Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Menjemput Hakikat Pendidikan

Adriyanto Syafril • Senin, 4 Mei 2026 | 11:15 WIB
Krismadinata
Krismadinata

 

Penulis : Krismadinata Rektor Universitas Negeri Padang

Pendidikan adalah sebuah perjalanan pulang. Ia adalah proses pendakian seorang hamba dari gelapnya ketidaktahuan menuju terangnya cahaya makrifat. Dalam tradisi luhur kita, belajar bukanlah sekadar mengisi tempayan kosong dengan tumpukan informasi, melainkan menyalakan pelita yang memang sudah ada di dalam jiwa setiap insan.

Namun, ketika kita menatap wajah pendidikan hari ini, kita seringkali terjebak pada angka, statistik, dan lembaran ijazah yang kering dari ruh. Kita perlu kembali bertanya dengan hati yang jernih: untuk apa sesungguhnya kita mendidik?

Setiap anak manusia lahir dengan membawa fitrah—sebuah cetak biru kesucian yang memancarkan asma-asma Ilahi. Maka, hakikat pendidikan adalah proses “tazkiyatun nafs” atau penyucian jiwa. Pendidikan semestinya menjadi wasilah bagi manusia untuk mengenal dirinya (man ‘arafa nafsahu), sehingga ia mengenal Tuhannya (‘arafa Rabbahu).

Bagi sebuah bangsa, pendidikan adalah fondasi peradaban. Peradaban yang agung tidaklah dibangun oleh mereka yang sekadar mahir bertukang atau pandai berhitung, melainkan oleh jiwa-jiwa yang telah selesai dengan dirinya sendiri. Manusia yang berpendidikan dalam makna hakiki adalah mereka yang kehadirannya menjadi rahmat bagi semesta (rahmatan lil ‘alamin). Mereka adalah pribadi yang memandang ilmu bukan sebagai alat kekuasaan, melainkan sebagai amanah untuk menebar manfaat dan menjaga harmoni bumi. Inilah puncak peradaban: ketika kecerdasan akal bersanding mesra dengan kelembutan hati.

Dalam dunia yang bergerak secepat kilat ini, kurikulum sering kali menjadi beban yang menghimpit bahu para pendidik dan anak didik. Kita terjebak dalam kurikulum yang padat materi namun seringkali kehilangan substansi. Kurikulum yang relevan seharusnya tidak hanya berbicara tentang bagaimana menjawab soal ujian, tetapi bagaimana menjawab tantangan kehidupan.

Kurikulum yang sejati adalah kurikulum yang “hidup”. Ia harus mampu menjembatani antara kearifan lokal yang abadi —seperti filosofi Alam Takambang Jadi Guru di tanah Minangkabau— dengan kemajuan teknologi yang tak terelakkan. Pendidikan yang relevan adalah yang mengajarkan anak-anak kita untuk menjadi pribadi yang adaptif, kreatif, dan memiliki daya tahan mental yang kokoh. Di era disrupsi, kecakapan teknis memang penting, namun kemampuan untuk terus belajar (learn to learn) dan kerendahan hati untuk mengakui keterbatasan diri adalah ilmu yang jauh lebih tinggi derajatnya.

Kita tidak boleh menutup mata pada realitas sosial yang menyesakkan: ribuan sarjana yang terombang-ambing di lautan pengangguran. Angka-angka statistik pengangguran terdidik bukan sekadar deretan digit, melainkan representasi dari mimpi-mimpi yang layu sebelum berkembang. Mengapa pendidikan yang telah ditempuh bertahun-tahun seolah tak mampu membukakan pintu rezeki?

Mungkin, selama ini kita telah mendidik anak-anak kita untuk menjadi pengikut, bukan pemimpin; untuk menjadi pelamar, bukan pencipta. Ada ketimpangan yang lebar antara kurikulum di menara gading dengan realitas di pasar kerja. Dunia hari ini tidak lagi membutuhkan robot bernyawa yang hanya bisa mengikuti instruksi, melainkan pribadi yang mampu melihat peluang di tengah kesempitan, yang mampu merajut kolaborasi di tengah persaingan. Pendidikan harus mampu menumbuhkan jiwa entrepreneurship yang berbasis pada nilai-nilai kejujuran dan kemandirian.

