“Rangkaian gempa ini merupakan bagian dari aktivitas Sesar Sianok bagian utara,” jelas Suaidi dalam keterangan resmi, Kamis (16/10).
Sesar Sianok merupakan salah satu segmen dari Patahan Besar Sumatra (Sumatra Fault System) yang melintasi wilayah Sumatera Barat. Terdapat lima segmen utama di provinsi ini, dan Sianok tercatat sebagai segmen paling aktif di antara kelimanya.
Secara historis, kata Suaidi, segmen Sianok pernah memicu dua gempa kembar besar di Padangpanjang tahun 1926 yang mencapai magnitudo M7,1 dan M7,2, serta gempa tahun 2007 dengan magnitudo M6,0 dan M6,1.
Suaidi menjelaskan, tingginya frekuensi gempa dengan waktu kejadian yang berdekatan bisa mengindikasikan dua hal. "Pertama, merupakan foreshock, yaitu gempa-gempa awal sebelum terjadinya gempa kuat. Kedua, segmen sesar tersebut sedang mengalami relaksasi menuju kestabilan," ungkapnya.
Untuk itu, BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan edukasi serta mitigasi kebencanaan di sekitar wilayah sesar aktif. Masyarakat juga diminta menghindari daerah tebing yang berpotensi longsor tinggi akibat getaran gempa berulang.(*)
Editor : Heri Sugiarto