Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Kuliner Tradisional Indonesia Sarat Makna Filosofis, Ini Deretan Simbol Budayanya

Randi Zulfahli • Rabu, 11 Juni 2025 | 12:09 WIB

Makanan tradisional Indonesia seperti Rendang dari Sumbar. (Instagram Kemenpar RI)
Makanan tradisional Indonesia seperti Rendang dari Sumbar. (Instagram Kemenpar RI)
PADEK.JAWAPOS.COM – Kuliner tradisional Indonesia tak hanya kaya rasa, tapi juga sarat makna filosofis yang mencerminkan nilai budaya dan pandangan hidup masyarakat setempat.

Sejumlah makanan khas dari berbagai daerah bahkan menjadi simbol harapan, persatuan, hingga ketekunan dalam menjalani kehidupan.

Salah satunya adalah Lanthing, camilan khas Kebumen, Jawa Tengah, berbentuk angka delapan. Bentuk ini dipercaya sebagai lambang keberuntungan dan aliran kehidupan yang tidak terputus.

“Lanthing mengajarkan kita untuk terus bergerak dan tidak menyerah dalam menghadapi tantangan,” ujar Budayawan Kebumen, Supriyadi, dalam keterangannya, Rabu (11/6/2025).

Di Makassar, Sulawesi Selatan, terdapat Bannang-Bannang, kudapan manis berbentuk seperti benang kusut yang kerap disajikan dalam acara pernikahan. Makanan ini menggambarkan dinamika rumah tangga yang penuh lika-liku namun tetap terjalin erat.

“Bentuk benangnya melambangkan harapan agar pasangan tetap bersatu menghadapi rintangan,” jelas pakar budaya Sulawesi Selatan, Nurhidayah Daeng.

Masyarakat Batak Toba di Tapanuli Utara memiliki hidangan adat bernama Dekke Naniura, ikan segar yang diolah tanpa api. Makanan ini melambangkan kesucian, kemurnian, dan ketulusan.

“Tanpa proses memasak dengan api, Dekke Naniura menunjukkan bagaimana masyarakat Batak menghargai bahan baku alami,” tutur Antropolog Universitas Sumatera Utara, Dr. Saut Manullang.

Kembali ke Makassar, kuliner lain yang tak kalah filosofis adalah Barongko, kue pisang yang dibungkus daun. Simbol kejujuran menjadi inti dari makanan ini, karena bentuk luar yang sederhana sejalan dengan isi yang lezat.

“Barongko mengajarkan bahwa keindahan sejati berasal dari dalam diri,” kata Nurhidayah.

Sementara itu, kuliner legendaris Rendang dari Minangkabau, Sumatera Barat, menyimpan filosofi sosial yang kompleks. Setiap bahan mewakili struktur masyarakat Minang: daging untuk pemimpin adat, kelapa untuk cendekia, cabai untuk ulama, dan rempah-rempah untuk rakyat.

“Rendang adalah cerminan harmoni sosial yang sangat khas Minangkabau,” ungkap Sejarawan Kuliner, Yunita Ramadhani.

Dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, Cenil hadir sebagai simbol persaudaraan. Teksturnya yang kenyal dan lengket menyiratkan makna kekompakan yang kuat.

“Cenil mengajarkan kita arti solidaritas yang sulit dipisahkan,” ujar Dosen Budaya Lokal UNS, Dr. Slamet Widodo.

Sedangkan di Jakarta, Dodol Betawi menjadi lambang gotong royong. Proses pembuatannya melibatkan kerja sama erat antara laki-laki dan perempuan.

“Pembuatan Dodol Betawi mencerminkan nilai solidaritas yang melekat kuat dalam budaya masyarakat Betawi,” kata Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi, H. Zaenal Abidin.

Kuliner-kuliner ini menunjukkan bahwa makanan tradisional Indonesia lebih dari sekadar hidangan. Ia adalah warisan budaya yang mengandung pesan luhur dan nilai kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Pemerhati budaya mengingatkan pentingnya pelestarian nilai-nilai ini melalui edukasi dan pengenalan sejak dini.

“Melestarikan kuliner tradisional berarti menjaga filosofi dan identitas bangsa,” tutup Yunita Ramadhani.(*)

Editor : Hendra Efison
#Sarat Makna Filosofis #Kuliner Tradisional Indonesia #Ini Deretan Simbol Budayanya