Tumpukan kayu yang hanyut sejak akhir November 2025 membuat nelayan tidak dapat melaut hampir satu bulan.
Mahyeldi mengatakan, kawasan pantai dari Pasir Parupuk hingga batas kota dekat Bandara Internasional Minangkabau (BIM) masih dipenuhi material kayu.
Kondisi tersebut memaksa nelayan menyandarkan perahu dan menghentikan aktivitas melaut.
“Sudah hampir sebulan nelayan tidak bisa melaut karena laut tertutup kayu. Jika tidak segera dibersihkan, dampak ekonominya akan semakin panjang,” kata Mahyeldi.
Ia mengapresiasi keterlibatan PT Semen Padang, TNI, Polri, dan masyarakat dalam aksi gotong royong pembersihan pantai.
Pemerintah daerah berharap kolaborasi tersebut dapat mempercepat pemulihan kawasan pesisir dan aktivitas ekonomi nelayan.
Terkait pemanfaatan kayu hanyut, Mahyeldi meminta seluruh pihak mematuhi instruksi yang telah ditetapkan pemerintah.
Ia menegaskan kepatuhan tersebut diperlukan agar proses evakuasi dan penanganan material kayu berjalan lancar tanpa kendala teknis.
Sementara itu, Sekretaris Perusahaan PT Semen Padang Win Bernadino menyatakan perusahaan berkomitmen terlibat aktif dalam penanganan bencana.
Menurutnya, kolaborasi antara sektor industri, pemerintah, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam penanganan dampak bencana.
“Keterlibatan kami dalam aksi bersih-bersih pantai ini merupakan bentuk komitmen PT Semen Padang pascabencana akhir November lalu, terutama untuk mempercepat pemulihan ruang publik dan akses ekonomi masyarakat,” ujar Win.(*)
Editor : Hendra Efison