dengan Bupati dan Pemkab Limapuluh Kota serta melaporkan kejadian tersebut kepada anggota DPR RI Zigo Rolanda dan BWS Sumatera V di Padang. Ia mengingatkan, dua tahun lalu Sungai Batang Sandir pernah dinormalisasi oleh BWS Sumatera V.
“Area yang dinormalisasi BWS Sumatera V dua tahun lalu masih dibilang aman dari luapan Sungai Batang Sandir. Sedangkan yang belum dinormalisasi menimbulkan kerusakan parah. Karenanya, kita berharap kembali bantuan BWS Sumatera V untuk menormalisasi Batang Sandir, karena ini tentunya juga untuk mengamankan normalisasi Batang Agam Payakumbuh yang sedang berlangsung,” ujarnya.
Zaimar Hakim menambahkan, BPBD bersama unsur terkait telah melakukan koordinasi dengan pemerintah nagari, pengecekan lapangan, serta pembersihan material longsor, banjir, dan pohon tumbang di sejumlah titik terdampak.
“Material longsor sudah dibersihkan dan arus kendaraan telah kembali normal di beberapa lokasi. Namun untuk jalan amblas sudah kami koordinasikan dengan Dinas PUPR untuk penanganan lebih lanjut,” ujarnya.
BPBD juga masih melakukan pemantauan intensif mengingat potensi cuaca ekstrem masih dapat terjadi. Selain itu, pihaknya berkoordinasi dengan Dinas Pertanian untuk mendata lahan pertanian terdampak dan menghitung estimasi kerugian masyarakat.
Dalam laporan BPBD, tidak terdapat korban meninggal dunia, hilang, maupun luka-luka akibat bencana tersebut. Namun sejumlah warga terdampak dan sempat terisolasi akibat akses jalan terganggu.
Saat ini, kebutuhan mendesak di lokasi bencana berupa alat berat untuk mempercepat pembersihan material longsor dan penanganan jalan amblas. BPBD juga mengimbau masyarakat yang tinggal di daerah rawan banjir dan longsor agar meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi berlangsung dalam waktu lama. (*)
Editor : Adriyanto Syafril