Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

656 Daerah Irigasi Rusak akibat Banjir di Sumbar, Sebagian Sudah Berfungsi untuk Aliri 56.996 Hektare Sawah

Hendra Efison • Selasa, 16 Juni 2026 | 11:30 WIB
Petugas melakukan penanganan darurat pada jaringan irigasi Gumarang di Kabupaten Agam yang rusak akibat banjir hidrometeorologi di Sumatera Barat. (Dok. Dinas SDABK Sumbar)
Petugas melakukan penanganan darurat pada jaringan irigasi Gumarang di Kabupaten Agam yang rusak akibat banjir hidrometeorologi di Sumatera Barat. (Dok. Dinas SDABK Sumbar)

PADEK.JAWAPOS.COM – Sebanyak 656 daerah irigasi terdampak banjir hidrometeorologi yang melanda Sumatera Barat pada 26 November 2025. Meski sebagian jaringan masih mengalami kerusakan, Pemerintah Provinsi Sumbar memastikan sejumlah saluran sudah kembali berfungsi sehingga kebutuhan air bagi sekitar 56.996,16 hektare sawah mulai terpenuhi.

Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi (SDABK) Sumbar, Rifda Suryani, mengatakan upaya penanganan darurat terus berlangsung bersama Balai Wilayah Sungai Sumatra V (BWSS V) dan jajaran SDABK. Fokus utama saat ini adalah memastikan pasokan air tetap tersedia bagi petani agar musim tanam tidak terganggu.

Menurut Rifda, kerusakan irigasi tersebar di hampir seluruh wilayah Sumbar dengan tingkat kerusakan yang beragam. Sebagian lokasi sudah mendapatkan penanganan sementara sehingga aliran air kembali masuk ke area persawahan masyarakat.

Kerusakan Irigasi Capai 656 Lokasi

Data SDABK mencatat dari total 656 daerah irigasi yang terdampak, sebanyak 23 daerah irigasi merupakan kewenangan Pemerintah Provinsi Sumbar dengan cakupan layanan 12.234,55 hektare sawah.

Sementara itu, 633 daerah irigasi lainnya berada di bawah kewenangan pemerintah kabupaten dan kota dengan luas layanan mencapai 44.761,61 hektare.

Wilayah yang mengalami dampak cukup besar antara lain Kabupaten Tanahdatar dengan 170 daerah irigasi terdampak dan luas layanan 5.022,90 hektare. Kemudian Pesisir Selatan mencatat 103 daerah irigasi terdampak dengan luas sawah 7.170,92 hektare.

Kabupaten Agam mengalami kerusakan pada 78 daerah irigasi dengan luas layanan 4.433,33 hektare. Selain itu, Padangpariaman mencatat 47 daerah irigasi terdampak yang mengairi 6.337,50 hektare sawah.

Daerah lain yang turut terdampak antara lain Pasaman Barat sebanyak 23 daerah irigasi dengan luas layanan 2.475 hektare, Kota Padang sebanyak 24 daerah irigasi dengan luas 1.282,07 hektare, serta Kabupaten Pasaman sebanyak 13 daerah irigasi dengan luas layanan sekitar 2.000 hektare.

Sejumlah Jaringan Sudah Kembali Mengalir

Rifda menjelaskan beberapa titik prioritas sudah mendapatkan penanganan darurat agar petani tetap memperoleh pasokan air. Salah satunya berada di Daerah Irigasi Gunung Nago.

Pada lokasi tersebut, SDABK memasang pipa dan melakukan pekerjaan galian tanah dengan anggaran Rp344,37 juta. Saat ini intake kanan Daerah Irigasi Gunung Nago kembali berfungsi dan mampu mengairi sekitar 50 hingga 70 hektare sawah.

Selain itu, penanganan sementara juga berlangsung di Daerah Irigasi Gadang Sini, Kabupaten Padangpariaman. Petugas memasang pipa HDPE sepanjang 108 meter untuk mengembalikan aliran air ke lahan pertanian warga.

Sementara itu, Daerah Irigasi Gumarang di Kabupaten Agam juga mulai kembali mengalirkan air ke sawah masyarakat. Namun kapasitas layanan masih belum maksimal karena penanganan yang dilakukan bersifat darurat.

Pemulihan Total Menunggu Pekerjaan Permanen

SDABK menegaskan perbaikan permanen akan dilakukan secara bertahap melalui Bidang Irigasi. Langkah tersebut diperlukan untuk mengembalikan fungsi jaringan secara penuh sekaligus meningkatkan ketahanan infrastruktur terhadap bencana serupa.

Selain memperbaiki kerusakan fisik, pemerintah juga berupaya memastikan aktivitas pertanian tetap berjalan selama proses rehabilitasi berlangsung. Karena itu, penanganan sementara menjadi prioritas agar kebutuhan air petani tidak terputus.

"Pemerintah Provinsi Sumatera Barat berusaha semaksimal mungkin agar sawah yang terdampak bencana dapat kembali berfungsi dan musim tanam tidak terganggu," ujar Rifda.

Pemulihan jaringan irigasi pascabanjir menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga produksi pertanian Sumbar. Dengan berfungsinya kembali saluran irigasi, petani di sejumlah daerah diharapkan tetap dapat menjalankan musim tanam meski proses rehabilitasi belum sepenuhnya selesai.(z)

Editor : Hendra Efison
#irigasi rusak akibat banjir Sumbar #daerah irigasi Sumbar #perbaikan irigasi sawah #SDABK Sumbar #banjir hidrometeorologi 2025