Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Kemenhaj Imbau Tunda Umrah, Persiapan Haji 2026 Tetap Berjalan

Novitri Selvia • Senin, 2 Maret 2026 | 13:10 WIB

Ilustrasi haji. (jawapos.com)
Ilustrasi haji. (jawapos.com)

PADEK.JAWPAOS.COM-KEMENTERIAN Haji dan Umrah (Kemenhaj) menyampaikan imbauan penundaan pemberangkatan umrah.

Imbauan itu dikeluarkan menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah setelah serangan Israel dan Amerika Serikat (AS) ke Iran yang berbuntut serangan balik dari Teheran.

Wamenhaj Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan di Jakarta kemarin (1/3), imbauan itu merupakan bentuk kehati-hatian pemerintah dalam memastikan keamanan warga negara.

“Mempertimbangkan kondisi Timur Tengah yang tidak menentu dan eskalasinya semakin tinggi, kami mengimbau jamaah umrah yang akan berangkat dalam waktu dekat untuk menunda keberangkatannya,” jelasnya.

Kemenhaj bersama perwakilan Indonesia di Arab Saudi juga memantau proses pemulangan jemaah umrah di Jeddah.

Seluruh jamaah umrah yang saat ini berada di Arab Saudi beserta keluarga di Indonesia juga diminta agar tetap tenang dan tidak panik.

Kemenhaj bersama Kementerian Luar Negeri lewat perwakilan di Riyadh atau Jeddah terus berkoordinasi dengan otoritas setempat, maskapai penerbangan, serta travel umrah.

Tujuannya untuk memastikan jemaah yang mengalami penundaan penerbangan kepulangan dapat tertangani dengan baik.

“Jamaah yang tertunda kepulangannya dapat ditampung di hotel maupun tempat-tempat lain yang aman dan layak,” lanjutnya.

Terkait penyelenggaraan ibadah haji 2026, pemerintah memastikan bahwa hingga saat ini belum terdapat dampak terhadap persiapan yang sedang berjalan. Seluruh tahapan perencanaan dan koordinasi tetap berlangsung sesuai jadwal.

“Kami berharap kondisi segera normal dan semua pihak dapat menahan diri,” kata Dahnil.

Pemerintah memastikan bahwa situasi dan kondisi di dalam wilayah Arab Saudi hingga saat ini tetap aman dan terkendali. Aktivitas umum berjalan normal dengan peningkatan kewaspadaan sesuai standar keamanan yang berlaku.

Mengantisipasi potensi keterlambatan atau pembatalan penerbangan yang dapat menyebabkan jemaah umrah tertahan (stranded) di bandara, Kantor Urusan Haji (KUH) Jeddah bergerak cepat melakukan langkah-langkah mitigasi.

“KUH telah membentuk tiga tim yang bekerja dalam tiga shift dan disebar di tiga titik bandara,” kata Staf Teknis Urusan Haji KUH Jeddah Muhammad Ilham Effendy.

Dampak Transmisi Brent

Eskalasi konflik yang tengah terjadi di kawasan Timur Tengah dan potensi gangguan di Selat Hormuz dinilai kalangan pengusaha berpotensi meningkatkan biaya distribusi nasional dan mendongkrak harga barang di dalam negeri.

Founder dan CEO Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi menegaskan, Selat Hormuz dilalui sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia serta 20–25 persen perdagangan LNG global, sehingga setiap gangguan dapat mendorong kenaikan harga energi internasional.

Menurut Setijadi, dampak terhadap Indonesia akan terjadi melalui transmisi harga minyak global (Brent) ke harga solar domestik.

Solar merupakan komponen utama biaya operasional transportasi jalan yang masih menjadi tulang punggung sistem logistik nasional.

Dalam skenario moderat, kenaikan harga minyak global sebesar USD 25 per barel berpotensi mendorong kenaikan harga keekonomian solar sekitar Rp 750–2.000 per liter, tergantung kurs dan kebijakan penyesuaian harga.

Dalam skenario lebih berat dengan kenaikan hingga USD 50 per barel, tekanan terhadap biaya distribusi dapat meningkat lebih signifikan.

“Dengan asumsi komponen BBM mencapai sekitar 35–40 persen dari total biaya operasi truk, kenaikan harga solar 10 persen dapat mendorong kenaikan ongkos angkut sekitar 3,5–4 persen. Jika harga solar meningkat 20 persen, ongkos truk berpotensi naik 7–8 persen. Dalam skenario lebih berat, kenaikan solar 30 persen dapat memicu lonjakan ongkos angkut hingga 10,5–12 persen,” ujar Setijadi.

Setijadi menyebutkan, struktur logistik Indonesia yang masih bertumpu pada transportasi jalan membuat sensitivitas terhadap harga solar relatif tinggi.

Risiko terbesar adalah tekanan inflasi biaya distribusi, khususnya untuk komoditas pangan dan kebutuhan pokok.

“Industri berbasis impor bahan baku menghadapi risiko ganda, kenaikan biaya impor akibat lonjakan harga minyak dan peningkatan biaya distribusi domestik. Sektor konstruksi dan UMKM juga relatif rentan karena tingginya biaya angkut dan keterbatasan margin,” tambah Setijadi.

Senada, Dewan Penasihat CILT Indonesia sekaligus Ketua Dewan Pembina ALFI Yukki Nugrahawan Hanafi mengatakan, operasi militer AS–Israel terhadap Iran mengancam stabilitas politik dan ekonomi dunia, di mana secara spesifik dari sisi logistik dan rantai pasok dunia juga dipastikan bakal ikut terganggu.

Dampak langsungnya terlihat pada kenaikan harga minyak WTI dan Brent yang menyentuh masing-masing USD 67 dan USD 72,8 pada Sabtu lalu (28/2).

Selain itu, setidaknya terdapat enam negara utama eksportir minyak yang akan terdampak langsung jalur distribusinya apabila Iran memilih menutup Selat Hormuz: Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar, serta Iran sendiri.

Sebaliknya, disrupsi impor minyak berbagai negara seperti India, China, Jepang, dan kawasan Asia Tenggara yang berasal dari keenam negara utama juga bakal ikut terdampak. (wan/agf/lyn/ttg/jpg)

Editor : Novitri Selvia
#dahnil anzar simanjuntak #Selat Hormuz ditutup #Haji 2026 #Kemenhaj