Ketua LPS Partab, Ilhami Elyunusi (43) mengatakan budidaya ini dilakukan sebagai bagian dari program pengelolaan sampah terpadu di lingkungan setempat.
“Di LPS ini juga terdapat budidaya magot yang dikembangkan oleh tim kreatif,” ujarnya saat ditemui Rabu (29/10/2025).
Prosesnya dilakukan secara sederhana. Sampah organik dikumpulkan dan dijadikan media tumbuh bagi lalat BSF. Setelah bertelur, larva magot akan memakan sisa organik selama 10–15 hari sebelum dipanen.
“Magot ini memakan semua sampah organik basah, baik sayur, buah, hingga tulang ayam,” jelas Abdiantha Wylanda (31), salah satu pengelola.
Hasil panen kemudian dijual kepada peternak sebagai pakan ternak alami. Magot dikenal memiliki kandungan protein tinggi dan membantu mengurangi ketergantungan pada pakan pabrikan.
“Untuk waktu panen magot antara 10 sampai 15 hari. Magot ini bisa dijadikan pakan ikan, ayam, atau burung,” tambah Abdi.
Selain berdampak ekologis, inovasi ini juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar. Dengan modal rendah dan proses singkat, warga mampu memperoleh keuntungan tambahan sekaligus menjaga lingkungan tetap bersih.
Budidaya magot kini menjadi alternatif pengelolaan sampah organik yang efektif di Kota Padang, menunjukkan bahwa solusi lingkungan dapat berjalan seiring dengan pemberdayaan ekonomi lokal. (M Fikri Alfateh/cr5)
Editor : Hendra Efison