Penetapan tersebut menjadi bentuk kepercayaan pemerintah kepada UM Sumatera Barat untuk berperan aktif dalam penanganan dan pemulihan awal pascabencana di wilayah Sumatra Barat, yang dikenal sebagai daerah rawan bencana.
Rektor UM Sumatera Barat, Dr. Riki Saputra, M.A, menyampaikan apresiasi atas amanah yang diberikan. Menurutnya, hibah ini merupakan pengakuan terhadap kapasitas perguruan tinggi dalam merespons persoalan kebencanaan secara ilmiah dan terukur.
“Alhamdulillah, UM Sumatera Barat bersyukur dan berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan pemerintah melalui Kemdiktisaintek dan Ditjen Risbang. Terpilihnya UM Sumbar sebagai penerima hibah PKM Tanggap Darurat Bencana menunjukkan bahwa perguruan tinggi tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan riset, tetapi juga garda depan dalam kerja-kerja kemanusiaan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa seluruh rangkaian program akan dijalankan secara akuntabel, memberikan dampak langsung bagi masyarakat terdampak, serta sejalan dengan nilai-nilai persyarikatan Muhammadiyah.
Sementara itu, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UM Sumatera Barat, Fadil Maiseptian, S.Sos.I., M.Pd, menjelaskan bahwa hibah tersebut akan difokuskan pada program tanggap darurat yang terintegrasi.
“Kami tidak hanya memberikan bantuan segera, tetapi juga pemulihan psikososial, penguatan ketahanan komunitas, serta dukungan terhadap keberlanjutan aktivitas pendidikan di wilayah terdampak. Program ini dirancang berbasis riset dan kompetensi akademik,” jelasnya.
Ia menambahkan, implementasi program akan melibatkan dosen, mahasiswa, serta mitra strategis di tingkat lokal, dan dilaksanakan di beberapa titik bencana di Sumatra Barat.
Hibah PKM Tanggap Darurat Bencana ini merupakan bagian dari langkah strategis Kemdiktisaintek dalam merespons bencana yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, di mana banyak perguruan tinggi serta sivitas akademika turut terdampak.
Melalui skema ini, perguruan tinggi didorong untuk hadir sebagai pelaksana program pemulihan sosial, psikologis, dan akademik di wilayah bencana.
Dengan dukungan pendanaan dari Kemdiktisaintek dan Ditjen Risbang, UM Sumatera Barat diharapkan mampu menghadirkan program tanggap darurat yang lebih terstruktur, terukur, dan berkelanjutan.
Selain membantu masyarakat terdampak, hibah ini juga memperkuat budaya riset dan pengabdian di lingkungan kampus, sekaligus menjadi ruang pembelajaran nyata bagi mahasiswa dalam menghadapi krisis kemanusiaan. (*)
Editor : Adetio Purtama