Momen Hari Pendidikan Nasional tercoreng.Video mesum dua orang guru di Pesisir Selatan viral. Video tersebut menampilkan seorang guru perempuan berstatus PPPK, yang merupakan janda dengan 4 anak, bersama seorang guru laki-laki yang masih beristri dan memiliki dua anak. Pemkab Pesisir selatan pun murka dan memecat keduanya.
Adegan mesum dilakukan guru laki-laki diam-diam tanpa sepengetahuan si wanita. Rupanya ia punya niat jahat terselubung Setelah hubungan keduanya berakhir, guru laki-laki tersebut meminta uang sebesar Rp 2 juta kepada perempuan tersebut. Kalau tak diberi ia mengancam video disebarluaskan. Permintaan itu tidak dapat dipenuhi karena alasan keterbatasan ekonomi. Ia tidak punya uang walau hanya Rp 2 juta untuk menutup aib. Akhirnya si lelaki nekat menyebarkan video tersebut hingga viral di berbagai grup WhatsApp.
Saat diiterogasi pihak berwenang pria tersebut tidak mau mengakui perbuatannya. Padahal pihak perempuan sudah berkata jujur saat penyelidikan. Kasus ini sangat membuat prihatin. Kalau pun yang melakukannya orang yang tak berpendidikan, kurang beragama pula tetap saja tidak bisa diterima.
Walau oknum, dua pelaku adalah guru. Tenaga pendidik. Tugasnya mendidik anak agar pandai dan berkarakter baik. Kalau seperti ini kelakuan dan karakter guru, bagaimana dengan hasil didikannya? Sama sekali tidak mencerminkan sifat seorang guru. Mau tarok dimana muka mereka setelah viral?
Masih beranikah tanpa rasa bersalah berdiri di depan kelas memberikan pelajaran seperti sebelumnya? Masihkah sanggup menatap mata siswa seperti tak terjadi apa-apa?Kalau berani menyebarkan video mesum sendiri berarti sudah tak punya malu. Patut dipertanyakan mental dan moralnya. Apalagi soal agama. Sudah tepat sanksi pemecatan mereka didapatkan. Tindakan tersebut melanggar integritas, kesopanan, dan norma kesusilaan yang wajib dijunjung tinggi oleh guru, serta merusak lingkungan sekolah yang kondusif. Pelaku berisiko mendapatkan sanksi sosial berat, termasuk pengucilan dari lingkungan masyarakat. Guru tak bermoral tidak pantas lagi menyandang profesi sebagai pendidik.
Guru yang mencabuli siswa atau predator masih berkeliaran di berbagai tempat. Mengintai masa yang lengah dan lemah. Tak terkecuali di lingkungan pesantren sekalipun. Sudah berulangkali kejadian pengasuh pondok pesantren mencabuli santri dengan cara memperdaya.
Makanya, tidak semua pendidik bisa dipercaya seratus persen. Mungkin penampilan luar sangat meyakinkan sebagai sosok pengayom tapi di lubuk hatiya ada kebusukan. Tidak beres moral dan karakternya.
Untuk itu, pengawasan prilaku guru harus dilakukan. Kalau melihat ada yang janggal patut dicurigai. Termasuk pembinaan secara berkesinambungan terhadap guru. Ini akan membantu guru dalam menerapkan sikap positif, mempersempit ruang geraknya melakukan perbuatan amoral. (*)
Editor : Adriyanto Syafril