Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Sampah Organik Bisa Jadi Peluang Usaha, Santri di Sumbar Diajari Budidaya Maggot

Hendra Efison • Rabu, 20 Mei 2026 | 12:50 WIB
Kepala Unit CSR PT Semen Padang, Harnes.
Kepala Unit CSR PT Semen Padang, Harnes.

KAPAU, PADEK.JAWAPOS.COMPT Semen Padang bersama FMIPA Universitas Andalas dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Sumatera Barat melatih santri Pondok Pesantren MTI Kapau mengolah sampah organik melalui budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai solusi pengurangan limbah sekaligus peluang ekonomi baru, Selasa (19/5/2026).

Pelatihan yang digelar di Belimbing Indah itu menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026. Peserta tidak hanya mendapatkan materi edukasi pengelolaan sampah, tetapi juga praktik langsung budidaya maggot BSF yang kini mulai banyak dikembangkan sebagai metode ramah lingkungan.

Dalam sesi praktik, peserta diperlihatkan cara memilah limbah organik, menyiapkan media budidaya, hingga teknik pemeliharaan larva maggot agar menghasilkan manfaat optimal.

Baca Juga: Kecelakaan Beruntun di Tikungan Jalan Sumbar-Riau, Delapan Penumpang APV Luka-luka

Kepala Unit CSR PT Semen Padang Harnes mengatakan program tersebut merupakan bentuk dukungan perusahaan terhadap kegiatan edukatif yang memberi dampak langsung bagi masyarakat dan lingkungan.

“Harapannya, peserta dapat mengaplikasikan materi yang diperoleh dengan baik sehingga budidaya maggot BSF ini benar-benar bisa dimanfaatkan, baik untuk pengurangan sampah organik maupun memberikan nilai tambah ekonomi,” ujarnya.

Budidaya Maggot Jadi Solusi Pengurangan Sampah

Budidaya maggot BSF mulai banyak diterapkan karena dinilai efektif mengurai sampah organik rumah tangga dan sisa makanan dalam waktu relatif cepat.

Baca Juga: 65 Siswa ICBS Payakumbuh Lolos ke Universitas Al-Azhar Mesir, Terbanyak di Sumbar

Selain membantu mengurangi volume limbah, maggot juga memiliki nilai ekonomi karena dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak berprotein tinggi serta bahan pupuk organik.

Peserta workshop tampak antusias mengikuti demonstrasi pengolahan sampah organik menjadi media pakan maggot. Kegiatan itu juga memperkenalkan konsep bahwa sampah tidak selalu menjadi limbah, tetapi dapat diolah menjadi sumber daya bernilai guna.

Kepala DLH Provinsi Sumatera Barat Tasliatul Fuaddi menilai kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan industri menjadi langkah penting dalam membangun budaya sadar lingkungan di tengah masyarakat.

Baca Juga: Gerakan Pangan Murah di Payakumbuh Diserbu Warga, Harga Beras hingga Telur Lebih Murah

“Pengelolaan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Semua pihak harus terlibat aktif agar persoalan lingkungan bisa ditangani bersama,” katanya.

Sinergi Pendidikan dan Industri

Wakil Dekan FMIPA Universitas Andalas Admi Nazra mengatakan persoalan sampah organik membutuhkan pendekatan ilmiah sekaligus partisipasi masyarakat agar solusi yang diterapkan berjalan berkelanjutan.

Menurutnya, edukasi budidaya maggot BSF menjadi salah satu pendekatan yang relevan diterapkan di lingkungan pesantren karena mudah diaplikasikan dan memiliki manfaat ekonomi.

Melalui workshop tersebut, peserta juga diberikan pemahaman mengenai peluang usaha dari budidaya maggot, mulai dari penjualan larva hingga pemanfaatannya untuk kebutuhan peternakan dan pertanian organik.

Kolaborasi PT Semen Padang, Universitas Andalas, dan DLH Sumbar diharapkan mampu melahirkan agen perubahan di tengah masyarakat yang tidak hanya peduli terhadap lingkungan, tetapi juga mampu membangun ekonomi berbasis pengelolaan sampah berkelanjutan.(*)

Editor : Hendra Efison
#pengolahan limbah organik #pesantren Sumbar #pt semen padang #sampah organik #Budidaya Maggot BSF