Padek.JAWAPOS.COM -- Pertamina Patra Niaga membantah ada keterkaitan antara kabar sulitnya mendapatkan solar dengan persiapan implementasi biodiesel B50. BBM baru itu direncanakan mulai berlaku pada 1 Juli 2026.
Sekretaris Perusahaan Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun menyatakan, tidak ada pengurangan pasokan Biosolar menjelang penerapan B50. “Untuk pengurangan tidak ada karena itu BBM subsidi, penugasan pemerintah,” ujar Roberth kepada Jawa Pos (grup Padang Ekspres), Rabu (24/6).
Di sisi lain, tambahnya, perusahaan juga terus mempersiapkan implementasi program B50. “Ini menjadi kebijakan pemerintah untuk meningkatkan pemanfaatan bahan bakar nabati,” katanya.
Terpisah, saat berpidato di Puncak Pekan Nasional Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo kemarin (22/6), Presiden Prabowo Subianto menyatakan, bahwa Indonesia akan segera meluncurkan Biodiesel 50 (B50). Artinya, ada kewajiban mencampurkan 50 persen bahan bakar nabati berbasis sawit ke dalam solar.
Prabowo optimistis Indonesia tidak akan impor solar lagi. Bahan dari sawit yang digunakan juga berasal dari dalam negeri. “Kita akan menghemat banyak sekali,” bebernya.
Di Semarang, Area Manager Communication, Relation, and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah Taufiq Kurniawan mengatakan, pihaknya telah melakukan pengecekan langsung setelah video seorang sopir bus yang mengeluhkan sulitnya mencari solar beredar di berbagai platform.
“Saat ini tidak ada kelangkaan solar. Stok kami itu di angka 15 kali lipat konsumsi normal untuk solar sendiri. Untuk Pertamina Dex lebih tebal lagi, di angka 39 kali lipat konsumsi normal,” kata Taufiq kepada Radar Semarang Grup Jawa Pos (grup Padang Ekspres).
Video tersebut berisi keluhan seorang sopir bus yang kesulitan mendapatkan solar sejak dari Sragen, Jawa Tengah, sampai ke wilayah Yogjakarta. Sopir tersebut mengaku terpaksa membeli Pertamina Dex agar kendaraannya tetap bisa beroperasi.
“Setelah kami cek, video itu dibuat di Ambarketawang (Sleman, Yogjakarta, red) yang memang pada hari kemarin (Selasa, 23/6) terjadi peningkatan pengisian. Jadi, sempat ada penundaan pelayanan saat ada pengiriman BBM ke SPBU tersebut. Namun, setelah itu kembali landai,” jelasnya.
Menurutnya, pada hari yang sama SPBU Ambarketawang melayani pengisian armada Trans Jogja dalam jumlah cukup besar. Sementara itu, hasil pengecekan di Sragen juga menunjukkan stok solar dalam kondisi aman.
Sementara Cinatur sudah sejak pukul 08.00 kemarin (24/6) antre di SPBU di Jalan Perak Barat, Surabaya Utara. Namun, hingga jelang tengah hari, solar untuk truk yang disopirinya belum juga didapat.
Di belakang truknya yang diparkir di tepi jalan, ada empat truk yang menunggu. Di depannya ada satu truk lainnya.
“Saya rencananya hanya beli Rp 800 ribu saja untuk pulang-pergi,” ujar Cinatur kepada Jawa Pos saat menunggu plang solar habis di SPBU tempat dia mengantre dicabut kemarin (24/6).
Pria 32 tahun asal Tuban, Jawa Timur, itu hendak menyopiri kontainer 20 feet dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, menuju Bangil, Pasuruan, Jawa Timur. Namun, perjalanannya terhenti lantaran sejak Selasa (23/6) belum mendapat tambahan solar.
Budi, koordinator driver divisi pengisian solar dari salah satu perusahaan di Surabaya, juga terpaksa menggunakan motor untuk berkeliling ke setiap SPBU di sepanjang lintasan jalur logistik Surabaya.
“Ada 8 orang driver di tim saya yang belum terisi solar. Ada sisa 20 liter, tetapi kalau jalan tanpa kepastian bisa habis di jalan,” imbuhnya.
Setidaknya sejak Selasa (23/6), antrean panjang pembelian solar terlihat di berbagai kota di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Sejumlah kota di Sumatera bahkan dilaporkan telah mengalami kelangkaan itu sejak pekan lalu.
Riau Pos (grup Padang Ekspres) melaporkan, sampai kemarin, antrean kendaraan untuk mendapatkan solar masih terjadi di sejumlah SPBU Kota Pekanbaru. Seorang sopir truk, Anton, mengaku telah mengantre hampir tiga jam. “Saya sudah hampir tiga jam mengantre di sini, tapi belum juga dapat giliran mengisi solar,” ujarnya.
Begitu pula di Indragiri Hulu, Riau. “Kondisi mobil truk antre untuk mengisi BBM jenis Solar tidak saja terjadi di Riau, tapi juga di sejumlah provinsi tetangga,” ujar Manajer SPBU di Kelurahan Pangkalan Kasai, Kecamatan Seberida, Indragiri Hulu, Oxy Maryuanda, kemarin.
Pantauan Jawa Pos, pada Selasa (23/6) siang, dari lima SPBU di Surabaya Utara, hanya dua di antaranya yang melayani penjualan. Malam harinya, SPBU di Jalan Perak Barat yang sebelumnya kehabisan solar subsidi mulai melayani penjualan, namun hanya beberapa jam.
Bahkan bukan cuma solar. Mengutip Radar Jombang Grup Jawa Pos, sejumlah SPBU di Kabupaten Jombang kehabisan stok Pertalite kemarin (24/6). Pantauan sejak pagi menunjukkan SPBU Mojongapit, SPBU Tunggorono, hingga SPBU Desa Jatipelem, Kecamatan Diwek, memasang pemberitahuan stok kosong. Sementara itu, SPBU Jelakombo yang masih melayani pembelian Pertalite dipadati kendaraan hingga antrean mengular ke badan jalan.
Pengawas SPBU Mojongapit Andik Purnomo menyebut, yang terjadi bukan kelangkaan. “Tetapi kirimannya yang terlambat, terutama Pertalite dan solar,” ujarnya. (bry/zam/lyn/kap/riz/naz/ttg/jpg)
Editor : Adriyanto Syafril