Dalam surat pengunduran dirinya kepada Presiden AS Donald Trump yang diunggah melalui X, Kent menilai Iran tidak menimbulkan ancaman langsung bagi AS dan menyebut perang dimulai karena tekanan dari Israel.
"Dengan hati nurani yang bersih, saya tidak dapat mendukung perang yang sedang berlangsung di Iran. Iran tidak menimbulkan ancaman langsung bagi negara kita, dan jelas bahwa kita memulai perang ini karena tekanan dari Israel dan lobi kuatnya ke Amerika," ucapnya, dikutip dari Al Jazeera.
Kent menegaskan perbedaan sikapnya dengan kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump, yang sebelumnya telah berjanji mengakhiri keterlibatan militer AS di luar negeri. Ia menyebut perang di Timur Tengah sebagai jebakan yang menghilangkan nyawa patriot AS dan menggerus kemakmuran nasional.
Pengunduran diri ini menjadi yang paling menonjol dalam pemerintahan Trump sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari.
Dalam surat tersebut, Kent merujuk pada istilah “ancaman yang akan segera terjadi” (imminent threat), sebuah konsep krusial dalam hukum AS. Istilah ini menjadi syarat presiden untuk melakukan serangan militer tanpa persetujuan Kongres dan juga menjadi dasar legalitas serangan terhadap negara berdaulat dalam hukum internasional.
Mantan prajurit pasukan khusus Angkatan Darat AS dan CIA itu menegaskan bahwa syarat itu tidak terpenuhi dalam perang AS–Iran saat ini.
Dukungan Trump dan Latar Belakang Militer Kent
Trump sebelumnya telah menominasikan Kent sebagai Direktur NCTC setelah mendukung kampanyenya yang gagal menuju US House of Representatives.
Kent merupakan mantan Army Ranger dan anggota US Special Forces, dengan 11 penugasan tempur di Timur Tengah..
Ia menolak mendukung pengiriman generasi berikutnya ke perang yang disebutnya tidak memberikan manfaat bagi rakyat AS.
Kent juga menyampaikan kepada Trump apa yang telah dilakukan terhadap Iran. "Saya berdoa agar Anda merenungkan apa yang kita lakukan di Iran, dan untuk siapa kita melakukannya. Waktu untuk bertindak berani adalah sekarang. Anda dapat membalikkan arah dan merancang jalan baru untuk bangsa kita, atau Anda dapat membiarkan kita tergelincir lebih jauh menuju kemunduran dan kekacauan," ujarnya dikutip dari Independent.
Korban Perang dan Respons Pemerintah
Sejak perang dimulai, 13 tentara AS dilaporkan tewas. Sementara itu, korban tewas di Iran mencapai sedikitnya 1.444 orang, 20 korban di wilayah Teluk, dan 15 orang di Israel.
Dalam pernyataan resminya setelah konfirmasi Senat pada Juli, Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard memuji Kent sebagai sosok yang selalu mengutamakan negara di atas kepentingan pribadi dan menanggung pengorbanan besar dalam pengabdian publik.
Tanggapan Presiden Trump
Menanggapi pertanyaan tentang pengunduran diri direktur Pusat Kontraterorisme Nasional AS, Joe Kent, Trump mengatakan bahwa ia sangat lemah dalam hal keamanan.
“Ketika saya membaca pernyataannya, saya pikir itu hal yang baik dia keluar, karena dia mengatakan Iran bukanlah ancaman,” lanjut presiden.
“Setiap negara menyadari betapa besar ancaman Iran. Pertanyaannya adalah apakah mereka ingin melakukan sesuatu untuk mengatasinya," kata Trump.(*)