Di pasar tradisional di Padang harga cabai mencapai Rp 68 ribu per kilogram. Sedangkan di Pasar Bawah Bukittinggi sudah tembus Rp 100 ribu per kilogramnya kemarin.
Namun di Car Free Day (CFD) depan Kantor Gubernur Sumbar, Minggu (28/9) cabai merah asal Jawa hanya Rp 53 ribu per kilogram.
Kontan saja masyarakat dan pengunjung CFD menyerbu stan mobil boks Dinas Pangan Sumbar itu. Operasi pasar cabai merah ini adalah rangkaian Gerakan Pangan Murah (GPM) Sumbar 2025 kolaborasi Bank Indonesia Sumbar bersama Pemda Sumbar dan stakeholder terkait.
GPM tidak saja menyediakan beras, minyak goreng dan gula dengan harga di bawah harga pasar tapi juga cabai dan lainnya. GPM akan berlangsung sampai bulan Oktober di sejumlah daerah di Sumbar.
Pantauan Padang Ekspres di CFD depan Kantor Gubernur pagi kemarin, masyarakat berebut membeli cabai merah yang sudah dikemas dalam kantong plastik berat 1 kg.
Miswarni, 45, warga Taruko, Kuranji Padang, membeli 1 kg cabai merah. Ia mengaku dari Pasar Raya Padang belanja sembako. Namun begitu dapat informasi ada pasar murah cabai merah di CFD kantor gubernur, ia langsung ke sana.
Ibu empat anak ini merasa senang karena selisih harga dengan di pasar cukup besar. “Di Pasar Raya cabai jawa Rp 63 ribu sekilo. Di sini hanya Rp 53 ribu. Selisih Rp 10 ribu. Alhamdulillah,” ujarnya.
Ia berharap pasar murah cabai sering-sering diadakan untuk membantu warga mendapatkan harga cabai terjangkau. Apalagi cabai jawa digemari masyarakat yang tak suka pedas.
Sementara itu, Sekprov Sumbar, Arry Yuswandi didampingi Kadis Pangan, Sumbar Iqbal Ramadipayana mengatakan, pasar murah cabai digelar menyikapi naiknya harga cabai di pasaran akhir-akhir ini. Disebabkan minimnya pasokan cabai merah dari petani ke pasaran.
“Kegiatan pasar murah cabai ini karena dalam pantauan kita, di Dinas Pangan terjadi kenaikan harga. Kenaikan harga lebih kepada menurunnya produksi cabai merah lokal dan kurangnya pasokan dari daerah lain," ujarnya kepada wartawan di lokasi pasar murah cabai CFD kantor gubernur, Minggu (28/9).
Arry menambahkan, melonjaknya harga cabai merah juga dipicu program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sumbar. “Kenaikan harga cabai merah ditambah lagi dengan adanya program MBG. Jumlah SPPG sekarang sudah lebih dari 120 unit,” ujarnya.
Sehingga MBG juga menyebabkan permintaan cabai merah semakin meningkat. Sesuai hukum pasar jika permintaan naik persediaan kurang, maka harga akan naik.
Untuk membantu warga mendapatkan harga cabai terjangkau pemerintah pun melaksanakan pasar murah cabai merah. “Nah, jika harga naik yang susah kan masyarakat, makanya pemerintah harus hadir. Karena itu Pemerintah Provinsi Sumbar melalui Dinas Pangan membuat operasi pasar atau pasar murah cabai merah keriting,” ujarnya.
Kegiatan ini, kata Arry, juga didukung oleh Bank Indonesia Sumbar dan Bulog. “Kolaborasi pemerintah daerah, Bank Indonesia dan Bulog Sumatera Barat,” ucapnya.
Cabai yang dijual di operasi pasar berasal dari Jawa Tengah. Sebanyak 700 kilogram cabai yang disediakan ludes diborong warga. Pasar murah diadakan di tempat keramaian dan tidak di dekat pasar. Karena bisa mengganggu harga pasar. Pasar murah cabai tersebut diadakan di dua titik. Selain di CFD kantor gubernur juga di kantor Dinas Pangan Sumbar. Selagi harga belum stabil pasar murah cabai akan berlanjut.
Sementara itu, pantauan Padang Ekspres di sejumlah pasar tradisional di Padang kemarin, harga cabai merah jawa mulai Rp 63 ribu sampai Rp 70 ribu per kilogram. Amai, penjual cabai cabai di Pasar Raya Padang mengatakan, stok cabai sedikit menyebabkan harga cabai naik.
Essy, pemilik kedai khusus sembako di kawasan Bypass Taratakpaneh Kuranji Padang mengatakan, ia menjual cabai merah jawa Rp 66 ribu per kilogram dan cabai darek Rp 68 ribu per kilogram.
Warga Bukittinggi Harap Ada Pasar Murah Cabai
Sementara itu, di Bukittinggi, lebih dari sepekan, harga cabai merah di Pasar Bawah Kota Bukittinggi tembus harga Rp. 100.000 per kilogram. Kondisi ini tentu memaksa ibu rumah tangga untuk menghitung ulang daftar belanja. Selain bagi ibu rumah tangga kenaikan harga cabai juga berdampak bagi pelaku usaha makanan dan kuliner.
“Saat ini harga jual cabai merah untuk kualitas terbaik bisa mencapai Rp 100.000 per kilogram. Kemudian untuk cabai kualitas biasa ada di harga Rp 80.000 per kilogram. Harga cabai tinggi ini sudah terjadi lebih dari sepekan terkahir,” ujar Iwan, 38, salah satu pedagang di Pasar Bawah Bukittinggi, Minggu (28/9).
Untuk cabai hijau Rp 60.000 per kilogram. Harga ini terbilang tinggi dibanding harga normal cabai hijau di kisaran Rp. 30.000 per kilogram.
“Kemudian untuk cabai rawit Rp 45.000 per kilogram, cabai setan harga Rp 45.000 hingga Rp 48.000 perkilogram,” sebut Iwan.
Kemudian bawang merah Rp 35.000 per kilogram untuk kualitas baik dan Rp 32.000 untuk kualitas sedang. Lalu bawang putih Rp 35.000 perkilogram dan bawang bombay Rp. 32. 000 per kilogram.
Mirawati, 46, pembeli di Pasar Bawah Kota Bukittinggi mengeluhkan kenaikan harga cabai. Kenaikan harga cabai terutama cabai merah, membuatnya harus mengurangi sejumlah daftar belanjanya.
Menurutnya harga ideal untuk cabai merah Rp 40.000 per kilogram. “Menurut saya titik imbangnya Rp 35.000 hingga Rp 40.000 perkilogram, masih terjangkau dan petani masih untung,” sebutnya.
Ia berharap pemerintah melakukan tindakan cepat untuk menekan harga cabai, misalnya lewat operasi pasar ataupun pasar murah. Menurutnya ini penting agar harga kembali turun dan masyarakat tidak terlalu terbebani dengan harga cabai yang tinggi.
“Setahu saya dalam bulan ini ada pasar murah yang dilakukan oleh pemerintah, hanya saja tidak ada cabai dalam kegiatan tersebut. Harapan saya tentu dalam pasar murah tersebut juga ada menjual cabai terutama cabai merah,” harapnya.
Rinaldi, 49, pedagang nasi ampera di Bukittinggi menyebutkan kenaikan harga cabai sangat berpengaruh terhadap keuntungan yang didapatkannya.
“Harga tinggi ini tentu berpengaruh pada usaha saya. Modal yang harus dikeluarkan menjadi lebih besar,” sebutnya. (eni/rna)
Editor : Adetio Purtama