PADEK.JAWAPOS.COM-Ikan Bilih, salah satu ikan endemik yang sangat identik dengan Danau Singkarak, kini menghadapi ancaman akibat erupsi Gunung Marapi dan bencana galodo yang melanda kawasan tersebut.
Meskipun terkenal dengan cita rasa khasnya yang gurih dan manis, keberadaan Ikan Bilih saat ini semakin langka di pasaran.
Ikan Bilih (Mystacoleucus padangensis) memang menjadi salah satu daya tarik utama di kawasan Danau Singkarak, yang terletak di Kabupaten Tanahdatar dan Kabupaten Solok, Sumatera Barat.
Ikan ini kerap dijadikan oleh-oleh bagi wisatawan yang berkunjung, berkat cita rasa uniknya yang mampu menggugah selera.
Sebagian besar Ikan Bilih yang dijual di sekitar danau adalah dalam bentuk ikan kering, dengan harga bervariasi tergantung ukuran, mulai dari Rp 300.000,- hingga Rp 350.000,- per kilogram untuk Ikan Bilih kering.
Namun, kondisi lingkungan yang semakin terganggu akibat aktivitas vulkanik Gunung Marapi dan banjir bandang galodo turut memengaruhi jumlah tangkapan Ikan Bilih.
Alekson, seorang nelayan sekaligus pedagang Ikan Bilih di Nagari Simawang, Kecamatan Rambatan, Tanahdatar, menjelaskan bahwa hasil tangkapan nelayan kini menurun drastis.
“Erupsi Gunung Marapi dan galodo menyebabkan material abu dan lumpur masuk ke Danau Singkarak, membuat kualitas air dan kondisi lingkungan semakin buruk bagi ikan,” ungkap Alekson.
Menurut Alekson, meskipun Ikan Bilih tidak terancam punah, saat ini ikan tersebut lebih jarang ditemukan di danau. “Ini bukan musim panen raya Ikan Bilih. Panen raya biasanya terjadi pada akhir Juni hingga awal Juli,” tambahnya.
Namun, keberadaan material galodo dan abu vulkanik yang menutupi permukaan danau membuat ikan Bilih enggan keluar ke permukaan. Bilih cenderung menghindari daerah dengan air yang keruh dan tercemar.
Kondisi ini juga mempengaruhi penjualan Ikan Bilih di pasar. Meski demikian, Ikan Bilih tetap memiliki pangsa pasar yang luas, dengan pembeli yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Pekanbaru, dan Palembang.
Alekson menyarankan agar para pembeli mencicipi ikan sebelum membeli untuk memastikan kualitasnya yang gurih dan manis. Bagi banyak pengunjung, Ikan Bilih tetap menjadi oleh-oleh khas yang tak bisa ditemukan di tempat lain.
Seperti halnya Tuti Herlina, 45 tahun, yang membeli Ikan Bilih untuk dibawa pulang ke Palembang.
“Saya memilih Ikan Bilih karena ini adalah ikan yang hanya ada di Singkarak. Rasanya juga khas, jadi saya pikir ini akan jadi oleh-oleh yang istimewa,” ujarnya saat ditemui di lapak penjual di tepian Danau Singkarak, Kamis (1/5).
Namun, meski tetap menjadi kebanggaan lokal, keberadaan Ikan Bilih kini terancam oleh kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh bencana alam. Jika tidak ada langkah mitigasi yang efektif, keberadaan ikan endemik ini di masa depan bisa semakin terancam.
Selain Ikan Bilih, Danau Singkarak juga menjadi rumah bagi berbagai jenis ikan lainnya, seperti Ikan Sasau, Turiak, Gariang, Kapieh, Gasang, dan Batutu. Meski demikian, Ikan Bilih tetap menjadi simbol kuliner khas daerah ini yang tak tergantikan. (rna)
Editor : Novitri Selvia