Gambaran beban hidup semakin berat sudah mulai terasa. Menyusul merangkak naik harga barang di pasaran.
Mulai produk industri, kebutuhan sehari-hari hingga bahan pokok. Diawali kenaikan harga plastik imbas perang Timur Tengah, bahan bangunan hingga hampir semua barang dan bahan pangan ikut terkerek naik.
Sembako seperti cabai, bawang merah, daging dan telur ayam, minyak goreng dan lainnya dalam pekan ini naik cukup tajam.
Di pasar Payakumbuh dan Limapuluh Kota harga beras lokal yang sebelumnya berada di angka Rp 16.667 per kilogram kini naik menjadi Rp 17.167 per kilogram. Bawang merah yang sebelumnya Rp 40 ribu per kilogram dan kini naik menjadi Rp 41 ribu per kilogram.
Sementara itu, cabai merah keriting mengalami kenaikan cukup signifikan. Jika sebelumnya berada di harga Rp 40 ribu per kilogram, kini naik menjadi Rp 43 ribu per kilogram. Telur ayam ras juga mulai mengalami kenaikan. Sebelumnya Rp 28 ribu per kilogram naik menjadi Rp 29 ribu per kilogram.
Daging ayam ras juga ikut merangkak naik. Sebelumnya Rp 35 ribu per kilogram menjadi Rp 36.250 per kilogram. Minyak goreng pun melambung berkisar Rp 19 ribu hingga Rp 23 ribu per liter.
Kenaikan telur dan ayam diduga juga dipicu oleh program makan bergizi gratis (MBG). Masyarakat kelas menengah ke bawah jadi terimbas. Daya beli pun jadi melemah. Turunnya daya beli masyarakat membuat pedagang maupun produsen merugi. UMKM pun tertekan.
Untuk beras, walau cadangan beras Bulog melimpah nampaknya tidak mampu meredam kenaikan beras di pasaran. Buktinya harga beras lokal tetap naik. Ini karena jenis beras Bulog berbeda dengan beras yang dikonsumsi masyarakat Sumbar.
Warga Sumbar terbiasa mengkonsumsi beras pera, sulit beralih ke beras pulen. Nah, kenapa Bulog tidak menyediakan jenis beras pera pula. Sesuai kebutuhan masyarakat Sumbar misalnya.
Kenaikan harga beras juga dipicu bencana alam akhir 2025 lalu. Ratusan herktare bahkan ribuan lahan sawah terdampak banjir bandang dan galodo.
Sudah lebih empat bulan atau sekali musim tanam belum juga ada perbaikan irigasi yang jebol dihanyutkan banjir. Rencananya baru akan dilaksanakan perbaikan permanen bulan Juli mendatang.
Itu artinya masih menunggu beberapa bulan lagi. Bisa jadi kelarnya tahun 2027. Menunggu bendungan irigasi diperbaiki petani yang sawahnya telantar jadi menganggur. Tidak semua lahan bisa ditanami jagung atau sayur-sayuran. Mereka terpaksa beli beras untuk makan. Hasil ladang yang tak seberapa jelas tak bisa menutupi kebutuhan hidup yang makin menggila.
Nah, untuk minyak goreng, ini yang tidak masuk di akal. Kita kaya akan kelapa sawit tapi minyak goreng mahal. Dulu pernah ribut soal sawit banyak diekspor sehingga kebutuhan dalam negeri jadi terganggu. Sudah diatur kembali porsi ekspor supaya cukup untuk kenbutuhan nasional. Tapi sekarang entahlah. Memang ada minyak subsidi MinyakKita. Tapi selisih harga tak beda jauh dengan minyak goreng lainnya.
Pemerintah punya program bak pemadam kebakaran. Untuk menstabilkan hargsa dan mengendalikan inflasi dilakukan operasi pasar. Tapi sejauh mana operasi pasar murah mampu menekan kenaikan harga, perlu survei independen agar hasilnya akurat. (*)
Editor : Adriyanto Syafril