Di sisi lain, kita menghadapi ironi yang sangat menyentuh nurani. Perguruan tinggi kita setiap tahun memanen sarjana pendidikan dalam jumlah yang masif, namun daya serap lapangan kerja bagi guru sangatlah terbatas. Terjadi surplus tenaga pendidik secara kuantitas, namun secara distribusi dan kesejahteraan, kita masih berada di titik yang memprihatinkan.

Guru adalah “warasatul anbiya”, pewaris para nabi. Mereka adalah penyambung lidah kebenaran. Namun, bagaimana mungkin seorang guru bisa fokus menyalakan pelita jiwa muridnya jika ia sendiri masih bergelut dengan kegelapan ekonomi? Banyak lulusan terbaik kita yang bercita-cita mulia menjadi pendidik akhirnya harus banting stir ke profesi lain demi menyambung hidup, sementara mereka yang tetap bertahan di jalur pengabdian seringkali tidak mendapatkan apresiasi yang layak.

 

Ketimpangan ini memerlukan keberanian kebijakan. Kita perlu menyelaraskan antara jumlah input di perguruan tinggi dengan kebutuhan riil di lapangan.

 Pendidikan tinggi tidak boleh hanya sekadar menjadi industri yang menjual mimpi tanpa mempertimbangkan tanggung jawab moral atas masa depan lulusannya. Memuliakan guru adalah kewajiban peradaban, karena di tangan merekalah nasib bangsa ini dititipkan.

Pendidikan tidak berarti menjauh dari dunia, melainkan berada di dunia dengan cara yang paling bermartabat. Kita perlu merenungkan kembali arah pendidikan kita: apakah kita sedang mencetak “manusia mesin” yang hanya patuh pada sistem ekonomi, atau “manusia sejati” yang merdeka secara lahir dan batin?

Pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang mampu melepaskan belenggu kebodohan, kesombongan, dan ketamakan. Ia adalah proses yang menjadikan manusia sadar bahwa setinggi apa pun gelarnya, ia tetaplah debu di hadapan kebesaran Pencipta. Dengan kesadaran inilah, seorang profesional tidak akan berbuat curang, seorang pejabat tidak akan berbuat zalim, dan seorang guru akan mengajar dengan penuh cinta.

Di tengah segala karut-marut tantangan pendidikan, kita tidak boleh kehilangan harapan. Harapan adalah ruh yang membuat perjuangan tetap hidup. Bagi para orang tua, didiklah anak-anak dengan doa dan keteladanan. Bagi para pendidik, tetaplah menjadi oase di tengah padang pasir ketidaktahuan. Dan bagi para pemegang kebijakan, jadikanlah keadilan dan kesejahteraan para pendidik sebagai prioritas utama.

Mari kita kembalikan pendidikan pada fitrahnya. Mari kita jadikan sekolah dan kampus bukan hanya tempat transfer pengetahuan, melainkan taman-taman ruhaniah tempat tumbuhnya karakter yang mulia. Pendidikan yang sukses bukanlah yang menghasilkan sarjana dengan IPK tertinggi, melainkan yang menghasilkan manusia yang paling bermanfaat bagi sesamanya.

Hanya dengan pendidikan yang berlandaskan kasih sayang dan kearifan, kita bisa membangun peradaban yang tegak berdiri di bawah naungan cahaya Ilahi. Sebuah peradaban di mana lapangan kerja bukan lagi menjadi beban, melainkan ladang pengabdian; di mana kurikulum bukan lagi belenggu, melainkan sayap untuk terbang; dan di mana setiap manusia merasa bermakna karena ia telah menemukan tujuan penciptaannya.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing langkah kita dalam menenun masa depan melalui pendidikan yang benar-benar mendidik jiwa. Amin. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#Universitas Negeri Padang #Rektor UNP Krismadinata