Di antara riuh itu, seorang pria paruh baya duduk tekun di balik meja kayu kecil, memegang obeng mungil dan jam tangan rusak — di sinilah waktu seolah berhenti sejenak bagi Syahrial (44).
Dengan tangan cekatan, ia membuka penutup jam, menatap gear kecil di dalamnya dengan penuh kesabaran.
“Saya putuskan jadi tukang servis jam karena memang pendidikan saya terbatas, cuma tamat SMP,” ujarnya pelan, di sela pekerjaannya, Selasa (28/10/2025).
Lahir di Padang Laweh, Kabupaten Tanahdatar, Syahrial kini menetap di kawasan Pasar Raya, bersama istri yang berasal dari Balai Selasa, Pesisir Selatan.
Ia adalah tulang punggung keluarga dengan tiga anak — satu sudah menamatkan SMA, satu di kelas 3 SMP, dan si bungsu masih duduk di bangku SD.
Semua kebutuhan keluarga dipenuhi dari putaran jarum jam yang ia rawat setiap hari.
Setiap pagi, pukul 07.00, lapak kecilnya di pinggir jalan sudah buka. Ia baru menutupnya menjelang Magrib.
“Pendapatan tidak tentu, kadang bisa dapat Rp100 ribu, tapi kalau ramai bisa sampai Rp500 ribu per hari,” tuturnya sembari mengganti baterai jam pelanggan.
Layanan Syahrial beragam. Ia menjual tali jam seharga Rp10 ribu–Rp45 ribu, tergantung bahan, dan jasa ganti baterai berkisar Rp15 ribu–Rp25 ribu. Dari semua layanan, ganti baterai menjadi yang paling diminati.
Namun, tak semua hari berjalan mulus. Ia tak jarang menghadapi pelanggan yang komplain.
“Pernah ada yang marah karena mesin jam rusak setelah diservis. Kalau begitu, kita jelaskan baik-baik dan cari solusi agar pelanggan tidak kecewa,” ujarnya dengan nada tenang.
Bagi Syahrial, kejujuran dan kesabaran adalah modal utama. Meski pendidikan terbatas, ia menggantungkan hidup dari keterampilan yang ia asah selama bertahun-tahun. “Kalau kita kerja jujur, pelanggan datang sendiri,” tambahnya.
Di tengah modernisasi dan menjamurnya jam digital, Syahrial tetap bertahan. Lapak sederhananya menjadi bukti bahwa keahlian dan ketekunan masih punya tempat di tengah kerasnya kota.
Ia tidak hanya memperbaiki jam, tapi juga menjaga waktu — untuk anak-anaknya, keluarganya, dan harapannya akan masa depan yang lebih baik. (Mengki Kurniawan/cr3)
Editor : Hendra Efison