Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Dampak Erupsi Marapi: Petani Terancam Gagal Panen, Ikan Mati Massal

Novitri Selvia • Selasa, 16 Januari 2024 | 09:34 WIB
TERTUTUP ABU VULKANIK: Tanaman perkebunan warga di Nagari Aieangek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanahdatar mulai layu, dan mati. Sedikitnya 180 hektare area perkebunan warga dengan tanaman sayur-mayur di wilayah ini ditutupi abu vulkanik erupsi Gunung Mar
TERTUTUP ABU VULKANIK: Tanaman perkebunan warga di Nagari Aieangek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanahdatar mulai layu, dan mati. Sedikitnya 180 hektare area perkebunan warga dengan tanaman sayur-mayur di wilayah ini ditutupi abu vulkanik erupsi Gunung Mar
Selain kesehatan, erupsi Gunung Marapi juga mengancam perekonomian masyarakat yang ada di sekitarnya. Salah satunya petani yang ada di Nagari Aiaangek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanahdatar.

Lebih kurang 180 hektare area pertanian di nagari tersebut terancam gagal panen. Para petani di sana pada umumnya menggarap lahan sayur-mayur. Luas itu berkemungkinan bertambah, karena saat ini masih dalam pendataan.

Abu vulkanik dari erupsi Marapi menutupi wilayah ini dengan terkategori cukup tebal. Abu vulkanik terlihat dengan mudah menempel di dedaunan, pagar dan lantai rumah, bahkan di jalanan dan kendaraan.

Wali Nagari Aiaangek Riki Mulyadi menyebutkan, jika abu vulkanik telah mengganggu aktifitas warga, khususnya bagi masyarakat peladang di daerahnya.

“Masyarakat kita hampir 90 persen bekerja sebagai petani. Mereka berladang di lereng Gunung Marapi dan saat ini mereka terdampak oleh abu vulkanik,” katanya saat ditemui di kantornya, kemarin (15/1).

Kondisi tersebut telah dilaporkan Riki kepada pemerintah daerah setempat. Sekitar 180 hektare lahan pertanian yang terdampak abu vulkanik, 95 persen diantaranya mengalami gagal panen. “Angka ini bisa saja bertambah nantinya,” ungkapnya.

Tak ada yang bisa dilakukan warga terutama petani saat ini selain menanti kegagalan panen. Dimana sayur mayur dan palawija yang ditanam oleh petani, sudah mulai rusak dan layu serta ada yang mati.

“Semoga dengan kondisi ini Allah ganti dengan kesuburan di masa mendatang dan panen warga lebih dari yang sebelumnya. Karena efek positifnya, abu ini tentunya juga membawa kesuburan bagi tanah,” ujar dia.

Terkait kondisi tersebut, Bupati Tanahdatar Eka Putra telah berkunjung ke Nagari Aiaangek, Minggu (14/1) lalu. Terkhusus lahan pertanian yang rusak karena erupsi Marapi dia juga melihat kondisi di Nagari Panyalaian.

Pada kesempatan tersebut dia menyampaikan, lahan pertanian yang rusak atau gagal sudah didata melalui Dinas Pertanian setempat. Nantinya para petani akan diberikan bantuan. Yakni berupa bantuan langsung tunai (BLT), masker dan bantuan Saprodi untuk petani.

Ikan Mati Karena Lahar Dingin

Selain Kecamatan X Koto, Kecamatan Batipuh juga merupakan salah satu wilayah di Tanahdatar terdampak erupsi Gunung Marapi. Sejauh ini kondisi di kecamatan tersebut sama seperti yang dialami Kecamatan X Koto. Banyak perkebunan warga yang terancam gagal panen.

Camat Batipuh Abdi Hardifala mengatakan, dari delapan nagari di Batipuh, dua nagari berada di kawasan yang rawan dari erupsi Marapi. Seperti Nagari Andaleh dan Nagari Sabu.

Dari hasil pendataan instansi terkait seperti BPBD Tanahdatar, Koramil Batipuh dan Polsek Batipuh untuk daerah yang terdekat dan berdampak erupsi adalah Kenagarian Batipuhateh dengan populasi 1347 KK, Kenagarian Sabu dengan populasi 925 KK, dan Kenagarian Andaleh dengan 605 KK.

