Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan parameter terkini menunjukkan gempa tersebut berkekuatan M 5,1 dan tidak berpotensi tsunami.
Plt. Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, menjelaskan episenter gempa berada pada koordinat 0,52° LS dan 99,16° BT.
Lokasi pusat gempa berada di laut, sekitar 99 kilometer arah Barat Daya Agam, Sumatera Barat, dengan kedalaman 59 kilometer.
Berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa ini dikategorikan sebagai gempa dangkal yang dipicu oleh aktivitas subduksi lempeng.
“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi memiliki mekanisme pergerakan turun atau normal fault,” ujar Rahmat dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (16/2/2026).
Dampak guncangan dirasakan di tujuh wilayah di Sumatera Barat dengan tingkat intensitas berbeda berdasarkan skala Modified Mercalli Intensity (MMI).
Kabupaten Agam, Pasaman Barat, Kota Padangpanjang, dan Kepulauan Mentawai merasakan getaran dengan intensitas III MMI, yang berarti getaran terasa nyata di dalam rumah seperti ada truk melintas.
Sementara itu, Kota Bukittinggi, Padang, dan Pariaman mencatat intensitas II MMI, di mana getaran hanya dirasakan sebagian orang dan menyebabkan benda ringan yang tergantung bergoyang.
Meski guncangan terasa cukup jelas di sejumlah wilayah, hasil pemodelan BMKG menegaskan gempa di Mentawai tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Hingga pukul 13.20 WIB, hasil monitoring BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempa susulan atau aftershock yang menyertai peristiwa tersebut.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun waspada terhadap kemungkinan gempa susulan, serta tidak terpengaruh informasi yang belum terverifikasi.
Baca Juga: Libur Nasional, Arus Lalu Lintas Bukittinggi–Payakumbuh di Simpang Piladang Ramai Lancar
Publik diminta hanya mengakses informasi resmi melalui kanal terverifikasi, seperti aplikasi WRS-BMKG atau InfoBMKG, situs resmi bmkg.go.id, dan akun media sosial @infoBMKG.
Peristiwa gempa ini kembali mengingatkan masyarakat Sumatera Barat yang berada di zona subduksi aktif untuk selalu memahami karakteristik wilayahnya serta mengikuti informasi resmi dari otoritas terkait.(*)
Editor : Hendra Efison