Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Catatan Ekspedisi Tim Seven Summit West Sumatera to Gunung Kerinci (3): Lorong Sempit, Kayu Unik, dan Batas Vegetasi

Two Efly • Kamis, 30 April 2026 | 07:05 WIB
Tim advance Sevent Summit West Sumatera menuju Shelter 3. Di sana tim ngecamp semalam sebelum summit Sabtu dini hari (25/4). (DOK TIM SEVEN SUMMIT WEST SUMATERA)
Tim advance Sevent Summit West Sumatera menuju Shelter 3. Di sana tim ngecamp semalam sebelum summit Sabtu dini hari (25/4). (DOK TIM SEVEN SUMMIT WEST SUMATERA)

Setelah beristirahat semalam di Shelter 1, Jumat pagi, 24 April, menjadi titik awal bagi tim untuk memasuki etape kedua pendakian Gunung Kerinci. Etape ini bukan sekadar lanjutan perjalanan, melainkan fase yang kerap disebut sebagai “ujian sesungguhnya” bagi para pendaki.

Laporan: Two Efly & Azib Fattah MP

Pagi itu, langit di Shelter 1 tampak bersih. Kabut yang biasanya menyelimuti kawasan hutan perlahan menghilang, membuka pandangan luas ke arah puncak. Dari titik ini, Puncak Indrapura (3.805 mdpl) terlihat begitu gagah—seolah berdiri sebagai penjaga langit Sumatera.

Pemandangan tersebut bukan hanya memanjakan mata, tetapi juga memunculkan perasaan campur aduk: kagum, tertantang, sekaligus waspada. Di balik keindahannya, puncak itu menyimpan tantangan yang tidak ringan.

Aktivitas para pendaki sudah dimulai sejak pagi. Ada yang sibuk menjerang air dan ada pula yang sekadar duduk sambil menikmati secangkir kopi panas. Semua tampak berpacu dengan waktu, seolah memahami bahwa setiap menit di gunung memiliki arti penting.

Tim Seven Summit West Sumatera pun tak ketinggalan. Sejak pagi, dua pemandu andalan, Lihun Alfonso dan Bang Roy, sudah lebih dulu bangun. Mereka bergerak cepat, membagi tugas tanpa banyak bicara—sebuah tanda pengalaman yang tak perlu lagi dijelaskan dengan kata-kata.

Aroma nasi goreng mulai tercium, bercampur dengan dinginnya udara pegunungan. Menu sarapan pagi itu terbilang mewah untuk ukuran pendakian: nasi goreng sambal rendang dengan tambahan mi dan nugget. Sementara itu, minuman hangat seperti kopi, teh, dan susu menjadi pelengkap yang tak tergantikan.

Dalam pendakian, makanan bukan sekadar pengganjal perut. Ia adalah sumber energi, bahan bakar utama bagi tubuh untuk terus bergerak melawan gravitasi.

Pembagian Tim dan Strategi Pendakian

Pukul 09.00 WIB, seluruh anggota tim telah menyelesaikan sarapan dan packing. Carrier kembali dipanggul, tali sepatu dikencangkan. Sebelum memulai perjalanan, Lihun Alfonso memimpin doa.

Bagi tim Seven Summit, doa tidaklah sebatas ritual. Doa adalah wujud nyata dari penyerahan diri kepada Yang Kuasa agar perjalanan dapat dilakukan dengan aman dan lancar.

Sesuai kesepakatan, tim dibagi menjadi dua kelompok. Keputusan ini bukan tanpa alasan. Selain mempertimbangkan kondisi fisik masing-masing anggota, faktor cuaca juga menjadi pertimbangan utama.

Dalam beberapa hari terakhir, pola cuaca di Gunung Kerinci cenderung tidak stabil. Pagi hari bisa sangat cerah, namun menjelang siang hingga sore, hujan deras kerap turun tanpa peringatan.

