Suara gemericik air yang menghantam bilah-bilah kayu berpadu dengan derit roda kincir yang bergerak perlahan, menandakan alat tradisional tersebut masih bekerja seperti puluhan tahun lalu.
Pantauan di lokasi pada Senin (9/3/2026) menunjukkan air dari sungai dialirkan melalui pipa panjang menuju petak-petak sawah milik warga di sekitar kawasan tersebut.
Meskipun berbagai teknologi pertanian modern terus berkembang, kincir air itu tetap dipertahankan oleh masyarakat karena dinilai efektif membantu pengairan sawah serta tidak membutuhkan bahan bakar ataupun listrik.
Seorang petani setempat, Marianis (62), mengatakan kincir air tersebut telah ada sejak dirinya masih kecil dan terus dimanfaatkan oleh warga hingga saat ini.
Ia mengaku tidak mengetahui secara pasti kapan kincir itu pertama kali dibangun, namun alat tersebut sudah digunakan sejak zaman orang tua mereka.
“Kincir ini sudah ada dari dulu, dari zaman orang tua kami. Waktu saya masih kecil juga sudah ada. Sampai sekarang masih dipakai untuk mengairi sawah,” ujar Marianis sambil menunjuk kincir, Senin (9/3).
Menurutnya, keberadaan kincir air sangat membantu para petani, terutama ketika memasuki musim tanam padi yang membutuhkan pasokan air secara terus-menerus.
Air yang diangkat oleh putaran kincir kemudian dialirkan melalui pipa menuju saluran irigasi kecil sebelum masuk ke lahan persawahan milik warga.
“Kalau musim tanam, air sangat dibutuhkan. Dengan kincir ini, air bisa terus naik ke sawah kami tanpa harus menggunakan mesin pompa,” katanya.
Marianis menambahkan bahwa penggunaan kincir air juga membuat para petani tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli bahan bakar atau membayar listrik.
Selama aliran sungai tetap mengalir, kincir tersebut akan terus berputar dan mengalirkan air ke sawah tanpa henti.
Hal serupa disampaikan petani lainnya, Marwan (58), yang menyebut kincir air memiliki peran penting bagi lahan pertanian yang posisinya lebih tinggi dari permukaan sungai.
“Kalau tidak ada kincir ini, kami harus pakai pompa air. Itu butuh bensin atau listrik. Dengan kincir ini sawah kami tetap bisa dialiri air setiap harinya,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa meskipun terlihat sederhana, pembuatan kincir air membutuhkan keterampilan khusus agar bilah-bilah kayu mampu menangkap arus sungai dengan baik.
Susunan bilah yang tepat akan membuat putaran kincir tetap stabil sehingga air dapat terangkat dan dialirkan secara terus-menerus menuju lahan pertanian.
Untuk menjaga agar alat tersebut tetap berfungsi, warga setempat biasanya merawat kincir secara bersama-sama melalui kegiatan gotong royong.
Jika ada bagian kayu yang mulai lapuk atau rusak, para petani akan segera memperbaikinya agar kincir tetap dapat digunakan untuk kebutuhan pengairan sawah.
“Kalau ada yang rusak, kami perbaiki bersama. Karena ini dipakai bersama untuk sawah,” kata Marwan.
Keberadaan kincir air di Nagari Sinuruik hingga kini masih menjadi bagian penting dalam mendukung aktivitas pertanian masyarakat setempat.(*)
Editor : Hendra Efison