Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Jalan Sungai Salak Rusak Parah, Berlumpur Ketika Musim Hujan

Novitri Selvia • Senin, 23 Agustus 2021 | 12:46 WIB
SULIT DILEWATI: Kondisi jalan di daerah penghasil jagung dan padi di Sungai Salak, Nagari Lubuk Gadang Utara, Sangir butuh perhatian.(ARDI/PADEK)
SULIT DILEWATI: Kondisi jalan di daerah penghasil jagung dan padi di Sungai Salak, Nagari Lubuk Gadang Utara, Sangir butuh perhatian.(ARDI/PADEK)
Petani Sungai Salak, Nagari  Lubuk Gadang Utara, Kecamatan Sangir, Kabupaten Solok Selatan, merindukan  adanya perbaikan infrastruktur jalan yang saat ini kondisinya sangat parah. Pantauan Padang Ekspres di lokasi, sudah bagaikan kubangan lumpur semenjak musim hujan melanda Solok Selatan. Jalan tersebut satu-satunya akses dilewati masyarakat.

”Kendaraan roda dua saja sulit menempuhnya, sebab lubang jalan tanah ini sudah banyak yang dalam. Apalagi sekarang musim hujan, sudah semakin hancur,” kata Ali Bakri, 53, petani Sungai Salak, Minggu (22/8).

Jalan kabupaten tersebut sebagai urat nadi perekonomian masyarakat untuk pengangkutan hasil bumi pertanian seperti komuditi jagung dan padi. Apalagi bagi petani Sungai Bayua, tingkat produksi padi tinggi namun upah pun tinggi.

Jika akses tersebut diperbaiki, makan puluhan ton jagung yang dihasilkan petani setempat setiap akan dapat meningkatkan taraf hidup kepada lebih baik. “Kalau sawah ratusan hektare disana, apalagi komuditi jagung. Kalau dibandingkan luas lahan jagung dan sawah. Mungkin kiasaran 75-25 persen,” paparnya.

Sudah 76 tahun Indonesia merdeka, kondisi jalan masih seperti di zaman penjajahan. Kemerdekaan infrastruktur sangat diharapkan adanya oleh masyarakat. “Sudah 76 tahun Indonesia merdeka, namun belum ada perbaikan jalan ini. Padahal basis pertanian, puluhan ton jagung setiap minggunya diproduksi di daerah ini termasuk padi gabah,” ungkap Analis,37, petani lainnya.

Setiap kali masyarakat panen padi atau panen jagung, upah angkut dengan menggunakan sepeda motor cukup besar dikeluarkan para petani.  Nah, jika ada inisiatif dari pemerintah daerah memperbaikinya. Tentu saja, setiap kali produksi tentu saja bisa menggenjot perekonomian masyarakat.

“Mudahan saja, Pemkab Solsel maupun wakil rakyat kami memang berpihak ke sektor pertanian,” harap ayah dua anak itu.

Mairadi, 43, petani lainnya, juga berharap hal yang sama. Sebab setiap kali panen, upah yang dikeluarkan cukup tinggi. Seperti jagung, upah panen, upah rontok dan upah angkut dengan jasa pelansir.

“Kalau upah lansir Rp200-400 per kilogram, bergantung jarak tempuh. Jika panen 3 ton, upah lansir yang harus keluarkan sekitar Rp 700 ribuan. Apalagi masyarakat dari Sungai Bayua,” tuturnya.

Ketua DPRD Solok Selatan, Zigo Rolanda menyebutkan sudah diusulkan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK). Mudahan saja tidak ada kendala lainnya, sehingga masyarakat dapat menikmati infrastruktur yang baik. “Sudah kita usulkan ke pusat, mudahan saja di tahun 2022 anggarannya terealisasi,” tutupnya. (tno) Editor : Novitri Selvia
#rusak #sungai salak #jalan