Kegiatan ini menghadirkan tokoh masyarakat, akademisi, organisasi kemasyarakatan, serta mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kota Padang.
Seminar mengusung tiga tema utama, yaitu perkawinan multi-etnis di Kota Padang, nilai adat dan budaya Minangkabau, serta pakaian tradisional Minangkabau.
Kegiatan dibuka oleh Kepala Museum Adityawarman, Dr. Tuti Alawiyah, yang menegaskan komitmen museum dalam memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan kebudayaan.
“Museum tidak hanya berfungsi menyimpan benda bersejarah, tetapi menjadi pusat pembelajaran bagi masyarakat. Diskusi seperti ini penting untuk menjaga kebudayaan tetap relevan dan dipahami lintas generasi,” ujar Tuti.
Kepala Dinas Kebudayaan Sumatera Barat, Habibul Fuadi, M.Si, dalam sambutannya menyampaikan pentingnya keberlanjutan dialog kebudayaan sebagai bagian dari pelestarian identitas masyarakat.
“Budaya akan terus hidup selama masyarakat terlibat. Diskusi tidak boleh berhenti, dan museum akan terus menjadi ruang untuk itu,” ucapnya.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Salah seorang peserta, Agnezia, menilai seminar ini memperkuat kedekatan museum dengan publik.
“Kegiatan seperti ini mesti rutin dilakukan. Museum jangan hanya dilihat sebagai tempat menyimpan dokumentasi sejarah, tapi sebagai ruang diskusi yang terbuka bagi siapa saja,” ujarnya.
Sementara itu, akademisi Prof. Ernawati, sebagai salah satu pemateri, menyoroti fenomena perkawinan multi-etnis di Kota Padang.
Ia menyebut diskusi tersebut membantu masyarakat memahami bagaimana adat beradaptasi dengan perubahan sosial.
Dengan ragam perspektif yang dihadirkan, seminar ini menjadi langkah awal dalam memperluas pemahaman publik dan memperkuat identitas kultural, sekaligus mendorong kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga kebudayaan, dan akademisi untuk pelestarian budaya Minangkabau.(CR7)
Editor : Hendra Efison