Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Trump Teken MoU, Iran Tegaskan Uranium dan Rudal Bukan Objek Negosiasi

jpg • Jumat, 19 Juni 2026 | 05:40 WIB
Trump menandatangani memorandum dengan Iran di Istana Versailles. (Reuters)
Trump menandatangani memorandum dengan Iran di Istana Versailles. (Reuters)

PADEK.JAWAPOS.COM -- Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) dengan Iran di Istana Versailles, sekitar 29 kilometer di barat daya Paris, Perancis, Rabu malam (17/6) waktu setempat. Men­jelang perundingan lanjutan di Swiss hari ini (19/6), Iran menegaskan bah­wa program rudal tidak akan menjadi bagian dari negosiasi.

Kementerian Luar Negeri Swiss kemarin (18/6) menyebut, diskusi awal antara AS dan Iran direncanakan berlangsung di Resor Burgenstock, Luzerne. Mengutip Middle East Eye, kedua negara akan bertemu bersama mediator Pakistan dan Qatar untuk membahas implementasi kesepakatan yang telah dicapai.

Proses penandatanganan memorandum telah dimulai lebih dulu. Trump me­nandatangani dokumen ter­sebut di Istana Versailles sesaat sebelum menghadiri jamuan makan malam yang digelar Presiden Perancis Emmanuel Macron.

Seorang pejabat Gedung Putih yang dikutip Al Jazeera mengungkapkan bahwa dokumen yang sama sebelumnya telah ditandatangani secara digital oleh Wakil Presiden Amerika JD Vance dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf. Macron juga mengunggah video di media sosial X yang memperlihatkan Trump me­nandatangani dokumen ter­sebut.

“Perjanjian ini membuka jalan bagi perdamaian abadi dan memungkinkan pembukaan kembali Selat Hormuz,” tulis Macron.

Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan, proses menuju implementasi kesepakatan kini memasuki tahap berikutnya. “Iran akan memantau kepatuhan Amerika tanpa kelonggaran,” kata Baghaei seperti dikutip Al Jazeera.

Dia menegaskan, Iran tidak akan memenuhi komitmennya jika Washington menghindari kewajibannya. Ancaman serupa juga dilontarkan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth.

“Presiden sudah menyatakan, kalau kami siap kem­bali menyerang kalau Iran tidak mematuhi apa yang sudah disepakati,” katanya, seperti dikutip dari Al Jazeera.

Berdasarkan teks yang beredar, Iran akan memperoleh keringanan sanksi untuk penjualan minyak dan pro­duk petroleum terkait. Ke­sepakatan itu juga membuka peluang pendanaan hingga USD 300 miliar untuk rehabilitasi dan pembangunan ekonomi Iran.

Salah satu poin penting dalam MoU adalah pembukaan kembali Selat Hormuz. AS setuju mencabut blokade angkatan laut di jalur pelayaran strategis tersebut. Draf kesepakatan juga menyebut penarikan pasukan Amerika dari wilayah sekitar dalam waktu 30 hari setelah kesepakatan final tercapai.

Menurut Baghaei, program nuklir Iran dan pencabutan sanksi AS akan menjadi agenda utama negosiasi me­nuju perjanjian final. Namun, program rudal balistik Iran berada di luar meja perundingan.

“Rudal Iran hanya untuk ditembakkan, bukan untuk negosiasi. Kemampuan pertahanan Iran tidak akan dibahas dalam proses apa pun dengan pihak mana pun,” ujarnya.

Baghaei juga menegaskan, Iran tidak akan mengirimkan cadangan uranium yang diperkaya ke luar ne­geri. Menurutnya, opsi pengenceran uranium hanya di­perkenalkan untuk menutup kemungkinan lain dalam pro­ses negosiasi.

Mengenai Lebanon, Ba­ghaei menyatakan, Iran tidak akan meninggalkan sekutunya. Dia menilai AS memiliki tanggung jawab untuk memastikan Israel mematuhi komitmen yang terkait dengan kesepakatan tersebut.

Di sisi lain, Iran juga mulai menyiapkan tata kelola baru di Selat Hormuz bersama Oman. Baghaei mengatakan, negaranya akan mengenakan biaya layanan bagi kapal-kapal yang melintasi jalur pelayaran strategis tersebut. (lyn/ttg/jpg)

Editor : Adriyanto Syafril
#rudal Iran #MoU Amerika Serikat Iran #perundingan Swiss #donald trump #program nuklir iran