Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Kemenkes Keluarkan Peringatan Dini Leptospirosis Pascabencana Banjir Bandang Sumatera

Randi Zulfahli • Minggu, 21 Desember 2025 | 12:41 WIB

Kemenkes RI mengeluarkan peringatan dini leptospirosis pascabencana banjir dan longsor, meminta masyarakat dan fasilitas kesehatan meningkatkan kewaspadaan dan deteksi dini.
Kemenkes RI mengeluarkan peringatan dini leptospirosis pascabencana banjir dan longsor, meminta masyarakat dan fasilitas kesehatan meningkatkan kewaspadaan dan deteksi dini.
PADEK.JAWAPOS.COM—Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengeluarkan peringatan dini terkait potensi meningkatnya kasus leptospirosis di wilayah terdampak banjir dan tanah longsor.

Peringatan ini disampaikan menyusul tingginya risiko penularan leptospirosis pada kondisi pascabencana, terutama akibat genangan air, lumpur, dan sanitasi lingkungan yang buruk.

Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes RI, drg. Murti Utami, mengatakan leptospirosis kerap luput terdeteksi karena gejala awalnya menyerupai demam ringan.

“Leptospirosis sering tidak disadari karena gejalanya ringan di awal. Padahal, bila terlambat ditangani, penyakit ini bisa menyebabkan komplikasi berat hingga kematian,” ujar Murti Utami, dikutip dari laman resmi kemkes.go.id, Minggu (21/12/2025).

Sebagai langkah antisipasi, Kemenkes menerbitkan Surat Edaran Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Nomor PV.03.03/C/5559/2025 tentang Kewaspadaan Potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) Leptospirosis.

Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan bakteri Leptospira dan ditularkan melalui urin hewan terinfeksi, terutama tikus. Bakteri dapat masuk ke tubuh manusia melalui luka terbuka atau selaput lendir.

Kemenkes mencatat, aktivitas membersihkan rumah pascabanjir tanpa alat pelindung diri menjadi salah satu faktor utama peningkatan risiko penularan.

Murti mengimbau masyarakat untuk segera memeriksakan diri jika mengalami gejala seperti demam, nyeri otot, sakit kepala, atau mata merah setelah terpapar air banjir atau lumpur.

“Jangan menunggu sampai kondisi memburuk. Segera periksa ke fasilitas kesehatan,” tegasnya.

Selain itu, fasilitas pelayanan kesehatan diminta menjadikan leptospirosis sebagai diagnosis banding pada pasien demam akut yang memiliki riwayat paparan lingkungan berisiko dalam dua minggu terakhir.

Kemenkes juga memperkuat pemantauan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR).

Dinas Kesehatan daerah diminta meningkatkan surveilans dan mengedepankan penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

“Leptospirosis dapat dicegah dengan kewaspadaan lingkungan dan kesiapsiagaan layanan kesehatan,” pungkas Murti Utami.(CC1)

Editor : Hendra Efison
#peringatan dini Kesehatan #Leptospirosis Kemenkes RI #penyakit pascabanjir #pascabencana banjir Sumbar