“Untuk abu erupsi hampir semua nagari yang terkena dampak. Namun untuk yang rawan ada dua nagari,” ujar Abdi Hardifala, Senin (15/1) sore.

Dia pun sudah melaporkan kepada pemkab setempat terkait kerusakan lahan pertanian warga yang terancam gagal panen. ”Kerawanan daerah kita yakni dilalui oleh sungai yang berhulu dari Marapi, jadi beberapa waktu lalu hujan lebat, dan abu vulkanik dihanyutkan melalui sungai yang ada di Batipuh,” terangnya.

Aliran yang menghanyutkan abu atau lahar dingin itu menyebabkan ikan di tiga sungai mati. Adapun sungai yang telah dilalui oleh aliran larva dingin berdampak kepada matinya ikan.

Diantaranya Sungai Batang Subang Anak, Sungai Batang Sabu, dan Sungai Batang Arau. Namun, berapa total ikan yang mati, sebutnya, saat ini belum bisa dipastikan karena kondisi air masih keruh.

“Tadi pihak nagari juga sudah memantau lokasi. Namun berapa totalnya belum bisa terhitung karena kondisi air masih keruh,” terang dia.

Meski pemukiman warganya berjarak 6 kilometer dari puncak Marapi, Forkopimca Batipuh telah mempersiapkan berbagai hal. Seperti lokasi pengungsian.

Yakni di Posko Lapangan Kantor Wali Nagari Batipuh Baruah, SMA 1 Batipuh, SMK 1 Batipuh, MTSN Subang Anak, MTSN 12 Pitalah, SDN 04 Batipuh Baruah, SDN 19 Batipuh Baruah, Masjid Raya Balad Batipuh Baruah, Masjid Taufik Batipuh Baruah.

Pihak kecamatan juga telah membentuk posko pemantauan dan petugas yang berjaga dari satgas Penanggulangan Bencana Sekecamatan Batipuh.

“Untuk jalur evakuasi warga khusus di didaerah Kenagarian Batipuhatas, Kenagarian Sabu dan Kenagarian Andaleh sudah ada, hanya memperjelas pembagian rute dikarenakan wilayah tersebut dilalui oleh sungai yang berhulu ke aliran larva Gunung Marapi,” katanya.

Karena berada di jalur sungai, perlu kajian untuk jalur evakuasi bagi warga jika seandainya terjadi letusan Marapi serta banjir lahar dingin.

Terima Bantuan Tahap Dua

Sementara itu Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kembali menyerahkan bantuan tahap dua bencana dampak erupsi Gunung Marapi ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tanahdatar.

Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis oleh Tenaga Ahli BNPB Kombespol Dadiyo kepada Bupati Tanahdatar Eka Putra di Gedung Indojolito Batusangkar, kemarin.

Eka Putra pun menyampaikan terima kasih kepada BNPB pusat atas bantuan tersebut. “Sebelumnya BNPB memberikan bantuan masker dan sabun untuk tahap pertama. Sekarang ini bantuan berupa peralatan dan perlengkapan berupa tenda, genset, makanan siap saji, selimut, terpal, dan alat kebersihan, dan ditambah bantuan Dana Siap Pakai (DSP) sebesar Rp 250 juta,” sebutnya.

Kombespol Dadiyo berharap, apa yang diberikan BNPB ke Tanahdatar dapat meringankan beban masyarakat yang terdampak erupsi Gunung Marapi.

Direncanakan, tim BNPB akan berkunjung ke lokasi di Nagari Kotobaru, Kecamatan X Koto. Turut hadir pada kesempatan itu, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah, Asisten, Staf Ahli Bupati, Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan camat. (stg) Editor : Novitri Selvia
#Batipuh #Dampak Erupsi Marapi #Sungai Batang Subang Anak #Pemkab Tanahdatar #erupsi gunung marapi #ikan mati massal #Sungai Batang Sab #Nagari Aiaangek #Eka Putra #gagal panen #BPBD Tanahdatar