Apresiasi tersebut disampaikan dalam kegiatan bedah buku yang digelar di Komunitas Seni Intro, Kamis (25/12/2025).
Wali Nagari Maek, Efrizal Hendri, menyebut buku Maek sebagai karya sastra yang memberi perhatian khusus pada sejarah dan identitas nagari, khususnya Maek sebagai kawasan peradaban menhir.
Menurut Efrizal, tidak banyak karya sastra yang mengangkat Maek secara spesifik. Karena itu, ia menilai kehadiran buku ini penting bagi masyarakat dan generasi muda.
“Kami mengapresiasi peluncuran buku ini. Maek dihadirkan sebagai peradaban dengan sejarah panjang, nilai budaya, dan kehidupan sosial yang kaya,” ujar Efrizal Hendri.
Ia menambahkan, sastra memiliki peran strategis dalam menjaga ingatan kolektif masyarakat serta mengenalkan warisan sejarah kepada publik luas.
Apresiasi juga disampaikan Disparpora Kota Payakumbuh melalui perwakilannya, Abdallah Razik Rahman. Ia menilai buku Maek berkontribusi dalam pengembangan pariwisata berbasis budaya.
Menurut Abdallah, promosi daerah tidak hanya bertumpu pada pembangunan fisik, tetapi juga membutuhkan narasi dan cerita yang kuat.
“Karya sastra seperti Maek menghadirkan nilai, cerita, dan manusia di balik kawasan budaya. Ini sejalan dengan pengembangan pariwisata berbasis identitas lokal,” katanya.
Buku Maek merupakan kumpulan puisi yang lahir dari keterlibatan Iyut Fitra dalam Festival Maek, kegiatan kebudayaan yang mengangkat Maek sebagai kawasan peradaban menhir di Indonesia.
Dalam keterangannya, Iyut Fitra mengatakan puisi-puisi tersebut merupakan hasil perjumpaan panjang dengan ruang, sejarah, dan masyarakat Maek. Ia menyebut puisi sebagai medium untuk merawat ingatan dan memberi makna baru pada sejarah.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan penyerahan buku secara simbolis kepada Wali Nagari Maek dan perwakilan Disparpora Kota Payakumbuh, serta kepada sastrawan dan perwakilan pers.
Acara juga diisi pembacaan puisi oleh Okta Piliang dan Sulaiman Juned, dilanjutkan diskusi dan bedah buku dengan menghadirkan penyair Ilham Yusardi sebagai pembedah.
Ilham menilai puisi-puisi dalam buku Maek tidak hanya bersifat deskriptif, tetapi juga reflektif, serta berhasil menghadirkan Maek sebagai ruang hidup dengan kompleksitas sosial dan budaya.
“Puisi-puisi ini menghadirkan dialog antara sejarah, tradisi, dan kehidupan masyarakat hari ini,” ujar Ilham.
Peluncuran buku Maek menegaskan peran sastra sebagai medium penting dalam merawat sejarah, identitas, dan kebudayaan lokal, serta mendorong kolaborasi antara seniman, pemerintah, dan media.(CR7)
Editor : Hendra Efison