PADEK.JAWAPOS.COM-Dunia pendidikan Kota Sawahlunto kembali berduka. Untuk kedua kalinya dalam bulan ini, kasus dugaan bunuh diri siswa SMP di ruang kelas terulang.
Setelah Arif Nofrialdi Jefri, siswa SMPN 2 Sawahlunto pada 6 Oktober lalu, kini Begindo Evan, siswa SMPN 7 Sawahlunto, menjadi korban berikutnya.
Begindo Evan, siswa berusia 15 tahun yang merupakan anak bungsu dari empat bersaudara pasangan Agus dan Eva, ditemukan tewas dengan seutas lilitan kain yang menjerat lehernya di dalam ruang kelas.
Peristiwa ini terjadi di tengah perjuangan Kota Sawahlunto untuk menggapai predikat “Kota Layak Anak”.
Pertanyaan mengenai beratnya persoalan yang dihadapi korban hingga diduga memilih mengakhiri hidup di usia dini menggema di kalangan orang tua di Sawahlunto.
Kota wisata tambang yang selama ini dikenal ramah anak, pada bulan Oktober ini menyimpan cerita lain.
“Sudahlah, mari kita merenung mencari jalan terbaik bagaimana merawat dan mengedukasi anak,” tutur Nilawati, seorang warga.
“Sebagai ibu, kami tak habis pikir kenapa bisa terjadi pada anak di bawah umur. Sebuah pelajaran yang patut dipetik dalam hidup berkeluarga adalah bagaimana anak diperlakukan dengan baik tanpa kekerasan, caci maki, dan perundungan, serta pendampingan dalam memecahkan masalah yang mereka hadapi,” ujar Fanda Kristina.
Menurut informasi sementara yang diperoleh wartawan dari Kepala Kepolisian Sektor Barangin Ipda Gorahman, pihaknya menerima informasi dari sekolah korban sekitar pukul 12.01.
Usai menerima informasi, anggota yang dipimpinnya langsung turun ke TKP untuk melakukan penyelidikan serta pengamanan barang bukti.
Dari olah TKP sementara, korban Begindo Evan, siswa kelas 8 SMPN 7 di Kebun Jati Kelurahan Saringan, ditemukan dalam keadaan tak bernyawa di ruang kelasnya dengan kondisi terlilit dasi pakaian sekolah.
Menurut keterangan saksi yang merupakan rekannya, saat peristiwa terjadi, semua siswa sedang berada di ruang laboratorium sekolah, sementara korban berbalik sendirian ke ruang kelas.
Saat siswa lain kembali ke ruang kelas sekitar pukul 11.45 , korban ditemukan tergeletak tak bergerak lagi di lantai kelas VIII.
Usai diidentifikasi, aparat kepolisian dibantu masyarakat langsung membawa jenazah ke RSUD Sawahlunto untuk dilakukan visum et repertum guna memastikan penyebab kematian korban.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Sawahlunto Asril, menyampaikan rasa duka dan keprihatinan atas peristiwa yang menimpa korban.
Korban yang tercatat masih duduk di bangku SMP menjadi duka mendalam bagi institusi pendidikan Kota Sawahlunto.
“Kami juga sangat menyayangkan peristiwa ini. Apalagi dalam waktu yang berdekatan tercatat sudah dua kasus siswa SMP di Sawahlunto meninggal dunia dengan dugaan bunuh diri,” ujar Asril.
Terkait kasus tersebut, pihaknya akan menelusuri dan mempelajari lebih jauh penyebabnya agar hal serupa tidak terulang di masa mendatang.
Hingga berita ini diterbitkan, hasil penyelidikan polisi mengenai motif kejadian dugaan bunuh diri siswa SMPN 7 Sawahlunto itu masih belum ada keterangan resmi ke publik yang menyebutkan secara pasti penyebab atau motif di balik tindakan tersebut.
Namun, polisi masih melakukan pendalaman untuk mengungkap apakah peristiwa tersebut murni karena masalah pribadi korban atau ada faktor lain seperti perundungan.
Korban telah dikebumikan petang kemarin di TPU Keluarga Gunung Timbago Kelurahan Saringan. Prosesi pemakaman selesai sekitar pukul 17.30 dan dibantu warga serta aparat kepolisian. (cc1/atn)
Editor : Novitri Selvia