Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

SMP Negeri 30 Padang, Pembelajaran Menyenangkan Atasi Problematika Remaja di Era Digital

Novitri Selvia • Senin, 17 Maret 2025 | 16:00 WIB

SERIUS: Siswa SMPN 30 Padang terlihat serius dalam kegiatan pembelajaran yang dipandu guru mereka.(TIM LAMAN GURU)
SERIUS: Siswa SMPN 30 Padang terlihat serius dalam kegiatan pembelajaran yang dipandu guru mereka.(TIM LAMAN GURU)

PADEK.JAWAPOS.COM-Pesantren Ramadhan merupakan momen istimewa untuk meningkatkan keimanan dan pengetahuan agama. Di era digital ini, remaja menghadapi berbagai tantangan unik yang perlu diatasi.

Oleh karena itu, pembelajaran di pesantren Ramadhan 1446 H (2025 M) perlu dirancang secara menarik dan relevan, khususnya dalam membahas “Problematika Remaja di Era Digital”.

Sebagai guru atau ustaz/ustazah dalam kegiatan pesantern, khususnya para ustaz/ustazah yang bertugas di Musholah Sakinah Kompleks Cendana Andalas.

Kami selalu berusaha menggunakan berbagai strategi dan media pembelajaran yang menarik untuk melibatkan santri secara maksimal dalam proses pembelajaran.

Materi “Problematika Remaja di Era Digital” misalnya, disampaikan melalui diskusi kelompok berbasis studi kasus.

Pertama, ustaz/ustazah menyiapkan studi kasus tentang perilaku negatif yang sering dihadapi remaja, seperti merokok, narkoba, game online, judi online, bullying, tawuran, pergaulan bebas, dan LGBT.

Kedua, setiap kelompok mendapat satu kasus untuk dianalisis. Ketiga, Sediakan pertanyaan pemantik/panduan diskusi yang mencakup:

(1) Analisis penyebab dan dampak kasus. (2) Solusi atau jalan keluar dari kasus tersebut. (3) Peran remaja dalam mencegah dan mengatasi masalah serupa. (4) Ayat-ayat Al-Quran yang relevan dengan kasus tersebut.

Dengan metode ini para santri merasa tertantang dan bersemangat dalam proses belajar.

Selain itu para santri dapat mengeluarkan pendapat dan ide cemerlang mereka.

Selanjutnya, ustaz/ustazah juga dapat memanfaatkan Media Visual dan Interaktif. Meggunakan video, infografis, atau presentasi interaktif untuk menjelaskan dampak negatif teknologi.

Manfaatkan platform digital untuk kuis atau permainan edukatif tentang etika bermedia sosial.

Kemudian dilakukan sesi Ceramah Interaktif dan Sharing Session. Seperti menyelingi ceramah dengan sesi tanya jawab dan diskusi.

Melalui pendekatan ini, diharapkan santri dapat: (1) Memahami dampak negatif teknologi terhadap remaja. (2) Mengembangkan kesadaran kritis terhadap konten digital.

(3) Meningkatkan pemahaman tentang nilai-nilai agama sebagai benteng diri. (4) Mampu menjadi agen perubahan positif di lingkungan mereka.

Pembelajaran yang menyenangkan dan relevan menjadi kunci keberhasilan pesantren Ramadhan dalam membekali remaja dengan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan di era digital.

Strategi seperti diskusi kelompok berbasis studi kasus, pemanfaatan media visual dan interaktif, serta sharing session terbukti efektif dalam menarik minat dan perhatian santri.

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas, mari kita simak langsung tanggapan dari beberapa santri tingkat SMP tentang pengalaman belajar mereka di pesantren Ramadhan tahun ini di Musholah Sakinah Kompleks Cendana Andalas.

Aisyah santri berkacamata ini berpendapat: “Wah, seru banget deh pesantren kali ini! Biasanya kan ceramah terus, bikin ngantuk.

Tapi sekarang, kita diajak diskusi tentang masalah remaja zaman sekarang. Kayak kasus bullying di media sosial, atau kecanduan game online. Kita jadi mikir, oh ternyata ada ayat Al-Quran yang ngatur soal itu.

Terus, ustazah juga pakai video dan gambar-gambar yang keren, jadi nggak bosen.”

Lain lagi dengan Budi, santri yang berasal dari SMP Negeri 30 Padang ini mengatakan: “Awalnya sih agak males pas tahu ada sesi diskusi kelompok.

Tapi pas dikasih kasus tentang pergaulan bebas, langsung pada heboh! Kita jadi bisa tukar pikiran, ngasih pendapat masing-masing.

Terus, pas nyari ayat Al-Quran yang nyambung sama kasusnya, jadi kayak detektif gitu. Seru!”

Begitu juga dengan Siti, Santri yang paling jago hafalan ayat-ayat pendek ini juga menyatakan bahwa: “Aku paling suka pas sesi sharing sama ustazah. Beliau cerita pengalaman beliau pas remaja, terus gimana cara ngadepin masalah.

Jadi kayak curhat gitu, tapi tetep ada ilmu agamanya. Terus, pas kuis online pakai handphone, itu juga seru banget! Soalnya soalnya tentang etika bermedia sosial, jadi kita bisa belajar sambil main”.

Beda lagi dengan Ridwan, santri yang suka tantangan ini menyatakan bahwa: “Pas kasus tentang judi online, kelompok kita langsung pada debat.

Soalnya ada yang pro, ada yang kontra. Tapi akhirnya kita bisa nemuin solusi yang adil, sesuai sama ajaran Islam.

Terus, pas presentasi hasil diskusi, setiap kelompok punya gaya masing-masing. Ada yang pakai drama, ada yang pakai pantun. Kreatif banget!”.

Dari tanggapan para santri, terlihat bahwa pembelajaran yang menyenangkan dan interaktif, seperti diskusi kelompok berbasis studi kasus, pemanfaatan media visual dan interaktif, serta sharing session, sangat efektif dalam menarik minat dan perhatian mereka.

Metode-metode ini tidak hanya membuat pembelajaran menjadi lebih menyenangkan, tetapi juga membantu santri untuk memahami dan menginternalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan pembelajaran yang menyenangkan dan relevan, pesantren Ramadhan 1446 H (2025 M) dapat menjadi wadah efektif untuk membekali remaja dengan pengetahuan dan keterampilan yang mereka butuhkan untuk menghadapi tantangan era digital.

Oleh karena itu, mari kita bersama-sama berinovasi dan berkreasi dalam menyajikan pembelajaran yang menarik dan bermakna bagi para santri, agar mereka dapat menjadi generasi muda yang berakhlak mulia dan siap menghadapi tantangan zaman. (Zahratil Husna, GURU SMPN 30 PADANG)

Editor : Novitri Selvia
#pembelajaran interaktif #Pembelajaran Menyenangkan #problematika remaja #SMP Negeri 30 Padang #pesantren ramadhan #Zahratil Husna #santri #era digital