“Tim kita bagi dua. Empat orang berangkat lebih awal. Saya pimpin tim pertama. Tugas kita sampai lebih dulu di Shelter 3, bangun tenda, dan siapkan kebutuhan tim,” ujar Lihun.

Tim pertama yang berperan sebagai tim advance terdiri dari Lihun Alfonso, Azib Fattah MP, Two Efly, dan Habil. Mereka akan membuka jalan sekaligus memastikan segala kebutuhan logistik siap sebelum tim kedua tiba.

Memasuki Jalur Sempit dan Menanjak

Pukul 09.05 WIB, langkah pertama di etape kedua dimulai. Jalur awal masih berada dalam kawasan hutan dengan vegetasi yang cukup rapat. Namun, tak butuh waktu lama untuk menyadari bahwa medan kali ini jauh lebih berat.

Baru beberapa menit berjalan, tanjakan sudah menyambut. Tidak ada pemanasan, tidak ada transisi. Jalur langsung “menggigit”.

Lorong sempit bekas aliran air menjadi jalur utama. Lebarnya hanya cukup untuk satu orang, dengan pijakan yang terbatas. Dinding tanah di kiri dan kanan kadang licin. Beruntung, hujan sebelumnya telah membersihkan lumpur yang biasanya membuat jalur lebih berbahaya.

“Mas, kira-kira berapa lama ke Shelter 2?” tanya Azib di sela perjalanan.

“Sekitar tiga sampai empat jam. Kalau pendaki profesional bisa tiga jam, tapi kita santai saja,” jawab Lihun. Jawaban itu terdengar sederhana, namun menyiratkan perjalanan panjang yang menanti.

Lorong Tanpa Ampun

Lorong-lorong sempit itu seakan tak ada habisnya. Pijakan yang kecil membuat setiap langkah harus diperhitungkan. Salah sedikit saja, kaki bisa tergelincir.

Beberapa bagian jalur menyediakan celah pijakan di sisi atas, namun itu pun tidak selalu aman. Dibutuhkan keseimbangan dan ketenangan untuk melaluinya.

Rasa lelah mulai terasa, meskipun perjalanan belum genap satu jam. Selepas lorong sempit, jalur tidak menjadi lebih ramah. Akar-akar pohon yang menjalar di permukaan tanah justru menjadi “tangga alami” yang harus dipanjat.

Kemiringan semakin curam. Kini, berjalan tanpa berpegangan hampir mustahil. “Wah, makin berat ya. Saya kira setelah lorong ini jalurnya enak,” keluh Azib.

Kami hanya tersenyum. Di gunung, harapan sering kali harus disesuaikan dengan kenyataan.

Pintu Angin

Sekitar 50 menit berjalan, kami tiba di sebuah area terbuka yang dikenal sebagai “Pintu Angin”. Di lokasi ini, vegetasi sedikit terbuka, memungkinkan angin berhembus lebih kencang.

Angin yang datang membawa kesejukan, sekaligus mengingatkan betapa kecilnya manusia di tengah alam.

Kami memutuskan untuk beristirahat sejenak. Tidak banyak yang dilakukan. Hanya duduk, menarik napas, minum air, dan mencoba menenangkan detak jantung yang masih berpacu.

“Kita jangan lama-lama. Istirahat secukupnya saja,” kata Lihun. Kami mengangguk. Waktu adalah hal yang sangat berharga di gunung.

Edelweiss dan Kayu “Unik”

Sekitar 30 menit setelah Pintu Angin, kami tiba di sebuah dataran kecil. Tidak terlalu luas, namun cukup nyaman untuk beristirahat.

Di sana, dua batang edelweiss tumbuh dengan anggun. Bunganya belum mekar sempurna, namun sudah menunjukkan keindahannya.

Di tengah suasana tenang itu, perhatian kami tertuju pada dua batang pohon mati yang telah diukir manusia.

Bentuknya cukup “unik”.

“Wah, ini dia yang viral itu, kayu mesum!” kata Azib sambil tertawa.

