Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Rupiah Sentuh Rp 17.300 per USD

jpg • Jumat, 24 April 2026 | 09:35 WIB
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) makin tertekan di level Rp16.821,5 per USD pada pukul 15.22 WIB, Senin (7/4/2025). (Foto: Salman Toyibi/Jawa Pos)
Ilustrasi.

PADEK.JAWAPOS.COM - Nilai tukar rupiah kembali tertekan. Pada perdagangan kemarin (23/4), rupiah sempat menembus level Rp17.300 per dolar Amerika Serikat (AS) sebelum akhirnya ditutup di Rp 17.286.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan, pelemahan rupiah masih sejalan dengan mata uang regional. Secara year to date (Ytd), rupiah tercatat melemah 3,54 persen. “Tekanan terhadap rupiah dipengaruhi meningkatnya ketidakpastian global yang juga menekan mata uang regional,” ujarnya kemarin (23/4).

BI merespons kondisi tersebut dengan meningkatkan intensitas intervensi di pasar keuangan. Langkah dilakukan melalui pasar offshore non-deliverable forward (NDF), pasar spot, domestic NDF (DNDF), serta pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder.

Selain itu, BI juga memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter agar tetap menarik bagi investor. “Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dan mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur,” tuturnya.

Dari sisi fundamental, cadangan devisa Indonesia masih kuat. Hingga akhir Maret 2026, posisinya mencapai USD 148,2 miliar.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah dipicu kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari eksternal, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah masih membayangi pasar. Risiko gangguan distribusi minyak di jalur strategis seperti Selat Hormuz dan Laut Oman meningkatkan kekhawatiran investor. “Potensi gangguan pasokan minyak dunia menjadi sentimen negatif bagi rupiah,” ujarnya.

Selain itu, pasar juga menanti arah kebijakan bank sentral AS (Federal Reserve) yang dinilai belum jelas. Kondisi tersebut mendorong aliran dana ke aset aman berbasis dolar AS. Dari domestik, kenaikan harga minyak dunia turut menekan rupiah. Harga Brent tercatat sekitar USD 103 per barel dan WTI di kisaran USD 98 per barel.

Sebagai negara pengimpor minyak, kebutuhan dolar AS untuk impor energi meningkat, sehingga memberi tekanan tambahan pada rupiah.  Meskipun demikian, intervensi BI dinilai cukup efektif meredam pelemahan. “Intervensi BI cukup mumpuni untuk menahan tekanan lebih lanjut,” kata Ibrahim. (mim/dio/jpg)

Editor : Adriyanto Syafril
#Rupiah Tertekan #dollar as