Peningkatan jumlah peziarah yang datang dari berbagai daerah membuat omzet para pedagang musiman ini melonjak signifikan.
Tradisi ziarah menjelang bulan suci Ramadhan telah menjadi fenomena tahunan yang membawa dampak ekonomi positif bagi masyarakat sekitar TPU Tunggul Hitam.
Para pedagang bunga rampai, yang mayoritas merupakan warga setempat, memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan pendapatan mereka.
Teti Sumanti (54), salah seorang pedagang yang telah bertahun-tahun menekuni usaha ini, mengungkapkan bahwa pendapatannya meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan hari biasa.
"Di hari normal, penghasilan kami dari pagi hingga sore hanya sekitar Rp200 ribu. Namun, menjelang Ramadan seperti sekarang, bisa mencapai Rp400 hingga Rp500 ribu per hari," tuturnya saat ditemui padek.jawapos.com di lokasi Minggu (23/2/2025) sore.
Peningkatan pendapatan ini tidak terlepas dari membludaknya jumlah peziarah yang datang dari berbagai wilayah, baik dari Kota Padang maupun luar daerah. Para peziarah yang mengunjungi makam kerabat mereka umumnya membeli bunga rampai sebagai bagian dari tradisi ziarah.
Para pedagang bunga rampai di TPU Tunggul Hitam tidak hanya menjual bunga rampai, tetapi juga menawarkan produk pelengkap seperti air mawar dan air mineral untuk memenuhi kebutuhan para peziarah. Strategi penetapan harga yang terjangkau juga menjadi kunci kesuksesan para pedagang.
"Kami menjual satu kantong bunga rampai seharga Rp5.000, dan memberikan harga khusus Rp10.000 untuk pembelian tiga kantong," jelas Teti. Komposisi bunga rampai yang dijual terdiri dari bunga mawar, kenanga, melati, dan daun pandan, yang memberikan aroma khas dan makna tersendiri dalam tradisi ziarah.
Meskipun permintaan meningkat, para pedagang menghadapi tantangan dalam memperoleh bahan baku, terutama bunga mawar.
"Menjelang Ramadan, harga bunga mawar di pasaran bisa mencapai Rp3.000 hingga Rp4.000 per tangkai, naik dari harga normal Rp1.000 di kebun," ungkap Teti.
Para pedagang mendapatkan bahan baku dari berbagai sumber, termasuk kebun pribadi dan Pasar Raya Padang. Strategi keberagaman sumber pasokan ini membantu mereka mempertahankan ketersediaan produk di tengah lonjakan permintaan.
Sementara itu, kesuksesan para pedagang bunga rampai menarik minat warga sekitar TPU Tunggul Hitam untuk ikut berjualan. Nedya Afrial (41), mengaku dapat menjual 40-50 kantong bunga rampai per hari.
"Melihat ramainya peziarah, saya memutuskan untuk ikut berjualan. Lokasinya strategis karena dekat dengan rumah, dan hasilnya cukup menggembirakan," ungkap Nedya.
Marni (63), peziarah yang rutin membeli bunga rampai di TPU Tunggul Hitam, mengapresiasi keberadaan para pedagang yang memudahkan ritual ziarahnya.
"Setiap tahun saya selalu membeli bunga rampai di sini untuk dibawa ke makam orang tua. Tahun ini pedagangnya semakin banyak, memberikan lebih banyak pilihan bagi peziarah," ujarnya.
Puncak aktivitas penjualan bunga rampai diprediksi akan terjadi pada 28 Februari 2025, sehari sebelum awal Ramadhan yang diperkirakan jatuh pada 1 Maret 2025. Para pedagang berharap dapat memaksimalkan momentum ini untuk meningkatkan pendapatan mereka. (*)
Editor : Hendra Efison