Lihun hanya tersenyum. Ia tampaknya sudah menunggu momen itu. Tawa kecil pecah di tengah kelelahan. Di gunung, hal-hal sederhana seperti ini bisa menjadi pelepas penat yang sangat berarti. Saya pun tak melewatkan kesempatan untuk mengabadikan momen tersebut.

Shelter 2 Bayangan dan Shelter 2

Perjalanan dilanjutkan. Jalur semakin curam, tenaga semakin terkuras. Tak lama kemudian, kami tiba di Shelter 2 Bayangan—area datar yang bisa digunakan untuk kondisi darurat.

Namun, sesuai arahan Lihun, kami tidak berlama-lama di sana. “Kalau masih kuat, lebih baik lanjut,” ujarnya.

Kami pun melanjutkan perjalanan hingga akhirnya tiba di Shelter 2 sekitar pukul 12.25 WIB. Waktu tempuh sekitar tiga jam lebih sedikit—masih dalam batas normal.

Di Shelter 2, kami beristirahat lebih lama. Beberapa pendaki berpapasan dengan kami saat turun dari Shelter 3. Di lokasi ini, kami melepas beban tubuh, meregangkan otot, dan menikmati momen berhenti.

Menuju Shelter 3: Awal Batas Vegetasi

Perjalanan menuju Shelter 3 menjadi fase yang berbeda dan lebih berat lagi. Jaraknya memang hanya sekitar 1,2 kilometer, namun jalurnya lebih terbuka dan lebih menanjak.

Vegetasi mulai berubah. Pepohonan besar semakin jarang, sementara pohon centigi lebih mendominasi. Jalur pendakian pun mulai berbeda. Jika dari bawah didominasi tanah kuning, maka antara Shelter 2 menuju Shelter 3 berubah menjadi bebatuan dan pasir vulkanik. Ini menjadi pertanda bahwa kami mulai mendekati batas vegetasi.

Tanjakan kembali menjadi tantangan utama: curam, licin, dan membutuhkan banyak pegangan.

“Curam sekali,” ujar Azib.

Lelah sudah pasti. Sempat menyelinap rasa ingin menyerah, namun rasa itu langsung kami buang jauh. Satu-satunya upaya adalah terus melangkah. Seayun demi seayun, selangkah demi selangkah, akhirnya kami mendekati Shelter 3 Gunung Kerinci.

Langkah Terakhir Menuju Shelter 3

Langkah terasa semakin berat. Napas semakin pendek. Namun, semangat untuk mencapai target terus menyala.

“Ayo, sedikit lagi,” kata Lihun.

Kalimat sederhana itu menjadi dorongan besar. Kami mempercepat langkah, mengabaikan rasa lelah. Dan akhirnya, kami sampai di Shelter 3.

“Alhamdulillah, kita sampai,” ujar Lihun.

“Bapak sama Azib silakan istirahat dulu. Saya segera bangun tenda dan mencari air. Setelah itu kita masak dan sarapan sekaligus menyiapkan untuk rombongan kedua.”

Saran Lihun kami ikuti. Kami duduk, melepaskan beban, dan menikmati pemandangan. Hamparan kebun teh terlihat jelas dari kejauhan. Permukiman warga tampak kecil. Jejeran Gunung Tujuh berjajar indah. Di kejauhan juga tampak berdiri Gunung Merusai.

Namun, keindahan itu tak bertahan lama. Kabut turun perlahan, menutup semuanya. Kami pun masuk ke dalam tenda.

Target perjalanan hari kedua pendakian telah tercapai. Secara total, kami membutuhkan waktu lima jam perjalanan untuk menapakkan kaki di Shelter 3 Gunung Kerinci. (bersambung)

Editor : Adriyanto Syafril
#Seven Summit West Sumatera #pendakian Gunung Kerinci #jalur pendakian Kerinci #Shelter 3 Kerinci #Ekspedisi pendaki Indonesia