Untuk menunjang produksi, Putra menggunakan setengah bal mulsa plastik untuk menutup bedengan di seluruh area tanamnya.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Putra adalah tingginya biaya pupuk. Tanaman cabai memerlukan asupan nutrisi intensif agar pertumbuhannya optimal.
“Saya rutin memberikan pupuk sekali seminggu agar pertumbuhan buahnya bisa maksimal,” ujar Putra. Formula pupuk yang digunakan mencakup Phonska, Grower, dan NPK Kuda.
Sebelum ditanam di lahan, Putra menyiapkan bibit secara mandiri melalui tahap penyemaian yang memakan waktu satu bulan penuh. Proses ini dilakukan secara teliti agar tanaman memiliki daya tahan tinggi menghadapi kondisi lapangan yang tidak menentu, terutama saat musim hujan.
Cuaca ekstrem kerap membuat tanah di lahannya lembek dan becek. Untuk mengatasinya, Putra memperdalam saluran irigasi agar air tidak menggenang, serta meninggikan bedengan untuk menjaga posisi tanaman tetap aman.
Selain itu, ia menggunakan kapur dolomit untuk menetralkan keasaman tanah dan mencegah pembusukan tanaman. Perlindungan tambahan dilakukan melalui penyemprotan fungisida dan bakterisida secara berkala, sekali seminggu, atau dua kali seminggu saat kondisi cuaca buruk.
Dalam hal panen, Putra memiliki dua strategi untuk menentukan nilai jual. Cabai muda atau hijau bisa dipanen pada usia 60 hari, sementara cabai merah dipanen pada usia 75 hari.
Selisih harga yang signifikan menjadi pertimbangan utama, cabai hijau dihargai sekitar Rp 25.000 per kilogram, sedangkan cabai merah bisa mencapai Rp 90.000 per kilogram. Hal ini membuat Putra sangat menjaga kualitas tanaman hingga fase merah sempurna.
Tingginya harga cabai merah saat ini memberikan keuntungan yang menjanjikan. Meski biaya perawatan dan pupuk cukup tinggi, pendapatan yang diterima Putra mampu menutupi modal dan masih menyisakan keuntungan yang lumayan.
“Penjualan saat ini harganya sangat tinggi, jadi modal yang dikeluarkan tertutup sepenuhnya dan masih ada keuntungan yang lumayan,” pungkasnya.
Keberhasilan Putra menunjukkan bahwa pengelolaan lahan kecil dengan teknik budidaya yang tepat, disiplin, dan mitigasi risiko cuaca dapat menghasilkan keuntungan yang optimal bagi petani muda di tengah tantangan pertanian modern. (cr2)
Editor : Adetio Purtama