Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Tiga ”Peneliti” WNI Diduga Buat Riset Pakai AI

jpg • Kamis, 28 Mei 2026 | 08:50 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

PADEK.JAWAPOS.COM - Tiga WNI yang mengaku sebagai peneliti menuai sorotan publik seusai mengikuti konferensi ahli pneumonia seluruh dunia, ISPPD, di Kopenhagen, Denmark pada 17-21 Mei 2026. Mereka memaparkan hasil riset yang diduga dibuat dengan akal imitasi (AI).

Tiga orang yang mengaku peneliti itu adalah Prihatini, Rifaldy Fajar dan Rini Winarti. Ketiganya mempresentasikan riset berjudul Multi-Strain Machine Learning Identifies Transcriptomic Combination Vulnerabilities In Multidrug-Resistant Streptococcus Pneumoniae. Penelitian yang diduga palsu tersebut dibongkar oleh dua peneliti lain, yaitu Wa Ode Dwi Daningrat dan Ida Bagus Mandhara Brasika yang turut hadir dalam konferensi. 

Keduanya menuliskan temuan atas kejanggalan riset tersebut melalui akun Instagram (IG) mereka. Keanehan pertama yang ditemukan adalah pemalsuan identitas. Salah satu panelis dari riset tersebut diketahui sempat berganti-ganti nama saat presentasi dengan bermodal ganti jilbab dan nametag.

Kedua, terkait lokasi riset. Dwi Daningrat dan Mandhara Brasika menilai lokasi penelitian tidak masuk akal. Pasalnya, riset dilakukan di beberapa negara mulai dari Peruvian Andes, Dataran Tinggi Ethiopia, Dataran Tinggi Guetemala, Lebanon, Nepal, hingga India Utara. Kecurigaan semakin menguat ketika seluruh periset merupakan warga Indonesia tanpa kolaborator setempat dan keterangan persetujuan etik.

Puncaknya, afiliasi institusi yang disebut para “peneliti” tersebut tidak ditemukan di Indonesia. Dalam papper yang disampaikan, ketiganya  menyebutkan AI-BioMedicine Research Group, IMCDS-Biomed Research Foundation, Jakarta, Indonesia sebagai afiliasi organisasinya. Ketiganya diduga membuat penelitian ini dengan bantuan akal imitasi (AI).

“Risetnya dibuat terlihat sangat hebat padahal tidak pernah ada. Data palsu, di-generate AI, gambar dan tulisannya juga,” ujar Dwi Daningrat saat dihubungi Jawa Pos (grup Padang Ekspres), kemarin (27/5).

Dwi Daningrat sempat bertanya langsung ke Prihantini, untuk meminta penjelasan mengenai penelitian mereka. Sayangnya, Prihantini tak bisa menjelaskan dengan gamblang. “Katanya seluruh abstrak mereka di-generate oleh leader mereka atas nama Rifaldy Fajar,” ungkapnya.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto tengah berkoordinasi bersama pihak-pihak terkait untuk mendalami  dan memastikan fakta-fakta yang sebenarnya. Termasuk, status yang bersangkutan, bentuk afiliasi yang digunakan, serta keterkaitannya dengan institusi pendidikan tinggi atau lembaga riset di Indonesia. “Berdasarkan informasi awal yang kami dapatkan, pihak yang disebut dalam kasus ini tidak terindikasi sebagai dosen atau peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia,” ujarnya.

Menurutnya, dalam menangangi kasus dugaan pelanggaran integritas akademik dan etika penelitian, pihaknya akan mengedepankan prinsip kehati-hatian. “Semua pihak perlu diberikan ruang klarifikasi, dan setiap dugaan perlu diverifikasi secara objektif berdasarkan bukti serta mekanisme yang berlaku di lingkungan akademik dan penelitian,” jelasnya. (mia/aph/jpg)

Editor : Adriyanto Syafril
#Artificial Intelligence (AI) #riset