Rapat tersebut dipimpin oleh Eka Putra dan diikuti jajaran pemerintah daerah, termasuk Abdurrahman Hadi, Asisten II, Kalaksa BPBD, serta sejumlah pimpinan OPD. Dari pihak pusat hadir Sekretaris Utama BNPB, Rustian.
Dalam pemaparannya, Bupati Eka Putra menyebutkan bahwa bencana banjir, banjir bandang, longsor, dan angin kencang melanda wilayah Tanahdatar dalam beberapa hari terakhir.
“Setidaknya ada 35 nagari terdampak. Data sementara dua orang meninggal dunia dan satu orang masih dalam pencarian. Sedangkan jumlah pengungsi hampir mencapai 7.000 jiwa,” ujarnya.
Selain korban jiwa, bencana juga menyebabkan kerusakan besar pada infrastruktur dan lahan pertanian. Tercatat 66 rumah hanyut, 51 rusak berat, dan 37 rusak sedang.
Kerusakan juga meliputi 29 ruas jalan rusak berat, lima rusak ringan, 13 jembatan putus, 10 jembatan rusak berat, tiga unit perkantoran, enam sekolah, 13 rumah ibadah, serta 32 jaringan irigasi. Lahan pertanian yang terdampak mendekati 500 hektare.
Untuk wilayah terisolir seperti Guguak Malalo, evakuasi dilakukan menggunakan kapal dan perahu bermotor.
Pemerintah daerah mengajukan kebutuhan mendesak berupa dua unit ekskavator, 10 laporan tenda, dua mobil tangki, 20 genset, 20 WC portabel, 100 senter, perlengkapan bayi, serta selimut, kasur, dan kebutuhan perempuan serta bayi.
Menanggapi permintaan tersebut, pihak BNPB menyatakan akan segera menyalurkan bantuan sesuai kebutuhan.
“Untuk helikopter saat ini hanya tersedia satu unit, sehingga evakuasi udara masih terbatas. Untuk BBM akan kami bantu,” ujar Rustian.
Usai rapat, pemerintah daerah juga menerima bantuan dari Bank Nagari Sumbar senilai Rp25 juta yang diserahkan oleh Zilfa Efrizon.
Selain itu, bantuan beras satu ton datang dari perantau asal Sungayang melalui PT Arifan Makmur Properti.
“Bantuan ini akan segera disalurkan kepada masyarakat dan pengungsi yang membutuhkan,” ujar bupati mengakhiri kegiatan.(*)
Editor : Heri Sugiarto